Selasa, 25 Juli 2023

Pesan Hijrah Nabi: Bangkitkan Thariqah!


 


Sebagaimana diketahui, perayaan tahun baru hijriyah sebetulnya merupakan momen memperingati sebuah peristiwa penting dalam sejarah peradaban Islam. Itulah peristiwa hijrah Rasulullah Saw. dari Makkah menuju Madinah, yang kemudian seusainya mulailah kalender Islam itu ditetapkan. Peristiwa bersejarah tersebut sungguh meninggalkan pesan-pesan berharga, baik intelektual, moral maupun spiritual.


Yang paling prinsip adalah ketika Rasulullah Saw. menyatakan: “Barangsiapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa berhijrah untuk memperolah dunia ataupun mengejar wanita, maka hijrahnya kepada apa yang ditujunya itu.” (HR. Bukhari)


Hadits di atas menekankan bahwa tujuan semestinya dari hijrah -yang juga tentunya menjadi tujuan ibadah secara umum- adalah semata-mata untuk menggapai ridho Allah dan Rasul-Nya. Bukan untuk meraih jabatan, kekayaan, jodoh atau kenikmatan duniawi lainnya, termasuk kekebalan, kesaktian, kedigdayaan dan semacamnya. Dan itulah ajaran inti nan murni tasawuf serta thariqah yang menjadi fokus para wali mursyid sepanjang masa, yakni kezuhudan dari cinta dunia serta ketekunan beribadah untuk mendekatan diri kepada Allah semata, dengan spirit Ilahi Anta maqshudi wa ridha-Ka mathlubi (Tuhanku, Engkaulah tujuanku, dan ridho-Mu lah permohonanku).


Di dalam al-Qur’an juga ditegaskan, “Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya. Dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (QS. asy-Syura: 20)


Dan dalam hadits lain, Rasulullah Saw. menyebutkan: “Orang yang berhijrah (sejatinya) adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari) Yang dimaksud dengan apa-apa yang dilarang oleh Allah di sini adalah perbuatan-perbuatan dosa. Sementara, sumber segala dosa tiada lain adalah cinta dunia (HR. Baihaqi). Dengan demikian, apabila seseorang mengamalkan thariqah sebagai misi membersihkan hati dari ketergila-gilaan pada dunia, maka dialah muhajir sejati yang meninggalkan larangan-larangan-Nya untuk menempuh jalan pintas menuju rahmat dan ridho-Nya.


Selepas kembali ke Makkah seraya membebaskannya, Rasulullah Saw. pun bersabda: “Tiada lagi hijrah setelah pembebasan Makkah, melainkan jihad dan niat.” (HR. Bukhari dan Muslim) Sementara, jihad yang paling utama tiada lain adalah jihad qolbu melawan hawa nafsu (HR. al-Baihaqi dan al-Khathib al-Baghdadi). Nah, di sini pula peran penting sebuah thariqah, karena seseorang yang bersuluk dalam thariqah sesungguhnya ia tengah berjuang memerangi hawa nafsunya, dengan bimbingan intens dari mursyidnya serta resep amalan yang ampuh untuk dijalankannya.


Beberapa abad pasca pembebasan Makkah, Imam Sholahuddin al-Ayyubi kemudian berhasil membebaskan Palestina. Rahasia kemenangannya pun terungkap. Dalam konferensi sufi internasional di Mesir, Oktober 2011 silam, Rektor Universitas al-Azhar periode 1995-2003, Prof. Dr. Ahmad Umar Hasyim mengingatkan bahwa Imam Sholahuddin al-Ayyubi sempat mengurungkan perjalanan jihadnya untuk membebaskan Palestina. Ketika itu, seorang sufi berpesan kepadanya: “Pulanglah beserta pasukanmu, karena kalian tidak akan berhasil membebaskan Palestina. Bagaimana kalian dapat membebaskannya, sementara hati kalian saja belum terbebas dari jajahan nafsu durjana!.” Imam Sholahuddin al-Ayyubi pun kembali beserta pasukannya untuk menghidupkan majelis-majelis zikir guna membebaskan hati dari jajahan musuh paling nyata. Hingga pada akhirnya Yerusalem merdeka, namun di tangan mereka yang berhati merdeka.


Alhasil, melalui thariqah, seorang hamba dapat fokus dan lebih terarah dalam mengimplementasikan pesan-pesan spiritual hijrah Rasulullah Saw. Tak heran, sebab target utama thariqah adalah hati, yang mana jika ia membaik maka membaiklah segalanya. Bagaimana tidak, sebab thariqah merupakan produk asli para kekasih Allah yang telah sukses berhijrah ruhiyah menuju ridho Ilahi nan cinta abadi-Nya. Wajar saja, Syekh Muhammad Zakiyuddin Ibrahim (1916-1998) dalam kitab Kalimah ar-Ra’id menegaskan:


إِنَّ الْعِلَاجَ الْوَحِيدَ لِكُلِّ الْأَمْرَاضِ النَّفْسِيَّةِ وَالْاِجْتِمَاعِيَّةِ وَالْوَطَنِيَّةِ لَا يُوجَدُ أَبَدًا إِلَّا عِنْدَ التَّصَوُّفِ.


“Sungguh, terapi/solusi satu-satunya bagi segala penyakit/problematika individu, sosial maupun nasional/kebangsaan, selamanya tidak akan ditemukan kecuali pada ilmu tasawuf (melalui thariqah).”


Penulis merupakan Mudir Awal Idarah Syu’biyah JATMAN Lombok Timur

Selasa, 18 Juli 2023

Khalwat dan Uzlah Sebagai Terapi Ruhani




Dalam ilmu tasawuf kita telah mengenal istilah khalwat dan uzlah yang merupakan dua kedudukan ruhani salik (maqamat) yang saling menyertai.

Khalwat dan uzlah adalah salah satu praktik dalam tarekat Sufi. Adapun tarekat itu jalan seseorang untuk menuju Allah di bawah bimbingan mursyid dengan mengamalkan segala ketentuan syariat untuk sampai kepada hakikat, yaitu Hadrat Ilahiyyah.

Syekh Ahmad Zarruq dalam Qawa’id al-Tashawwuf menyatakan bahwa, “Khalwat lebih spesifik dari uzlah, khalwat tidak dilakukan di dalan masjid, meskipun ada juga khalwat dilakukan dalam masjid.”

Khalwat dan uzlah tidak seperi yang dipahami oleh masyarakat awam yaitu dengan menyendiri di padang pasir, hutan belantara dan gua-gua ataupun meninggalkan dan memutuskan interaksi sosial dalam masyarakat. Adapun makna Khalwat dan uzlah sebagai mana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Raudhah ath-Thalibin,

“Khalwat itu dengan hati sehingga ia tenggelam sepenuhnya bersama Allah. Hatinya itikaf, terpesona, dan rindu kepada-Nya, seraya meyakini seakan-akan Dia hadir di hadapannya.”

“Seseorang mengatakan bahwa prinsip pertama ketika suluk hendaknya memperbanyak zikir (zikir yang di talqin oleh mursyid) dengan hati dan lidah, hingga zikir itu mengalir ke seluruh tubuh dan otot-otot. Lalu, zikir itu beralih ke hati. Saat itulah lidahnya diam dan hatinya tetap berzikir dengan mengucapkan الله الله الله dalam hati tanpa melihat zikirnya. Kemudian hatinya, diam dan tetap melihat apa yang ia cari. Ia tenggelam dalam itikaf kepada-Nya, terpesona dan menyaksikan-Nya. Lantas haibah (hilang) dari dirinya karena Musyahadah al-Haq (menyaksikan) ia fana dari kulliyat (keseluruhan) dirinya karena kulliyat-Nya, hingga seolah-olah ia di Hadhrat-Nya, sebagaimana Firman-Nya, ” kepunyaan siapakah kerajaan hari ini? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa Lagi Maha Mengalahkan, ” (QS. Ghafir: 16).”

“Ketika itu Allah ber-tajalli menuju hatinya hingga ia bergetar dan asyik (terpesona) karena mengalami kemabukan dan hudhur mengagungkan. Hatinya tak bisa lagi menampung, selain tujuannya yang paling Agung, seperti dikatakan, ” Orang-orang yang sampai kepada ahlu al-hudhur tak membutukan selain Syuhud-Nya. Allah berfirman, “Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan, ” (QS. Al-Buruj: 3).

Imam Al-Qusyairiy dalam Risalah Al-Qusyairiyah sendiri menjelaskan bahwa khalwat (menyendiri pengaruh duniawi) adalah sifat Ahlu Tasawuf. Sedangkan Uzlah (mengasingkan diri) adalah lambang orang yang wushul kepada-Nya. Khalwat sangat diperlukan bagi murid pada awal kondisi Ruhaniyahnya. Sedangkan Uzlah pada akhir kondisi Ruhaniya, karena telah mencapai keakraban Ruhaniyahnya.

Adab uzlah harus dilandaskan dengan ilmu tauhid Irfani untuk memantapkan tauhidnya agar setan tidak menggodanya. Ia juga harus diperkuat dengan ilmu syariat agar segala urusannya berada di atas dasar pondasi yang kokoh.

Sesungguhnya uzlah adalah menjauhi sifat-sifat keburukan, mengubah sifat buruk itu, bukannya menjauhkan diri lewat jarak tempat. Itulah sebabnya mengapa lahir pertanyaan, “Siapakah orang Arif Billah itu?” Mereka menjawab, “Orang-orang yang secara jelas bersama makhkuk, namun jauh dari mereka dengan segala sirri (rahasianya).”

Syekh Abu Yazid Al-Busthami mengatakan, “Aku melihat Tuhan dalam mimpi. Lalu aku bertanya, ‘Bagaimana aku harus menjumpai-Mu? Tuhan menjawab, ‘Tinggalkan keakuan dirimu dan kemarilah’.”

Hubungan interaksi dengan masyarakat sangat mempengaruhi kondisi batin bagi pemula para ahli tarekat atau para salik tingkat mubtadi (awal). Selama ia belum dapat benar-benar wushul dan makrifat kepada Allah. Maka selama  masa khalwat dan uzlah para salik tingkat mubtadi selalu senantiasa istiqamah ber zikir, riyadhah dan mujahadah. Hal ini wajib di bawah bimbingan mursyid. Di samping patuh dan menjaga adab terhadap mursyid, supaya cahaya-cahaya makrifat mursyid mengalir kepada salik.

Khalwat dan uzlah sebagai salah satu bentuk terapi ruhani, agar fisik, hati, nafsu dan ruhnya tetap bersama Allah dalam segala waktu. Kalau tidak sudah tentu hati dan nafsu salik akan terpengaruh dari perkara-perkara duniawi yang dapat menjadi tabir penghalang untuk wushul kepada Allah.

Syekh  Sayyidi Abdul Qadir Isa Al-Hallabi Asy-Syadzili mengatakan bahwa ada dua macam Khalwat, yaitu khalwat umum dan Khalwat khusus.

Khlawat umum adalah seorang mukmin yang menyepikan dirinya untuk berzikir kepada Allah Ta’ala dengan lafal apa saja, atau untuk membaca Al-Qur’an atau untuk melakukan muhasabah atau untuk bertafakur tentang penciptaan Langit dan bumi. Sedangkan khalwat khusus bertujuan untuk sampai ke maqam Ihsan dan makrifat. Khalwat tingkatan ini tidak dapat dilakukan tanpa bimbingan seorang Murysid yang Arif Billah. Dialah yang mendiktekan lafal zikir tertentu kepada muridnya. Lalu dia terus menjaga hubungan dengan muridnya untuk menghilangkan keraguan yang ada dalam hatinya. Mursyid juga perlu memotivasi agar sampai ketingkatan makrifat, melenyapkan segala hijab dan bisikan dalam jiwa dan membawanya dari alam Khalqiyah ke alam Uluhiyah.

Seorang murid tidak boleh beranggapan bahwa khalwat adalah akhir pendakian (Manazil). Khalwat tidak lain hanyalah langkah awal dalam perjalanan menuju Allah. Setelah melakukan Khalwat pertama, seorang murid dituntut untuk melakukan khalwat-khalwat berikutnya. Dia juga harus melakukan mujahadah yang panjang dan muzakarah secara terus-menerus bersama mursyidnya dengan penuh semangat, jujur dan istiqamah.

Selain itu, seorang murid terus melakukan zikir dengan Isim Ismu Dzat الله الله الله pada pagi dan petang hari, serta pada waktu luang yang dimilikinya, sehingga ia dapat berinteraksi secara terus menerus dengan Allah. Dengan demikian, dia telah menggabungkan dua tingkatan Ihsan, yakni muraqabah dan musyahadah sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi Muhammad saw. dalam sabdanya, “Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Sekiranya engkau tidak melihat-Nya, maka Allah melihatmu.” (HR. Bukhari).

Dengan demikian dapat dipahami, khalwat adalah memutuskan hubungan dengan manusia dan meninggalkan segala aktivitas duniawi untuk tertentu, agar hati dapat dikosongkan dari segala aktivitas hidup yang tidak ada habisnya dan akal dapat beristirahat dari kesibukan sehari-hari yang tidak ada ujungnya. Selain itu, khalwat adalah zikir kepada Allah dengan hati yang hadir dan khusyuk, serta tafakur tentang nikmat dan karunia-Nya di waktu siang dan malam hari. Yang demikian ini dilakukan oleh murid dibawah bimbingan seorang Murysid yang makrifat kepada Allah, yang dapat mengajarinya apabila dia tidak tahu, mengingatkannnya apabila dia lalai, memotivasinya apabila dia malas, dan membantunya untuk mengatasi segala gangguan  dan apa-apa yang terlintas dalam hatinya

Sumber:
Kitab Raudhat ath-Thalibin wa Umdatu Salikin, dalam Majmu Rasa’il Al-Ghazali, Maktabah Al-Tawfikiyah, Al-Qaherah
Kitab Risalah Al-Qusyairiyah fi ilm Al-Tashawwuf, Maktabah Al-Tawfikiyah Al-Qaherah
Kitab Haqa’id at-Tashawwuf, Dar At-Taqwa, Damaskus

Penulis: Budi Handoyo
Editor: Khoirum Millatin

Pengaruh Suluk terhadap Akhlak dengan Bimbingan Syekh Kamil Mukammil



Tidak ada seorangpun manusia yang tidak melakukan kesalahan dan dosa. Untuk itu, siapapun yang menghendaki kehidupan yang baik selama dunia maupun di akhirat, maka ia harus ruju’ atau kembali dan bertaubat kepada Allah Swt. dari semua kesalahan tersebut, baik dosa zahir maupun dosa batin,

Allah Swt. berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (Al-Baqarah: 222)

Salah satu cara kembali kepada Allah adalah melalui suluk. Suluk adalah berjalan menuju Allah Swt. dengan mengharapkan kasih sayang-Nya.

Dalam suluk murid dianjurkan untuk tidak banyak berbicara, bahkan dibatasi jumlah perkataannya.

Selain itu murid hanya boleh bertanya untuk hal yang sangat penting, tidak mendengar hal-hal yang tidak bermanfaat, mengurangi tidur dan mengurangi makan serta memperbanyak zikir siang dan malam.

Dengan mengurangi banyak bicara, maka qalb akan semakin ‘hidup’ dan terkoneksi dengan Allah Swt. siang dan malam. Hasilnya, akan semakin mudah bagi kita berkomunikasi dengan Allah Swt. lewat zikir yang intensif.

Suluk merupakan sekolah ruhani yang resmi dari Allah Swt. untuk manusia dengan begitu sempurnanya, atas hasil riset dari para Nabi dan kemudian disempurnakan oleh para Wali, mengikuti perkembangan zaman dan sesuai dengan kebutuhan manusia di zamannya. Lewat suluk ruhani murid dinaikkan secara bertahap dari satu maqam ke maqam berikutnya sampai mencapai tahap makrifat yang sempurna, yaitu memandang Wajah Allah Swt. Yang Maha Agung dan Maha Sempurna.

Siapa yang bisa menuntun ruhani murid demikian sempurnanya? Ia adalah Mursyid yang Kamil Mukammil yang dalam dirinya telah bersemayam Arwahul Muqaddasah Rasulullah saw. yang bisa mensucikan seluruh ruhani orang-orang yang bersama dengannya.

Suluk juga melatih murid untuk disiplin dalam ibadah dan menumbuhkan rasa persaudaraan di antara pelaku suluk. Keakuan dan kesombongan secara perlahan akan memudar karena semua diperlakukan dengan sama tanpa memandang status sosial dan pangkat duniawi yang disandangnya. Suluk adalah sarana paling ampuh untuk membina ukuwah Islamiah, mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri seperti yang disampaikan Nabi Muhammad saw. dalam hadistnya,

Maka, jika seorang hamba telah jenuh dengan rutinitas dunia dan segudang masalah yang tersimpan di memori otak sulit terhapus serta gairah hidup semakin menurun, maka suluk adalah solusi yang tepat untuk men-charger kembali energi hidup, sehingga setelah keluar dari suluk, akan menjadi pribadi yang benar-benar baru, penuh semangat serta dapat menelusuri kehidupan dunia dengan tanpa keraguan.

Suluk pada intinya adalah memperbaiki akhlak dan tingkah laku, memperkuat keyakinan akan kesadaran keberadaan Tuhan, kehendak Tuhan dan juga kehendak jiwa serta menyadari kedudukan hamba. Suluk tidak akan terlepas dari proses mensucikan jiwa yang bersinggasana dalam hati seseorang.

Penulis: Tgk Selamet Ibnu Ahmad (Pembantu Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia MPTT-I Kec. Wih Pesam, Bener Meriah, Pimpinan Iqadzhul Ummah Alwaliyah)
Editor: Khoirum Millatin

Senin, 17 Juli 2023

Amalan Tahun Baru




MENYAMBUT TAHUN BARU ISLAM

Jangan lupa pada hari Selasa dan Malam Rabu
Setelah Shalat Ashar adalah penghujung akhir bulan Dzul Hijjah (Akhir Tahun Hijriyah) dianjurkan membaca Do’a Akhir Tahun.
Namun sebelum Do’a Akhir Tahun terlebih dahulu membaca:

1 Sayyidul Istighfar 3 kali

اَللّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ ×٣

2 Shalawat Nabi 11 kali

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ×١١

3 Ayat Kursi 7 kali

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمٰوَاتِ وَمَا فِي اْلاَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ ×٧ /٣١٣

4 DO’A AKHIR TAHUN HIJRIYAH 

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ 
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ 
مِمَّا نَهَيْتَنِي عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَنَسِيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جَرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِي 
وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللّهُمَّ يَا كَرِيْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّي وَلاَ تَقْطَعْ رَجَائِي مِنْكَ يَا كَرِيْمُ. 
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ×٣

Setelah Shalat Maghrib (Tanggal 1 Muharram) dianjurkan membaca Do’a Awal Tahun.
Namun sebelum membaca Do’a Awal Tahun terlebih dahulu membaca:

1 Shalawat Nabi 11 kali
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ×١١

2 Baqiyatus Shalihat 3 kali
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ  ×٣

3 DO’A AWAL TAHUN HIJRIYAH 

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللّهُمَّ أَنْتَ اْلأَبَدِيُّ اْلقَدِيْمُ اْلاَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَجُوْدِكَ الْمُعَوَّلِ وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَاءِهِ وَجُنُوْدِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ اْلأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَاْلإِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ زُلْفٰى يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ. يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ٣×

Setelah Berdo’a disarankan (Bagi yang mampu) pada malam 1 Muharram untuk membaca Ayat Kursi 360 kali (Tidak harus selesai dalam satu Majelis) sebagai benteng dari setan selama satu tahun, kemudian membaca bacaan berikut 300 kali:

اَللّهُمَّ يَا مُحَوِّلَ اْلأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالِي إِلَى أَحْسَنِ اْلأَحْوَالِ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا مُتَعَالُ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلم  {× ٣٠٠}

“Ya Allah Zat pemindah berbagai kondisi, pindahlah kondisiku pada kondisi terbaik dengan daya dan kekuatan-Mu, wahai Zat Yang Maha Agung dan Maha Tinggi. Semoga  Allah Ta’ala melimpahkan shalawat dan keselamatan kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.” 300×

Wassalam Ustdz Drs Muhammad Daud 

Kamis, 08 Juni 2023

KENANGAN DARI MANTAN REKTOR ITS

"KENANGAN DARI MANTAN REKTOR ITS"

SEORANG SARJANA S3, SUDAH JADI DOKTOR ATAU PROFESOR, DIA RELA MENINGGALKAN PEKERJAAN DUNIANYA, HANYA DEMI MONDOK UNTUK MEPELAJARI AL-QUR'AN DAN MENGHAFALKAN AL-QUR'AN 30 JUZ

PADAHAL GAJI NYA BESAR

DAN UMURNYA JUGA SUDAH LUMAYAN TUA, TAPI MASIH MAU BELAJAR MENDALAMI AL-QUR'AN

BELIAU MEMILIH UNTUK MONDOK BELAJAR AL-QUR'AN SEBAGAI PERSIAPAN MENGHADAP ALLAH NANTI

Tulisan Rektor ITS, Prof Joni Hermana di wall FB nya

Coba simak kutipan inspiratif di bawah ini yang menggugah...

Dulu di kala aku kecil, aku selalu mendapat peringkat 1 baik di tingkat SD, SMP, maupun SMA... Semua merasa senang, ibu dan ayah pun selalu memelukku dengan bangga. Keluarga sangat senang melihat anaknya pintar dan berprestasi. Aku masuk perguruan tinggi ternama pun, tanpa embel-embel test. Orang tua dan teman-teman lku merasa bangga terhadap diriku. Tatkala aku kuliah IPK ku selalu 4 dan lulus dengan predikat cum laude. 


Semua bahagia, para Rektor menyalami ku dan merasa bangga memiliki mahasiswa seperti diriku, jangan ditanya tentang orang tuaku, tentunya mereka orang yang paling bangga, bangga melihat anaknya lulus dengan predikat cum laude. Teman-teman seperjuangan ku pun gembira. Semua wajah memancarkan kebahagiaan.

Lulus dari perguruan tinggi aku bekerja di sebuah perusahaan Bonafit. Karirku sangat melejit dan gajiku sangat besar. Semua pun merasa bangga dengan diriku, semua rekan bisnisku selalu menjabat tanganku, semua hormat dan mnghargai diriku, teman-teman lama pun selalu menyebut namaku sebagai sslah satu orang sukses. 

Namun ada sesuatu yang tak pernah kudapatkan dalam perjalanan hidup ku selama ini. Hatiku selalu kosong dan risau. Perasaan sepi selalu memghantui hari-hariku. Ya.. aku terlalu mengejar duniaku dan mengabaikan akhiratku... 

Aku sedih...........

Ketika aku berikrar untuk berjuang bersama barisan Pembela Rasulullah SAW. dan kubuang segala title keduniaanku kutinggalkan duniaku untuk mengejar akhirat dan ridha-Nya. Seketika itu pula dunia terasa berbalik. 

Yaa...Dunia seperti berbalik. Ku putuskan untuk merantau dan memilih mempelajari ilmu Al-Qur'an dan hadist dan kuhafalkan Al-Qur'an 30 juz.

Semua orang mencemooh dan memaki diriku. Tak ada lagi pujian, senyum kebanggaan, peluk hangat dll. Yang ada hanyalah cacian... Terkadang orang memaki diriku, buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya masuk pesantren dia itu orang bodoh... 

Udah punya pekerjaan enak ditinggalin... Berbagai caci dan maki tertuju pada diriku, bahkan dari keluarga yangg tak jarang membuat diriku sedih... 😪

"Apa ada lulusan perguruan tinggi terkenal masuk pondok tahfidz...? Ga sayang apa udah dapst kerja enak, mau makan apa dan dari mana lagi...?

Kata mereka... Ya..., pertanyaan-pertanyaan itu terus menyerang dan menyudutkan diriku.

Hingga suatu ketika

Ketika fajar mulai menyingsing ku ajak ibu untuk shalat berjamaah di masjid, masjid tempat dimana aku biasa menjadi imam. Ini adalah shalat shubuh yang akan selalu ku kenang. Ku angkat tangan seraya mengucapkan takbir. Allaaahuu akbaar..._ku agungkan Allah dengan seagung-agungnya. Ku baca doa iftitah dalam hati ku, berdesir hati ini rasanya... Kulanjutkan membaca... Al-Fatihah 

Bismillahirrahmaanirrahiiim, (sampai disini hati ku bergetar), ku sebut nama-Nya yang maha pengasih dan maha penyayang... Alhamdulillahirabbil alamiin... Ku panjatkan puji-pujian untuk Rabb semesta alam.. Kulanjutkan bacaan lamat-lamat, ku hayati surah Al-Fatihah dengan seindah-indahnya taddabur, tanpa terasa air mata jatuh membasahi wajahku... Berat lidah ku untuk melanjutkan ayat, Arrahmaanirrahiim, ku lanjutkan ayat dengan nada yang mulai bergetar.... Malikiyaumiddin, kali ini aku sudah tak kuasa menahan tangisku. Iyyaka na'budu wa iyyaka nastaiin, "yaa Allah hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan." Hati ku terasa tercabik², sering kali diri ini menuntut kepada Allah untuk memenuhi kebutuhanku, tapi aku lalai melaksanakan kewajibanku kepada-Mu... Sampai lah aku pada akhir ayat dalam surah Al-Fatihah. Ku seka air mata dan ku tenangkan sejenak diriku.

Selanjutnya aku putuskan untuk membaca Surah Abasa. Ku hanyut  dalam bacaan ku, terasa syahdu, hingga terdengar isak tangis jamaah sesekali. Bacaan terus mengalun, hingga sampai lah pada ayat 34. Tangisku memecah sejadi-jadinya.

Yauma yafirrul mar'u min akhii, wa ummihii wa abiih, wa shaahibatihi wa baniih, likullimriim minhum yauma idzin sya'nuy yughniih... Tangisku pun memecah, tak mampu ku lanjutkan ayat tersebut, tubuhku terasa lemas... 

Setelah shalat shubuh selesai, dalam perjalanan pulang, ibu bertanya:  "mengapa kamu menangis saat membaca ayat tadi, apa artinya...?" Aku hentikan langkahku dan aku jelaskan pada ibu. Kutatap wajahnya dalam-dalam dan aku berkata: 

Wahai ibu...

Ayat itu mnjelaskan tentang huru hara padang mahsyar saat kiamat nanti, semua akan lari meninggalkan saudaranya... Ibunya... Bapaknya... Istri dan anak-anaknya.. Semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing.

Bila kita kaya orang akan memuji dengan sebutan orang yang berjaya..., Namun ketika kiamat terjadi apalah gunanya segala puji-pujian manusia itu... Semua akan meninggalkan kita. Bahkan ibupun akan meninggalkan aku... 

Ibu pun meneteskan air mata, ku seka air matanya... Ku lanjutkan, Aku pun takut bu bila di Mahsyar bekal yang ku bawa sedikit.. Pujian orang yang ramai selama bertahun-tahun pun kini tak berguna lagi... Lalu kenapa orang beramai-ramai menginginkan pujian dan takut mendapat celaan. Apakah mereka tak menghiraukan kehidupan akhiratnya kelak...?

Ibu kembali memelukku dan tersenyum. Ibu mengatakan, betapa bahagianya punya anak seperti dirimu... Baru kali ini aku merasa bahagia, karena ibuku bangga terhadap diriku... Berbagai pencapaian yang aku dapat dulu, walaupun ibu sama memeluk ku namun baru kali ini pelukan itu sangat membekas dalam jiwaku.

Wahai manusia sebenarnya apa yang kalian kejar..?

Dan apa pula yang mngejar kalian..?

Bukankah maut semakin hari semakin mendekat...?

Dunia yang menipu jangan sampai menipu dan membuat diri lupa pada negeri akhirat kelak...

Wahai saudara-saudaraku, apakah kalian sadar nafas kalian hanya beberapa saat lagi...? Sebelum lubang kubur kalian akan digali.. Apa yang aku dan kalian banggakan di hadapan Allah dan Rasul-Nya kelak...?

Wallahu a'lam...

Catatan :

Jika antum mau share niatkanlah dengan baik mudah-mudahan bisa jadi obat bagi masalah Anda dan kita semua.....

Aamiin 3x Yaa Robbal 'aalamiin..

Prof  Dr Ir Joni Hermana adalah alumni ITB ( TL'80 )


Rabu, 03 Mei 2023

Sholawat Thoriqoh

 


Allahumma shalli wasallim ‘ala ۞ Muhammadin wa alin washahbin ajma’in.

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqan minallahi Rabbil ‘alamin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan dari Allah Tuhan semesta alam)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqan min ruhi Jibrilal matin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan dari Malaikat Jibril al-Matin)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal anbiya-i wal mursalin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para nabi dan rasul)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqassyuhada-i wal mujahidin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para pahlawan dan pejuang)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal khulafa-i warrasyidin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para Khulafaur Rasyidin)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal ‘ulama-i wal ‘amilin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para ulama dan pengamal)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal auliya-i wal mukhlishin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para wali dan orang-orang yang ikhlas)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqassu’ada-i wal fa-izin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang menang dan bahagia)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal atqiya-i wasshalihin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang bertaqwa dan shaleh)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal budala-i wal qanithin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para wali abdal dan ahli ibadah)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal ashfiya-i wadzdzakirin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para sufi dan ahli dzikir)

Rabu, 19 April 2023

Penjelasan Muraqabah 20 dalam Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah


Syekh Ahmad Khatib Syambas ibnu Abdul Ghaffar Ra. pendiri  Tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah dalam kitab Fathul Arifin mengatakan bahwa muraqabah itu ada 20, yaitu


1. Muraqabah Ahadiyah


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi dalam Zat, Sifat dan Af’al-Nya, serta mengingat Sifat 20 yang wajib bagi Allah beserta sifat Muhal bagi-Nya. Adapun kegunaan dari muraqabah ini adalah berharap akan memperoleh anugerah keutamaan Allah dari arah yang enam (atas, bawah, depan, belakang, kanan dan kiri) dari sifat Jaiz Allah Swt. Dalil dari Muraqabah Ahadiyah adalah,


قُلْ هُوَاللهُ اَحَدٌ


“Katakanlah sesungguhnya Allah itu adalah Zat yang Maha Esa”. (Qs. Al Ikhlas [112]: 1)


2. Muraqabah Ma’iyyah


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi akan besertanya Allah Swt. di dalam setiap bagian-bagian dalam diri kita yang bersifat maknawi (tidak bias dilihat adanya beserta Allah Swt. dalam diri kita). Kegunaan dari Muraqabah Ma’iyyah adalah berharap akan memperoleh anugerah keutamaan Allah dari arah yang enam (atas, bawah, depan, belakang, kanan dan kiri) dari sifat Jaiz Allah Swt. Adapun dalilnya adalah,


وَهُوَمَعَكُمْ اَيْنَماَ كُنْتُمْ


“Allah secara maknawi itu bersama, dimanapun kalian berada.” (Qs. Al-Hadid [57]: 4)


3. Muraqabah Aqrabiyyah


Yaitu, mengawasi sesungguhnya Allah Swt. itu lebih dekat kepada kita dibandingkan pendengaran kuping kita, penglihatan mata kita, penciuman hidung kita, perasa lidah kita, dan pikiran hati kita. Dalam arti Allah itu lebih dekat dibandingkan dengan seluruh anggota tubuh kita yang bersifat maknawi. Kita memikirkan semua makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt, seperti manusia dan hewan yang berada di atas bumi, yang terbang di awang-awang, semua makhluk yang berada didalam laut. Mengingat alam yang berada di atas, seperti langit lapis tujuh beserta isi-isinya (bulan, matahari, bintang, mega, dan lain-lain), alam yang berada di bawah, seperti bumi yang lapis tujuh beserta isi-isinya (lautan, gunung, pepohonan, daun-daunan, tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam, dan lain-lain). Dalilnya adalah,


وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ


“Aku (Allah) itu lebih dekat terhadap hamba-hamba-Ku dibandingkan dengan urat leher manusia.” (Qs. Qaaf [50]:16)


Kegunaan dari Muraqabah Aqrabiyyah adalah mengharapkan anugerah Allah kepada halus-halusnya otak yang berhubungan dengan lathaif yang lima yang berada di dalam dada yang dinamakan ‘Alam al-Amri. ‘Alam al-Amri adalah lokasi ijazahnya guru kepada murid. Adapun lafazijazahnya adalah:


اَلْبَسْتُكَ خِـرْقَةَ الْفَقِـيْرِيَّةِ الصُّوْفِـيَّةِ وَاَجَزْتُكَ


اِجاَزَةً مُطْلَـقَةً لِلْاِرْشَادِ والْاِجَازَةِ وَجَعَلْتُكَ خَلِيْفَةً


“Aku pakaikan pakaian yang hina yang murni, dan aku ijazahkan kepadamu secara mutlak untuk dijadikan petunjuk dan ijazah dan kau kujadikan khalifah (pengganti).”


Kemudian si murid menjawab:


قَبِلْتُ وَرَضِيْتُ عَلَى ذلِكَ


“Saya menerima, ridla atas ijazahnya guru kepadaku.”


Maka murid sudah menjadi khalifah kecil. Inilah akhir dari wilayah shughra (wilayah kecil) dan permulaan wilayah kubra (wilayah besar).


4. Muraqabah al-Mahabbah fi al-Daerah al-Ula


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi akan kecintaan Allah Swt. kepada kita makhluk-Nya yang beriman dengan menganugerahkan ridla dan pahala kepadanya, dan kecintaan kita sebagai makhluk-Nya yang beriman kepada Allah dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah mendekatkan diri kepada-Nya di dalam maqam yang pertama, serta mengingat asmaul husna yang berjumlah 99, mengingat kepada keabadian Allah yang tidak berujung.


Kegunaan Muraqabah al-Mahabbah fi al-Daerah al-Ula adalah mengharapkan anugerah Allah kepada lathaif nafs (halusnya otak yang terletak di tengah-tengahnya kedua belah mata dan kedua belah alis).


5. Muraqabah al-Mahabbah fi al-Daerah al-Tsaniyyah


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi akan kecintaan Allah Swt. kepada kita makhluk-Nya yang beriman dengan menganugerahkan ridla dan pahala kepadanya, dan kecintaan kita sebagai makhluk-Nya yang beriman kepada Allah dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah mendekatkan diri kepada-Nya di dalam maqam yang kedua, serta mengingat-ingat Sifat Allah yang ma’ani dan ma’nawiyyah.


Manfaat Muraqabah al-Mahabbah fi al-Daerah al-Tsaniyyah adalah berharap akan anugerah Allah kepada lathaif nafs.


6. Muraqabah al-Mahabbah fi al-Daerah al-Qausi


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi akan kecintaan Allah Swt. kepada kita makhluk-Nya yang beriman dengan menganugerahkan ridla dan pahala kepadanya, dan kecintaan kita makhluk-Nya yang beriman kepada Allah dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah mendekatkan diri kepada-Nya di dalam maqam yang lebih dekat yang dipribahasakan dengan kadar se-bendera (isyarat kepada hal yang dekat sekali).


Kegunaan Muraqabah al-Mahabbah fi al-Daerah al-Tsaniyyah adalah berharap akan anugerah Allah kepada lathaif nafs. Dalilnya ketiga muraqabah diatas adalah,


يُحِبُّنَهُمْ وَيُحِبُّوْ نَهُ


“Allah mencintai orang-orang yang beriman kepada-Nya, dan mereka juga mencinta Allah Swt.” (Qs. Al Maidah [5]:54)


7. Muraqabah Wilayah al-‘Ulya


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi yang menjadikan wilayah Malaikat as. Dalilnya,


هُوَالْأَوَّلُ وَالْأَخِـرُوَالظَّـاهِرُوَالْبَاطِنُ


“Allah itu Zat Yang terdahulu tanpa awal, Zat Yang Akhir tanpa ada ujungnya, Zat yang zahir pekerjaannya, dan Zat yang bersifat maknawi.” (Qs. Al Hadid [52]: 3)


Firman Allah SWT,


اِنَّ الَّذِيْنَ عِنْدَ رَبِّكَ لاَيَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُوْنَهُ وَلَهُ يَسْجُدُوْنَ


“Sesungguhnya Semua Malaikat yang ada disamping Tuhanmu itu tidak mau menyombongkan diri dari beribadah kepada Tuhanmu. Mereka membaca tasbih dan sujud kepada Allah.” (Qs. Al A’raf [7]:206 )


Oleh sebab itu hendaklah kalian meniru sifat-sifat Malaikat di dalam memakai pakaian taqwa atau sifat Malakatnya, sifat mahmudah munjiyat, dan meninggalkan sifat syaithaniyah, nafsiyyah, bahimah-hayawaniyyah dan sifat mazmumat muhlikat.


Manfaat Muraqabah Wilayah al-Ulya adalah unsur tiga yang ada pada manusia yaitu air, api dan angin.


8. Muraqabah Kamalat al-Nubbuwwah


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi yang menjadikan kesempurnaan sifat kenabian. Dalilnya,


وَلَقَدْفَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّيْنَ عَلَى بَعْضٍ


“Sungguh Aku (Allah) lebih mengutamakan para Nabi mengalahkan kepada sebagian yang lainnya.” (Qs. Al Isra’ [17]: 55)


Manfaat Muraqabah Kamalat al-Nubbuwwah adalah unsur tanah pada manusia.


9. Muraqabah Kamalat al-Risalah


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi yang menjadikan kesempurnaan sifat para Rasul. Dalilnya,


وَمَااَرْسَلْناكَ اِلاَّرَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ


“Aku (Allah) tidak mengutus kepada Mu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (Qs. Al Anbiya’ [12]: 107)


Dan firman Allah SWT,


تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَابَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ


“Aku (Allah) mengutamakan Para Rasul mengalahkan keutamaan yang lainnya.” (Qs. Al Baqarah [2]: 253)


Manfaat Muraqabah Kamalat al-Risalah adalah sifat Wahdaniyyah (lathaif 10 buah)


10. Muraqabah Uli al-‘Azmi


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi yang menjadikan Rasul dengan title ulil azmi, yaitu Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim as., Nabi Musa as, Nabi isa as, Nabi Nuh as. Dalilnya,


وَاصْبِرْ كَمـَاصَبَرَاُوْلُوْالْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ


“Sabarlah kalian semua seperti para Rasul yang mempunyai pangkat ulil azmi.” (Qs. Al Ahqaaf [46]: 35)


Manfaat dari Muraqabah Uli al-‘Azmi adalah sifat Wahdaniyyah (lathaif 10 buah)


11. Muraqabah al-Mahabbah fi-Daerah al-Khullah wahiya Haqiqat Ibrahim ‘alaihi al-Salam


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi yang menjadikan Nabi Ibrahim yang mempunyai pangkat khalilullah (kekasih Allah). Dalilnya,


وَاتَّخَذَاللهُ اِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً


“Allah telah menjadikan hakikatnya Nabi Ibrahim as sebagai kekasih.” (Qs. An Nisa’ [4]: 125)


Kegunaan dari Muraqabah al-Mahabbah fi-Daerah al-Khullah wahiya Haqiqat Ibrahim ‘alaihi al-Salam adalah sifat Wahdaniyyah ¬(lathaif 10 buah)


12. Muraqabah Daerah al-Mahabbah al-Shirfah wahiya haqiqat Musa ‘Alaihi al-Salam


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi yang memberikan kasih sayang kepada Nabi Musa as yang mempunyai gelar Kalimullah. Dalilnya,


وَاَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي


“Aku Telah melimpahkan kepadamu (Musa) kasih sayang yang datang dari- Ku.” (Qs. Thaaha [20]:39)


Kegunaan dari Muraqabah Daerah al-Mahabbah al-Shirfah wahiya haqiqat Musa ‘Alaihi al-Salam adalah Wahdaniyyah ¬(lathaif 10 buah)


13. Muraqabah al-Dzatiyyah al-Mumtazijah bi al-Mahabbah wahiya haqiqat al-Muhammadiyyah


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi yang menjadikan hakikatnya Nabi Muhammad saw. menjadi kekasih yang utama serta sifat belas asih. Dalilnya,


وَمَا مُحَمَّدٌ اِلاَّ رَسُوْلٌ


“Tidaklah nabi Muhammad itu kecuali sebagai Utusan Allah.” (Qs. Ali Imran [3]: 144)


Kegunaan Muraqabah al-Dzatiyyah bi al-Murabbah wahiya haqiqat al-Muhammadiyyah adalah Wahdaniyyah (lathaif 10 buah).


14. Muraqabah al-Mahbubiyyah al-Shirfah wahiya haqiqat al-Ahmadiyyah


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi yang menjadikan hakikatnya Nabi Ahmad yang mempunyai sifat yang belas asih dan lembut. Dalilnya,


وَمُبَشِّرًا بِرَسُوْلٍ يَأْتِى مِنْ بَعْدِىْ اِسْمُهُ  اَحْمَدُ


“Bergemberilah wahai Nabi Isa as dengan Rasul yang akan diutus di dalam akhir zaman yang bernama Nabi Ahmad saw.” (QS. Ashshaaf [61]: 6)


Kegunaan Muraqabah al-Mahbubiyyah al-Shirfah wahiya haqiqat al-Ahmadiyyah adalah Wahdaniyyah (lathaif 10 buah).


15. Muraqabah al-Hubbi al-Shirfi


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi yang mengasihi orang-orang mukmin yang mencintai Allah, para Malaikat, para Rasul, Nabi, Ulama, dan semua saudara-saudara yang beragama satu (Islam). Dalilnya,


وَالَّذِيْن أمَنُوْااَشَدَّ حُبًّا لِلَّهِ


“Sesungguhnya orang yang beriman itu lebih besar kecintaan kepada Allah Swt.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 165)


Kegunaan Muraqabah al-Hubbi al-Shirfi adalah Sifat Wahdaniyyah (lathaif 10 buah).


16. Muraqabah Laa Ta’yin


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi yang tidak bisa dinyatakan dengan Zat-Nya dan tidak ada makhluk baik itu Malaikat muqarrabin, Para Nabi dan Rasul yang dapat menemukan Zat-Nya. Dalilnya,


لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ وَهُوَالسَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ


“Tidak ada sesuatu yang menyamai Allah. Dia adalah Zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Qs. Asy-Syuraa [42]: 11)


Kegunaan Muraqabah Laa ta’yin adalah Wahdaniyyah (lathaif 10 buah).


17. Muraqabah Haqiqat al-Ka’bah


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi yang telah menjadikan Ka’bah menjadi tempat sujud para mukmin kepada Allah Swt. Dalilnya,


فَوَلِّ وَجْـهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ


“Hadapakanlah dadamu kea rah Ka’bah yang berada di Masjidil Haram.”(Qs. Al Baqarah [2]: 144)


Kegunaan Muraqabah Haqiqat al-Ka’bah adalah Wahdaniyyah (lathaif 10 buah).


18. Muraqabah Haqiqat al-Qur’an


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi yang menjadikan hakikatnya Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, dinilai ibadah membacanya, menjadi dakwah dengan ayat yang paling pendek sekalipun. Dalilinya,


وَاِنْ كُنْتُمْ فِى رَيْبٍ مِمَّانَزَّلْنَا عَلَى عبْدِنَافَأتُوْابِصُوْرَةٍمِنْ مِثْلِهِ


“Jika kalian semua ragu terhadap Al-Qur’an yang telah kami turunkan kepada hambaKu Nabi Muhammad SAW, maka jika kalian mampu buatlah satu surat yang menyamai seperti surat ini.” (Qs. Al Baqarah [2]: 23)


Kegunaan dari muraqabah Haqiqat al-Qur’an adalah Wahdaniyyah (lathaif 10 buah).


19. Muraqabah Haqiqat al-Shalat


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi yang telah mewajibkan kepada hamba-hambaNya untuk mengerjakan shalat wajib lima waktu, yang mengandung beberapa ucapan dan gerakan, dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan beberapa syarat, rukun, tata caranya, menjauhi beberapa hal yang bias membatalkan shalat, menjaga waktunya, disertai dengan khudu’ dan khusu’. Dalilnya,


اِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتاَباً مَوْقُوْتًا


“Sesungguhnya shalat itu wajib dilaksanakan oleh setiap orang mukmin pada waktu yang telah ditentukan.” (Qs. An Nisa’ [4]: 103)


Kegunaan muraqabah Haqiqat al-Shalat adalah Wahdaniyyah (lathaif 10 buah).


20. Muraqabah Daerah al-Ma’budiyyah al-Shirfah


Yaitu, mengingat Allah Swt. dengan i’tikad yang kuat merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengawasi yang berhak untuk disembah oleh makhluk-Nya dengan tulus ikhlas karena Zat-Nya. Dalilnya,


وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ والْاِنْسَانَ اِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ


“Tidak Aku (Allah) jadikan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah tulus ikhlas kepada Allah SWT”. (Qs. At-Thuur [52]: 56)

Tafsir QS (24) An-Nur ayat 35



Tafsir QS (24) An-Nur ayat 35 


 اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ۙ

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tafsir Kemenag

Ayat ini menerangkan bahwa Allah adalah Pemberi cahaya kepada langit dan bumi dan semua yang ada pada keduanya. Dengan cahaya itu segala sesuatu berjalan dengan tertib dan teratur, tak ada yang menyimpang dari jalan yang telah ditentukan baginya, ibarat orang yang berjalan di tengah malam yang gelap gulita dan di tangannya ada sebuah lampu yang terang benderang yang menerangi apa yang ada di sekitarnya. Tentu dia akan aman dalam perjalanannya tidak akan tersesat atau terperosok ke jurang yang dalam, walau bagaimana pun banyak liku-liku yang dilaluinya. Berbeda dengan orang yang tidak mempunyai lampu, tentu akan banyak menemui kesulitan. Meraba-raba kesana kemari berjalan tertegun-tegun karena tidak tahu arah, maka pastilah orang ini akan tersesat atau mendapat kecelakaan karena tidak melihat alam sekitarnya. Amat besarlah faedahnya cahaya yang diberikan Allah kepada alam semesta ini. Cahaya yang dikaruniakan Allah itu bukan sembarang cahaya. Ia adalah cahaya yang istimewa yang tidak ada bandingannya, karena cahaya itu bukan saja menerangi alam lahiriah, tetapi menerangi batiniah.


Allah memberikan perumpamaan bagi cahaya-Nya dengan sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan oleh manusia pada waktu diturunkannya ayat ini, yaitu dengan cahaya lampu yang dianggap pada masa itu merupakan cahaya yang paling cemerlang. Mungkin bagi kita sekarang ini cahaya lampu itu kurang artinya bila dibandingkan dengan cahaya lampu listrik seribu watt apalagi cahaya yang dapat menembus lapisan-lapisan yang ada di depannya. Sebenarnya cahaya yang menjadi sumber kekuatan bagi alam semesta tidak dapat diserupakan dengan cahaya apa pun yang dapat ditemukan manusia seperti cahaya laser umpamanya.


Allah memberikan perumpamaan bagi cahaya-Nya dengan cahaya sebuah lampu yang terletak pada suatu tempat di dinding rumah yang sengaja dibuat untuk meletakkan lampu sehingga cahayanya amat terang sekali, berlainan dengan lampu yang diletakkan di tengah rumah, maka cahayanya akan berkurang karena luasnya ruangan yang menyerap cahayanya. Sumbu lampu itu berada dalam kaca yang bersih dan jernih. Kaca itu sendiri sudah cemerlang seperti kristal. Minyaknya diperas dari buah zaitun yang ditanam di atas bukit, selalu disinari cahaya matahari pagi dan petang. Maka pada ayat ini diibaratkan dengan tumbuh-tumbuhan yang tidak tumbuh di timur dan tidak pula di barat, karena kalau pohon itu tumbuh di sebelah timur, mungkin pada sorenya tidak ditimpa cahaya matahari lagi, demikian pula sebaliknya. Minyak lampu itu sendiri karena jernihnya dan baik mutunya hampir-hampir bercahaya, walaupun belum disentuh api, apalagi kalau sudah menyala tentulah cahaya yang ditimbulkannya akan berlipat ganda.


Di samping cahaya lampu itu sendiri yang amat cemerlang, cahaya itu juga dipantulkan oleh tempat letaknya, maka cahaya yang dipantulkan lampu itu menjadi berlipat ganda. Demikianlah perumpamaan bagi cahaya Allah meskipun amat jauh perbedaan antara cahaya Allah dan cahaya yang dijadikan perumpamaan.


Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk mendapat cahaya itu sehingga dia selalu menempuh jalan yang lurus yang menyampaikannya kepada cita-citanya yang baik dan selalu bertindak bijaksana dalam menghadapi berbagai macam persoalan dalam hidupnya. Berbahagialah orang yang mendapat pancaran Nur Ilahi itu, karena dia telah mempunyai pedoman yang tepat yang tidak akan membawanya kepada hal-hal yang tidak benar dan menyesatkan. Untuk memperoleh Nur Ilahi itu seseorang harus benar-benar beriman dan taat kepada perintah Allah serta menjauhi segala perbuatan maksiat.


Imam Syafi'i pernah bertanya kepada gurunya yang bernama Waki' tentang hafalannya yang tidak pernah mantap dan cepat lupa, maka gurunya itu menasehatinya supaya ia menjauhi segala perbuatan maksiat, karena ilmu itu adalah Nur Ilahi, dan Nur Ilahi itu tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat. Seperti dalam syair di bawah ini:


Aku mengadu kepada Waki' tentang buruknya hafalanku,


Lalu ia menasihatiku agar meninggalkan kemaksiatan.


Ia memberitahuku bahwa ilmu itu adalah cahaya,


Dan Cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.


Yahya bin Salam pernah berkata, "Hati seorang mukmin dapat mengetahui mana yang benar sebelum diterangkan kepadanya, karena hatinya itu selalu sesuai dengan kebenaran." Inilah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah saw.


Berhati-hatilah terhadap firasat orang mukmin, karena ia melihat dengan Nur Allah. (Riwayat al-Bukhari dalam kitab at-Tarikh al-Kabir dari Abu Sa'id al-Khudri)


Tentu saja yang dimaksud dengan orang mukmin di sini ialah orang-orang yang benar beriman dan bertakwa kepada Allah dengan sepenuhnya.


Ibnu 'Abbas berkata tentang ayat ini, "Inilah contoh bagi Nur Allah dan petunjuk-Nya yang berada dalam hati orang mukmin. Jika minyak lampu dapat bercahaya sendiri sebelum disentuh api, dan bila disentuh oleh api bertambah cemerlang cahayanya, maka seperti itu pula hati orang mukmin, dia selalu mendapat petunjuk dalam tindakannya sebelum dia diberi ilmu. Apabila dia diberi ilmu, akan bertambahlah keyakinannya, dan bertambah pula cahaya dalam hatinya. Demikianlah Allah memberikan perumpamaan kepada manusia tentang Nur-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."

Sumber:

Aplikasi Quran Kementrian Agama Republik Indonesia

#pptqal-hadi
#majelissekumpul


Selasa, 11 April 2023

Adab d Tatakrana dalam Mengamalkan Dzikir


 Adab dan tatakrama dalam mengamalkan dzikir:


A. Pra dzikir

1. Bersuci dari hadas kecil dan hadas besar.

2. Bersuci dari najis, badan, pakaian- bawaan dan tempat.

3. Berpakaian yang suci, menutup aurat, sopan (kalau bisa yang bagus dan harum).


B. Pelaksanaan Dzikir:

1. Niat membersihkan jiwa dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

2. Menghadap kiblat

3. Menghayati diri berada di hadapan  kemahabesaran Allah.

Mengikuti bimbingan guru Mursyid.


C. Pasca Dzikir

1. Menutup dzikirnya dengan do'a-do'a.

2. Tidak tergesa-gesa meninggalkan Majelis dzikir.

3. Tidak tergesa-gesa minum atau makan.

4. Memperbanyak munajat " ilaahiiy anta maqshudii wa ridloka mathluubiiy, a'thiniiy mahabbataka wa ma'rifataka ".

Doa Setelah Dzikir Jahr

Doa Setelah Dzikir Jahr


 بسم الله الر حمن الرحيم 

1. Alhamdulillahi robbil ngalamiin hamdan yuwafi ningamahu wayu kaffiu mazidah, yaa robbana lakalhamdu kamaa yambaghi lijalali wajhikal kariimi wangadhimi sulthonik, 

2. Allohumma sholli ngala sayyidina muhammadin sholatang tungjina biha min jamingil ahwali wal aafat, wataqdilana biha min jamingil haajat, watutohhiruna biha min jamingissayyiat,  watarfanguna biha nginngdaka a'laddarojat,  watuballighuna biha aqshol ghoyat,  min jamingil khoiroti fil hayati waba'dal mamat

3. Allohumma yaa ghoniyyu yaa hamiid,  ya mubdiu' yaa mungiid,  yaa rohiimu yaa waduud,  aghnini bihalalika ngan haromik,  wabi thongatika ngan mangsiyatik,  wabifadhlika ngan mansiwak,  

4. Allohumma inna nas aluka mujibati rohmatik,  wangazaaima maghfirotik,  wasalaamatan min kulli ismin,  wal ghoniimatan min kulli birrowwal fauza bil jannati  wan najaati minan naar wal ngafwa ngindal hisaab. 

5. Robbana laa tuzigh quluubana ba'da idzhadaitana wahablana min ladungka rohmah, innaka angtal wahhab,

6. Robbana hablana min azwajina wadurriyyatina qurrota a'yuun wajngalna lilmuttaqiina imama,, 7.robbana dholamna anfusana waillam taghfirlana,  watarhamna lanakunanna minal khosiriin.

8. Robbana atina fiddunya hasanah, wafil akhiroti hasanah,  waqinaa ngadabannar.

Minggu, 09 April 2023

Istigosah Yasin dan Tahlil tanpa latin

 ISTIGOSAH YASIN DAN TAHLIL

 

Istigosah

Al-Fatihah

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ۝ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ۝ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ۝ اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ۝ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ۝ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ۝ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الَّمُسْتَقِيْمَ ۝ صِرَاطَ الَّذِ يْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ ۝ اَمِين (x3)


أسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ(X7)


لَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِا للهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ(x7)


اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ (x7)


يَا اَللهُ يَا قَدِيْمُ(x11)


يَا سَمِيْعُ يَا بَصِيْرُ(x11)


يَا مُبْدِعُ يَا خَالِقُ(x11)


يَا حَفِيْظُ يَا نَصِيْرُ يَا وَكِيْلُ ياَ اللهُ(X11)


(11x) يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أسْتَغِيْثُ


(41x) يَا لَطِيْفُ


(11x) أسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ إنَّهُ كَانَ غَفَّارًا


أللَّهُمَّ صَلِّي عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَدْ ضَاقَتْ حِيْلَتِي أدْرِكْنِي يَا اَللهُ (X11)


أللّهُمَّ صَلِّي صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ (X1)


اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْاٰفَاتِ وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَـــا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَـــات (X1)

 

 (41X) يَا بَدِيْع

Suratul Yasin

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۝ يٰسۤ۝ ۚ وَالْقُرْاٰنِ الْحَكِيْمِۙ۝ اِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۙ۝ عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۗ۝ تَنْزِيْلَ الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِۙ۝ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ اُنْذِرَ اٰبَاۤؤُهُمْ فَهُمْ غٰفِلُوْنَ۝ لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلٰٓى اَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ۝ اِنَّا جَعَلْنَا فِيْٓ اَعْنَاقِهِمْ اَغْلٰلًا فَهِيَ اِلَى الْاَذْقَانِ فَهُمْ مُّقْمَحُوْنَ۝ وَجَعَلْنَا مِنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَّمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَاَغْشَيْنٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ۝ وَسَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ۝ اِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِۚ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَّاَجْرٍ كَرِيْمٍ۝اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ۝ وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا اَصْحٰبَ الْقَرْيَةِۘ اِذْ جَاۤءَهَا الْمُرْسَلُوْنَۚ۝ اِذْ اَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوْهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوْٓا اِنَّآ اِلَيْكُمْ مُّرْسَلُوْنَ۝ قَالُوْا مَآ اَنْتُمْ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَاۙ وَمَآ اَنْزَلَ الرَّحْمٰنُ مِنْ شَيْءٍۙ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا تَكْذِبُوْنَ۝ قَالُوْا رَبُّنَا يَعْلَمُ اِنَّآ اِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُوْنَ۝ وَمَا عَلَيْنَآ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ۝ قَالُوْٓا اِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْۚ لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهُوْا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِيْمٌ۝ قَالُوْا طَاۤىِٕرُكُمْ مَّعَكُمْۗ اَىِٕنْ ذُكِّرْتُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ۝ وَجَاۤءَ مِنْ اَقْصَا الْمَدِيْنَةِ رَجُلٌ يَّسْعٰى قَالَ يٰقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِيْنَۙ۝   اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ۝ وَمَا لِيَ لَآ اَعْبُدُ الَّذِيْ فَطَرَنِيْ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ۝ ءَاَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةً اِنْ يُّرِدْنِ الرَّحْمٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنِ عَنِّيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْـًٔا وَّلَا يُنْقِذُوْنِۚ۝ اِنِّيْٓ اِذًا لَّفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ۝ اِنِّيْٓ اٰمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُوْنِۗ۝ قِيْلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۗقَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِيْ يَعْلَمُوْنَۙ۝ بِمَا غَفَرَ لِيْ رَبِّيْ وَجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُكْرَمِيْنَ۝ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى قَوْمِهٖ مِنْۢ بَعْدِهٖ مِنْ جُنْدٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَمَا كُنَّا مُنْزِلِيْنَ۝ اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ خَامِدُوْنَ۝ يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ۝ اَلَمْ يَرَوْا كَمْ اَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِّنَ الْقُرُوْنِ اَنَّهُمْ اِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُوْنَ۝ وَاِنْ كُلٌّ لَّمَّا جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ۝ وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الْاَرْضُ الْمَيْتَةُ ۖاَحْيَيْنٰهَا وَاَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُوْنَ۝ وَجَعَلْنَا فِيْهَا جَنّٰتٍ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍ وَّفَجَّرْنَا فِيْهَا مِنَ الْعُيُوْنِۙ۝ لِيَأْكُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖۙ وَمَا عَمِلَتْهُ اَيْدِيْهِمْ ۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ۝ سُبْحٰنَ الَّذِيْ خَلَقَ الْاَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ۝ وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُ ۖنَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُّظْلِمُوْنَۙ۝ وَالشَّمْسُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِۗ۝ وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ۝ لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ۝   وَاٰيَةٌ لَّهُمْ اَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِۙ۝ وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِّنْ مِّثْلِهٖ مَا يَرْكَبُوْنَ۝ وَاِنْ نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيْخَ لَهُمْ وَلَاهُمْ يُنْقَذُوْنَۙ۝ اِلَّا رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَاعًا اِلٰى حِيْنٍ۝ وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّقُوْا مَا بَيْنَ اَيْدِيْكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ۝ وَمَا تَأْتِيْهِمْ مِّنْ اٰيَةٍ مِّنْ اٰيٰتِ رَبِّهِمْ اِلَّا كَانُوْا عَنْهَا مُعْرِضِيْنَ۝ وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ ۙقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنُطْعِمُ مَنْ لَّوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ اَطْعَمَهٗٓ ۖاِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ۝ وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ۝ مَا يَنْظُرُوْنَ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُوْنَ۝ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ تَوْصِيَةً وَّلَآ اِلٰٓى اَهْلِهِمْ يَرْجِعُوْنَ۝ وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَاِذَا هُمْ مِّنَ الْاَجْدَاثِ اِلٰى رَبِّهِمْ يَنْسِلُوْنَ۝ قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا ۜهٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ۝ اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ۝ فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا وَّلَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ۝ اِنَّ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِيْ شُغُلٍ فٰكِهُوْنَ ۚ۝ هُمْ وَاَزْوَاجُهُمْ فِيْ ظِلٰلٍ عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ مُتَّكِـُٔوْنَ ۚ۝ لَهُمْ فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّلَهُمْ مَّا يَدَّعُوْنَ ۚ۝ سَلٰمٌۗ قَوْلًا مِّنْ رَّبٍّ رَّحِيْمٍ۝ وَامْتَازُوا الْيَوْمَ اَيُّهَا الْمُجْرِمُوْنَ۝ اَلَمْ اَعْهَدْ اِلَيْكُمْ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ اَنْ لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطٰنَۚ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ۝   وَاَنِ اعْبُدُوْنِيْ ۗهٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ۝ وَلَقَدْ اَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيْرًا ۗاَفَلَمْ تَكُوْنُوْا تَعْقِلُوْنَ۝ هٰذِهٖ جَهَنَّمُ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ۝ اِصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُوْنَ۝ اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ۝ وَلَوْ نَشَاۤءُ لَطَمَسْنَا عَلٰٓى اَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَاَنّٰى يُبْصِرُوْنَ۝ وَلَوْ نَشَاۤءُ لَمَسَخْنٰهُمْ عَلٰى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوْا مُضِيًّا وَّلَا يَرْجِعُوْنَ۝ وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى الْخَلْقِۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ۝ وَمَا عَلَّمْنٰهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْۢبَغِيْ لَهٗ ۗاِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ وَّقُرْاٰنٌ مُّبِيْنٌ ۙ۝ لِّيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَّيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ۝ اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِّمَّا عَمِلَتْ اَيْدِيْنَآ اَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُوْنَ۝ وَذَلَّلْنٰهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوْبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُوْنَ۝ وَلَهُمْ فِيْهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ۝ وَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اٰلِهَةً لَّعَلَّهُمْ يُنْصَرُوْنَ ۗ۝ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ نَصْرَهُمْۙ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُّحْضَرُوْنَ۝ فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘاِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَ۝ اَوَلَمْ يَرَ الْاِنْسَانُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ نُّطْفَةٍ فَاِذَا هُوَ خَصِيْمٌ مُّبِيْنٌ۝ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَّنَسِيَ خَلْقَهٗۗ قَالَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ۝ قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗوَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ ۙ۝ ِۨالَّذِيْ جَعَلَ لَكُمْ مِّنَ الشَّجَرِ الْاَخْضَرِ نَارًاۙ فَاِذَآ اَنْتُمْ مِّنْهُ تُوْقِدُوْنَ۝ اَوَلَيْسَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يَّخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۗبَلٰى وَهُوَ الْخَلّٰقُ الْعَلِيْمُ۝ اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ۝ فَسُبْحٰنَ الَّذِيْ بِيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّاِلَيْهِ تُرْجَعُوْن۝َ

 

 اللهُ أكْبَرُ يَا رَبَّنَا وَإلَهَنَا وَسَيِّدَنَا أنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ


حَصَّنْتُكُمْ بِالْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ أبَدًا وَدَفَعْتُ عَنْكُمُ السُّوْءَ بِألْفِ ألْفِ ألْفِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِا للهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ(x3)


(3x) الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أنْعَمَ عَلَيْنَا وَهَدَانَا عَلَى دَيْنِ الإسْلَامِ


بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَسُوْقُ الْخَيْرَ إلَّا اللهِ (X1)

 بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَصْرِفُ السُّوْءَ إلَّا اللهُ (X1)

بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِا للهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ (X1)


 سَألْتُكَ يَا غَفَّارُ عَفْوًا وَتَوْبَةً وَبِالْقَهْرِ يَا قَهَّارُ خُذْ مَنْ تَحَيَّلَا (X3)


 يَا جَبَّارُ يَا قَهَّارُ يَا ذَا الْبَطْشِ الشَّدِيْدِ خُذْ حَقَّنَا وَحَقَّ الْمُسْلِمِيْنَ مِمَّنْ ظَلَمَنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ وَتَعَدَّى عَلَيْنَا وَعَلَى الْمُسْلِمِيْنَ (X3)


Tahlil

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ۝ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ  ۝ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ۝ اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ۝ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ۝ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ۝ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الَّمُسْتَقِيْمَ ۝ صِرَاطَ الَّذِ يْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ ۝ اَمِين

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ ۝ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ ۝ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۝ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد ۝

 

لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ۝ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ۝ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ۝ وَمِن شَرِّ النَّفَّٰـثَٰـتِ فِى الْعُقَدِ ۝ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ۝

 

لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ۝ مَلِكِ النَّاسِ ۝ إِلَهِ النَّاسِ ۝ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ۝ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ۝ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ۝

 

لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ۝الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ۝ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ۝ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ۝ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ۝ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّين ۝ أمِينْ

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ۝ الم ۝ ذَلِكَ اْلكِتَابُ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ ۝ اَلَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۝ وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْاخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ ۝ اُولئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَاُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ۝

 وَإِلهُكُمْ إِلهُ وَاحِدٌ لاَإِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ

 اللهُ لاَ إِلَهَ اِلاَّ هُوَ اْلحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَتَأْخُذُه سِنَةٌ وَلاَنَوْمٌ لَهُ مَافِى السَّمَاوَاتِ وَمَافِى اْلأَرْضِ مَنْ ذَالَّذِى يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَيُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَلاَ يَؤدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

 

لِلّهِ مَافِى السَّمَاوَاتِ وَمَا في اْلأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوْا مَافِى أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهِ فَيُغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۝ امَنَ الرَّسُوْلُ بِمَا أُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَبَّهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ امَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَنُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ۝ لاَيُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَاكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَتُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَ أَوْ أَخْطَعْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِه

#وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا# (7X)

أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ۝

 

إِرْحَمْنَا يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ X7

 

أللّهمّ اصْرِفْ عَنَّا السُّوْءَ بِمَا شِئْتَ وَكَيْفَ شِئْتَ إِنَّكَ عَلَى مَاتَشَاءُ قَدِيْرُ X3

 

وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا

 إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا

 

أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ نُوْرِ الْهُدَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ.

 

أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ شَمْسِ الضُّحَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْعَدَدَ

مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ

 

أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ بَدْرِ الدُّجَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ. عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ

 

وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ سَادَتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ

حَسْبُنَا الله وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

 وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

 

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم(3X)

 

أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ

 لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ مَوْجُوْدٌ

لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ مَعْبُوْدٌ

لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ بَاقٍ ,

 

اَإِلهَ إِلاَّ اللهُ (X100)

لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ

لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ نَبِيُّ الله

لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ الله

أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ يَارَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ

 

سبحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ X33

أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ

أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ أَجْمَعِيْنَ. الفاتحة

 


Shalawatan

يَارَبِّ بِالْمُصطَفَى بَلِّغْ مَقَا صِدَنَا

وَاغْفِرْلَنَا مَامَضَى يَاوَاسِعَ الْكَرَمِ

 

هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِي تُرْجَی شَفَاعَتُه

لِکُلِ هَوْلٍ مِنَ الْأَهْوَالِ مُقْتَحَمِ


مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا

عَلىٰ حـَبِيْبِكَ خـَيْرِ الْخَلْقِ كًلِّهِمِ

 

ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ # ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ #

ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ # فَرِّجْ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ

۝۝۝۝۝۝۝