Tampilkan postingan dengan label Terapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terapi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Agustus 2023

Apa Itu Tarekat


Istilah “Tarekat” memiliki berbagai makna, bisa berarti jalan, tradisi kesufian, atau organisasi persaudaraan sufi. Tetapi kini istilah “tarekat” sering kali diartikan sebagai organisasi persaudaraan sufi, sehingga tarekat dalam arti ini berarti pengorganisasian ajaran esoteris (khusus kesufian) yang berpusat pada hadirnya seorang mursyid (guru sufi).[2]


Secara etimologis, istilah “tarekat” berasal dari bahasa arab tariqah, yang berarti “jalan”, yang bermakna sama dengan jembatan/sirat, syariah, dan sabil[3]. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tarekat merupakan kata benda yang mempunyai beberapa arti, yakni: jalan, jalan menuju kebenaran (dalam tasawuf), cara atau aturan hidup (dalam keagamaan atau ilmu kebatinan), dan persekutuan para penuntut ilmu tasawuf.[4]


Secara terminologis, tarekat memiliki tiga arti, yakni: jalan lurus, tasawuf, atau persaudaraan sufi[5]. Tarekat bisa diartikan dengan as-sirat al-mustaqim (jalan lurus) sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surah al-Fatihah yang berarti: “ Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.” Tarekat dalam arti ini adalah islam yang benar, yang berbeda dari kekufuran dan syirik sebagai penyimpangan dari jalan yang lurus.[6]


Tarekat juga bisa berarti tradisi sufi atau tasawuf. Apabila tasawuf dipandang sebagai jalan spiritual menuju Tuhan, maka tarekat dalam arti ini sama dengan tasawuf. Sang penempuh jalan spiritual ( salik ) harus  menempuh jalan itu di bawah bimbingan seorang guru terpercaya, yang biasanya disebut syekh, mursyid atau pir. Dalam arti ini, tarekat adalah nama khusus untuk jalan spiritual islam yang disebut tasawuf.[7] Makna lain  dari tarekat adalah persaudaraan sufi yang terorganisasi. Dalam arti ini, tarekat bukan hanya merupakan jalan spiritual yang disebut tasawuf, tetapi juga merupakan organisasi sosial sufi yang memiliki anggota dan peraturan yang yang harus ditaati. Tarekat dalam arti persaudaraan sufi baru muncul pada abad ke-12 dan ke-13.[8]


Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin mempunyai definisi tersendiri mengenai tarekat, menurut beliau tarekat ialah:[9]


وَقَدْ سَبَقَ أنْ عَرَفْنَا أنَّ مَرَاتِبَ الوُصُولِ إلى اللهِ عَلَى ثَلاثَةِ مَرَاحِلْ : اِسْلامٌ ، فَإيمَانٌ ، فَإحْسَانٌ ، فَالعَبْدُ مَا دَامَ مَشْغُولاً بِالعِبَادَةِ وَحْدَهَا فَهُوَ في مَقَامِ الاِسْلامْ ، أوْ مَقَامَ الشَّرِيعَةِ ، فَإذَا اِنْتَقَلَ العَمَلُ إلُى القَلْبِ بِالتَّصْفِيَةِ وَالتَّخْلِيَةِ مِنَ الشَّرِ وَالتَّحْلِيَةِ بِالخَيْرِ وَتَحَقَّقَ بِالاِخلاَصِ فَهُوَ في مَقَامِ الإيمانِ أوْ مَقَامَ الطَّرِيقَة ، وَإذَا بَلَغَ الاِنْسَانُ مَرْتَبَةَ العِبَادَةِ للهِ كَأنَّهُ يَرَاهُ فَهُوَ في مَقَامِ الاِحْسَانِ أوْ مَقَامِ الحَقِيقَة ، وَلِذَلِكَ يَقُولُوْنَ – الشَّرِيعَةُ أنْ تَعْبُدَهُ وَالطَّرِيقَةُ أنْ تَقْصِدَهُ – وَالحَقِيقَةُ أنْ تَشْهَدَهُ –

“Sudah kita sebut dahulu, bahwa martabat wushul ( sampai kepada Allah ) adalah tiga perjalanan, yakni: pertama islam, kedua iman, dan ketiga ihsan. Adapun seorang hamba Allah, jika ia kekal sibuk dalam ibadah, berada dalam makam Islam atau makam Syariat. Apabila amal itu berpindah kepada hati dengan kebersihan dan sunyi daripada kejahatan, berisi dengan kebajikan sempurna ikhlas, maka orang itu berada dalam makam iman atau makam tarekat. Apabila manusia itu telah sampai pada martabat ibadat untuk Allah semata-mata, seakan-akan Allah melihatnya, maka ia berada dalam maqom Ihsan  atau maqom hakikat. Oleh karena itu di ungkapkan orang :”Adapun syari’at  itu ialah bahwa kamu menyembah Allah”. Tarekat itu ialah bahwa kamu menuju kepada Allah, dan hakikat itu ialah bahwa kamu bermusyahadah benar-benar menyaksikan Allah yang Maha Pencipta.”[10]


Tarekat pada bayan diatas ialah “bahwa kamu menuju kepada Allah”, menuju kepada Allah disini ialah merupakan tujuan dari segala bentuk ibadat yang dilakukan oleh semua makhluk, apa yang mereka kerjakan tidak lain adalah untuk menuju kepada-Nya dan mendapat ridla-Nya tenmtunya dengan aturan dan cara yang tepat pada pengamalan tarekat tersebut.


Bila membicarakan tarekat sudah tentu membicarakan tentang tasawuf. Tarekat dan tasawuf adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya, karena dua hal ini adalah sebagai sebab dan akibat dari adanya dua hal tersebut.


Dari hasil wawancara penulis dengan narasumber yakni bapak KH. Nur Muhammad Suharto (wakil talkin Abah Anom TQN Pon.Pes Suryalaya) didapat keterangan sebagai berikut:[11]bahwasannya ajaran islam berlandaskan pada tiga asas/dasar, yakni islam, iman dan ihsan. Dari masing-masing asas tadi memiliki ruang lingkup kajian yang berbeda-beda, islam mengkaji tentang aspek syariah, iman mengkaji tentang aspek akidah, dan ihsan mengkaji tentang aspek akhlak. Untuk memahami semua itu diperlukan ilmu yang mengkaji lebih detail untuk setiap aspek-aspek trilogi islam tersebut, dimana ilmu yang membahas tentang syariah disebut ilmu fikih, ilmu yang membahas tentang akidah disebut ilmu ushuludin dan ilmu yang membahas tentang akhlak disebut ilmu tasawuf. Dan ilmu-ilmu tersebut diaplikasikan dalam bentuk madzhab untuk aplikasi ilmu fikih, firqah untuk aplikasi ilmu ushuludin dan tarekat untuk ilmu tasawuf.


Menurut Ibnu Khaldun[12], ilmu tasawuf merupakan bagian dari ilmu-ilmu yang muncul dikemudian hari dalam agama. Pada dasarnya, pendekatan para ulama salaf seperti para sahabat dan para tabi’in yang datang sesudahnya merupakan pendekatan yang benar dan berhak mendapat petunjuk, yang bertumpu pada kesungguhan dalam beribadah dan memfokuskan pengabdian kepada Allah SWT, menghindari kemegahan dan gemerlap dunia dengan segala perhiasannya, berzuhud dari kenikmatan harta dan ketinggian jabatan yang banyak diharapkan masyarakat pada umumnya, dan mengasingkan diri dari keramaian dunia dan berkhalwat untuk memusatkan diri dalam ibadah. Aktivitas semacam ini merupakan fenomena umum di kalangan para sahabat dan ulama salaf. Ketika kecintaan dunia semakin merebak dalam kehidupan pada abad kedua dan sesudahnya, dimana manusia berlomba-lomba untuk menggapai kemewahannya, maka orang-orang yang mengabdikan diri dalam kekhusyukan ibadah mendapat sebutan khusus ash-shufiyah dan al- Mutashawifah.[13]Al- Qusyairi mengatakan, “ Asal kata nama ini tidak memiliki bukti apapun dari segi bahasa Arab dan tidak pula qiyas. Yang jelas, nama tersebut merupakan gelar jabatan. Orang yang mengatakan bahwa kata tersebut berasal dari ash-shafa atauash-shifah, maka sangat jauh dari segi filologi (qiyas bahasa), begitu juga dengan kata ash-shuf. Sebab yang memakai wol ini bukan hanya mereka.”[14]


Ibnu khaldun berpendapat[15], “ Jika memang bahwa kata tasawuf berasal dari kata ash-shuf,  maka hal ini dikarenakan para sufi paling banyak memakai pakaian dari wol atau bulu domba. Sikap ini dimaksudkan untuk menentang pakaian masyarakat pada umumnya yang bermewah-mewahan dalam berpakaian. Ketika mereka mengikuti gaya hidup yang jauh dari keglamouran, banyak berkhalwat dan bermeditasi untuk memusatkan perhatian kepada Allah dalam ketulusa ibadah, maka mereka memiliki karaketer yang membuat mereka mudah dikenal. Sebab manusia berbeda dengan semua makhluk hidup hanya dengan pengetahuannya.[16]


Adapun objek dari ilmu tasawuf adalah perbuatan hati dan panca indera ditinjau dari segi cara penyuciannya. Penyucian hati manusia menjadi amat penting keberadaannya karena tanpanya manusia tidak akan bisa dekat dengan Zat Yang Maha Suci.[17] Dan buah dari ilmu tasawuf itu sendiri tidak lain ialah terdidiknya hati sehingga memperoleh makrifat terhadap ilmu gaib secara rohani, selamat di dunia dan bahagia di akhirat, dengan mendapat keridaan Allah, memperoleh kebahagiaan abadi, hati bersinar dan suci yang karenanya terbukalah kepada sufi tersebut perkara-perkara yang gaib, dan ia dapat menyaksikan keadaan-keadaan yang menakjubkan. Manusia yang terdidik hatinya disebut al-‘arif al-wasil ilallah.  Indikator model sufi serupa ini adalah terwujudnya akhlak karimah dalam dirinya.[18]


Ilmu tasawuf adalah ilmu yang paling mulia karena berkaitan dengan makrifat kepada Allah SWT dan mahabbah kepada-Nya. Ilmu tasawuf adalah ilmu yang paling utama secara mutlak, karena objeknya adalah hati manusia dan hubungannya dengan Allah SWT.[19] Sumber ilmu tasawuf tidak lain adalah sumber hukum islam yang utama, yakni al-Qur’an dan as-Sunah, juga dari atsar as-sabitah(tradisi yang sudah baku dan mapan) dari umat-umat pilihan dimasa silam.[20]


Segala ilmu yang ada di dunia ini pasti berkaitan dengan hukum dalam mempelajarinya, begitu juga dengan ilmu tasawuf, hukum mempelajari ilmu tasawuf adalah wajib ain, artinya kewajiban yang mengikat kepada setiap individu muslim, sebab setiap orang tidak akan lepas dari kekurangan-kekurangan, dan kemungkinan terkena penyakit hati kecuali para nabi.[21]


Sudah jelas apa yang dimaksud dengan ilmu tasawuf, dan dapat penulis simpulkan bahwasannya ilmu tasawuf adalah ilmu yang membahas bagaimana cara untuk membersihkan hati dengan metode-metode mendekatkan diri kepada Allah SWT atas petunjuk sang Guru Mursyid dengan silsilah yang wushul hingga Allah SWT dan amaliyah yag berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunah dan metode yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah itulah yang kita kenal dengan istilah tarekat.Bila diawal kita telah mengetahui apa itu tarekat baik secara bahasa dan ishtilah,  secara khususnya pengertian tarekat dalam ilmu tasawuf ialah jalan atau petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah dengan ajaran yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW dan diajarkan oleh sahabat-sahabat Nabi, tabiin, tabiit tabiin dan turun-temurun sampai pada guru-guru/ulama-ulama sambung-menyambung sampai pada masa kini.[22]


Maka sudah jelas disini, antara tarekat dan tasawuf adalah dua hal yang berbeda, dimana tasawuf adalah ilmu yang membahas bagaimana cara untuk berakhlakul karimah, dan tarekat adalah aplikasi dari ilmu tersebut yang berbentuk organisasi atau perkumpulan para pengamal ajaran tarekat yang bersangkutan.


Perlu diketahui, tidak semua organisasi atau perkumpulan para pengamal ajaran tarekat dapat dikatakan tarekat. Tentunya sebuah tarekat mempunyai beberapa syarat dan kriteria sehingga ia dapat dikatakan sebagai sebuah tarekat. Dalam perishtilahan kaum ahlu sunah wal jamaah, ada yang disebut dengan Tariqah al-Mu’tabarah, ialah tarekat yang sah secara hukum dan bisa dipertanggungjawabkan secara syariat.[23]


 Menurut ahli sufi kriteria kemuktabarahan sebuah tarekat ialah:[24]


Substansi ajarannya tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunah, dalam arti bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunah.

Tidak meninggalkan syariat

Silsilahnya sampai dan bersambung kepada Rasulullah SAW

Ada mursyid yang membimbing para murid

Ada murid yang mengamalkan ajaran gurunya

Kebenaran ajarannya bersifat universal

Dan bila disimpulkan kriteria-kriteria tersebut dapat mengkerucut menjadi beberapa syarat, yakni:[25]


Mursyid

Wirid

dan Murid.

Wallahu a’lam bishshawwaab


Oleh: Aspiyah Kasdini. R. A


Appendik

                [2]Ade Armando, Edi Sudrajat dan Ahmad Gaus A.F, Ensiklopedi Islam untuk Pelajar  ( Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 2005),  hlm: 9.

                [3]Ibid.

                [4]Departemen Pendidikan Nasional,  Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga  (Jakarta: Balai Pustaka, 2005),  hlm: 1144.

                [5]Ade Armando, Edi Sudrajat dan Ahmad Gaus A.F, Ensiklopedi Islam untuk Pelajar  (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 2005),  hlm: 9.

                [6]Ibid.

                [7]Ibid.

                [8]Ibid.

                [9]KH. Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin, Miftahus Shudur Juz ats-Tsani (Sukabumi: Katabah Zainal Abidin Aminullah,  1980),  hlm: 38.

                [10]Kh. Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin ,  Kunci Pembuka Dada Juz 2,  terj. Prof. Dr. KH. Aboebakar Atjeh, (Tasikmalaya: PT. Mudawamah warahmah, 1970),  hlm: 33.

                [11]KH. Nur Muhammad Suharto, Wakil Talkin Abah Anom TQN Pon. Pes Suryalaya, Wawancara, Tasikmalaya, 06 Mei 2014, 14: 48 WIB.

                [12]Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun, Mukaddimah, ter. Masturi Irham, Malik Supar, dan Abidun Zuhri (Jakarta: al-Kautsar, 2011),  hlm: 865.

                [13]Ibid.

                [14]Ibid.

                [15]Ibid.

                [16]Ibid, hlm: 866.

                [17]Cecep Alba, Tasawuf dan Tarekat  (Bandung: Rosda Karya, 2012),  hlm: 12.

                [18]Ibid.

                [19]Ibid.

                [20]Ibid.

                [21]Ibid, hlm: 14.

                [22]Noor Anom Mubarok, Syariat Thoriqat Hakikat dan Makrifat  (Tasikmalaya: Pon.Pes Suryalaya, tth),  hlm: 20.

                [23]Ade Armando,Edi Sudrajat, dan  A. Ahmad Gaus, Ensiklopedi Islam untuk Pelajar  (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 2005),  hlm: 10.

                [24]Zainal Abidin Anwar,  Konsep Islam Dalam Memanusiakan Manusia ( Tasikmalaya: PP. Suryalaya, tth),  hlm: 6.

                [25]Zaenal Abidin Anwar, IAILM Ponpes Suryalaya STIE Lathifah Mubarokiyyah(Tasikmalaya: PT. Mudawwamah Warahmah. 2010), hlm: 18.


copy paste from https://jatman.or.id/apa-itu-tarekat/

Kitab Asrar Al ‘Arifin; Tafsir Hamzah Fansuri atas Syair-syairnya


 

Asrâr Al-‘Ārifîn fî Bayân ‘Ilm al Sulúk wa al Tauhîd atau Rahasia Ahl Ma’rifah adalah kitab Hamzah Fansuri yang menjelaskan makna beberapa bait syairnya. Diketahui bahwa syair Syekh Hamzah Fansuri teramat banyak.


Di antara sekian syair tersebut, sebagian darinya ditafsir oleh murid beliau seperti Syamsuddin Sumatrani dalam Kitab Ruba’i Hamzah Fansuri dan Syair Ikan Tongkol. Juga terdapat tafsir syair Hamzah Fansuri yang disalin ulang oleh Muhammad Yusuf Trengganu yang diyakini juga ditulis sendiri oleh Syekh Trengganu tersebut. Naskah tertua disimpan di Leiden, No. 7291 dan sudah ditransliterasikan oleh Doorbores (1933) dan Al-Attas (1970). Menurut Syarifuddin, Naskah ini juga terdapat dalam koleksi perpustakaan kuno Abu Dahlan Tanoh Abee, No. 663 Aceh Besar.


Selain ditafsir oleh muridnya, Hamzah juga menafsir sendiri syair-syairnya diantaranya 15 bait syair yang ditafsir dan diberi nama Asrar Al Arifin atau rahasia ahli ma’rifah (the secrets of the gnostic). Kitab ini menjelaskan lima belas bait syair milik Hamzah Fansuri. Kitab ini adalah tafsir mistik atas syair mistik, dimana penafsir dan pembuat syair adalah beliau sendiri. Kata Hamzah, bagi yang tidak memahami bagaimana makna syair, dapat menggalinya dari tafsirnya karena tafsir atas syair makrifat, juga merupakan makrifat.


Kitab Asrar Al Arifin membahas mengenai makrifat kepada Allah, baik makrifat Sifat maupun Asma’-nya. Menurut Hamzah, seorang yang menyembah Allah tapi tidak disertai dengan makrifat, maka ia tetap muslim akan tetapi imannya kurang. Begitu penting makrifat kepada Allah hingga Hamzah mengutip ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa,


“Siapa yang di dunia buta (tidak mengenal Allah) maka di akhirat kelak ia juga buta (17:72).”


Bagi Hamzah, mereka yang tidak mengetahui Allah disebut awwam, mereka yang mengetahui Allah (dengan ilmu) disebut khash dan mereka yang mengenal Allah (dengan makrifat) disebut khawas al khawas.


Bait pertama, kedua, ketiga dan keempat berbicara mengenai Dzat Allah beserta ketujuh sifatnya. Hamzah menyebutkan bahwa walaupun mengetahui nama (asma’) itu penting (termasuk mengetahui sifat dan perbuatan Allah), tapi mengenal Yang Pertama (yaitu Khuni Dzat Allah) itu lebih penting. Hamzah menyebutkan,


“Yakni tatkala bumi, langit, arash, kursi, surga, neraka dan semesta belum ada, maka yang Ada ketika itu hanya Dzat Allah semata, sendiri tiada dengan sifat dan asma.”


Dzat itu disebut Huwa, kata tunjuk bagi Dzat tanpa sifat dan asma. Adapun nama “Allah” adalah himpunan seluruh Asmaul Husna, sama seperti nama “Muhammad” yang terhimpun di dalamnya, nama-nama mulia bagi baginda junjungan kita.


Menurut Hamzah, Allah itu “Qadim” yaitu suatu makna yang sulit dipahami kecuali oleh mereka yang sudah terbuka hijab (kasyf). Mereka yang sudah terbuka hijab mengumpamakan Qadim seperti buah yang bulat, tiada berujung, tiada berpangkal, tiada batasan awal dan tiada pula batasan akhir. Tiada depan, tiada belakang, tiada kiri dan tiada pula kanan, tiada atas dan tiada bawah. Perumpamaan lain seperti lingkaran yang tiada awal dan tiada akhir. Menurut mereka, Allah Ada beserta tujuh Sifat Qadim lainnya yaitu Hayyat, Ilmu, Iradah, Qudrah, Kalam, Sama’ dan Bashar.


Bait kelima menjelaskan mengenai Hakikat Muhammad. Ketika ilmu melihat ma’lumat, maka muncul hakikat Muhammad. Dan Hakikat Muhammad adalah yang pertama bercerai dengan Dzat. Ia disebut Ruh Idhafi (nyawa yang tersandar), terkadang disebut Aql Kulli (perhimpunan akal), Nur (cahaya), Qalam al-A’la (huruf tertinggi) dan Lauh al-Mahfuz (bentangan yang dipelihara tempat takdir manusia ditempa).


Bait keenam berbicara mengenai Tuhan yang Kamal (sempurna) dengan Sifat Jamal (indah) dan Jalal (perkasa)-Nya. Itu sebabnya walaupun Tuhan menciptakan surga tapi juga menciptakan neraka. Walaupun ia menciptakan kesalehan dan kebaikan tapi ia juga menciptakan kefasiqan dan keburukan. Maka (dengan Jamal dan Jalal Allah), baik dan buruk berasal dari Allah. Rahim adalah Jamal Allah dan Rahman Adalah Jamal Allah. Pun demikian, dalam perikehidupan manusia juga harus diyakini bahwa Allah hanya ridla kepada perbuatan baik dan tidak ridla pada perbuatan buruk.


Bait ketujuh dan delapan, menceritakan tentang ketinggian Allah yang tiada dapat diibaratkan. Allah tidak pernah berpisah dari Sifat-Nya, kekal selama-lamanya. Allah berfirman, “Kulla yaumin huwa fi sya’n, (55:29) yang artinya Allah senantiasa sibuk. Ia memberi bekas pada segala kejadian, memberi wujud pada sekalian alam, siang dan malam, tiada berhenti, senantiasa dan selama-lama. 


Bait kesembilan dan sepuluh menganalogikan Tuhan sebagai bahr al-amiq (laut yang dalam), tiada berhingga dan berkesudahan. Kuhni Dzat-Nya tiada dapat dideskripsikan sebagaimana ucapan Nabi, “Maha Suci Engkau, yang tiada dapat kami kenal dengan sebenar-benar kenal.” Ombak timbul tenggelam dalam pandangan, tapi dalam hakikatnya ia adalah tanda keabadian yang tiada bercerai dengan laut. Allah Swt. tiada bercerai dengan alam, tapi ia tiada di dalam dan tiada di luar alam. Dia tiada di atas, tiada di bawah, tiada di kiri, tiada dikanan, tiada di depan dan tiada di belakang. Dia tidak bercerai dan Dia tidak bertemu; Dia tidak dekat dan tidak pula jauh. Dengan kata lain, ombak dan laut keduanya terjalin, dari dalam laut ombak timbul, dan ke dalam laut ombak tenggelam. Dari dalam laut ombak datang dan ke dalam laut ombak kembali.


Bait kesebelas sampai empatbelas menjelaskan mengenai orang yang telah makrifat(tahu akan wujud) dan syuhud. Menurut Hamzah, orang yang telah mendapatkan “Wujud” akan menyaksikan keberadaan Allah dalam segala keadaan. Batinnya tidak terkait kepada apapun dan hanya terpaut kepada Allah semata. Orang yang demikian, telah fana dan mati rasa. Dan dalam keadaan fana, jangankan untuk mengingat diri, mengingat tuhanpun ia tidak mampu. Dia lenyap ke dalam Tuhannya, dan kesadaran ketuhananpun lenyap dari dirinya. Ibarat mutu (emas yang sudah menjadi perhiasan) yang lenyap di dalam emas, maka ia tidak lagi mengetahui, apakah ia emas atau mutu? Apakah ia seorang hamba atau Tuhan???


Terakhir, bait kelima belas Hamzah menganalogikan dirinya sebagai yang dlaif tapi tidak terpisah dari Dzat al-Sharif (Tuhan). Walaupun tubuhnya terlihat keras (seperti buih) karena asalnya air maka hakikatnya lembut juga (air). Seperti buih yang senantiasa terpaut (washil) dengan laut; Hamzah pun senantiasa terpaut dengan Tuhannya.


Penulis: Ramli Cibro (Dosen Jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam Prodi Pengembangan Masyarakat Islam STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh)

Editor: Khoirum Millatin

Published 1 day ago on 09/08/2023 By JATMAN Online

Selasa, 08 Agustus 2023

Mahabbah, Menempuh Jalan Menuju Allah


 Istilah mahabbah secara bahasa berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yang berarti mencintai secara mendalam, khususnya kepada Allah. Jika umat Islam mencari mahabbah atau cinta murni ini, kemudian mencapainya ia akan dimuliakan Allah.

Syekh  Abdurrahman bin Muhammad Al-Anshari Ad-Dabbaq dalam kitab Masyriq Anwaar Al-Qulub wa Mafatih Asrar Al-Ghuyb menjelaskan,

“Sesungguhnya mahabbah (cinta) tidak dapat diungkapkan hakikatnya kecuali oleh orang yang merasakannya. Barangsiapa merasakannya, maka cinta itu akan menguasai pikirannya dan dapat membuatnya lupa akan apa yang sedang dia alami. Dan ini merupakan perkara yang tidak dapat diungkapkan.”

Perumpamaannya adalah seperti orang yang Şakar (mabuk berat). Jika dia ditanya tentang hakikat mabuk yang dialaminya, maka dia tidak akan dapat mengungkapkannya dalam ahwal ( keadaan) seperti itu. Sebab mabuknya telah menguasai akalnya. Adapun perbedaan antara dua jenis mabuk ini adalah bahwa mabuk yang disebabkan oleh minuman keras merupakan suatu hal yang insidential dan bisa dihilangkan. Orang yang mabuk bisa menjelaskan keadaannya ketika dia sudah sadar. Sementara mahabbah (mabuk cinta) merupakan sesuatu yang esensial dan tidak dapat dielakkan. Orang yang mengalaminya tidak mungkin sadar darinya, sehingga dia tidak dapat menjelaskan hakikatnya. Seorang sufi bersyair,

Orang yang mabuk karena khamar akan sadar

Dan orang mabuk karena cinta akan mabuk selamanya.

Imam Al-Qusyairi dalam Risalah Al-Qusyairiyah menjelaskan, 

“Cinta Allah (mahabbatullah) kepada hamba adalah pujian Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, dan Allah memuji dengan Sifat Jamal (Keindahan) Nya. Makna cinta Allah kepada hamba menurut pandangan ini yaitu kembali kepada Kalam-Nya, dan Kalam-Nya adalah Qadiim.”

Cinta-Nya kepada si hamba termasuk dari af’al (Perbuatan-Nya) sebagai Tajalli Ihsan-Nya, di mana Allah menemui hamba-Nya sekaligus Ihwal Ruhani khusus, di mana si hamba menaiki maqamatnya. Sebagaimana ungkapan ulama sufi, ‘Rahmat-Nya kepada si hamba adalah menyertai Nikmat-Nya’. Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya. Dan barangsiapa tidak mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun tidak mencintai pertemuan dengannya’ (HR. Bukhari dan Muslim).

Maqam mahabbatullah merupakan fase tertinggi dan menjadi tujuan bagi tasawuf. Dalam salah satu doa dari amalan Thariqoh Naqsyabandiyah mendawamkan,

الهي أنت مقصودى ورضاك مطلوبي اعطني محبتك ومعرفتك

“Ya Tuhanku, Engkaulah yang aku maksud dan Ridha-Mu yang aku tuntut. Berikanlah kepadaku rasa cinta kepada-Mu dan juga mengenal-Mu.”

Untuk mendapatkan cinta mendalam kepada Allah bukan perkara yang mudah. Untuk itu seseorang harus dapat menghilangkan secara mutlak segala sesuai yang dibenci oleh kekasinya. Syekh Sayyidi Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitab Sirrul Al-Asrar menerangkan,

“Cinta kepada Allah (Mahabbatullah) tidak akan diperoleh kecuali engkau menjungkalkan hawa nafsu yang ada dalam dirimu, berupa nafsu ammarah, nafsu lawwamah dan nafsu mulhamah. Kemudian engkau bersih wujud dirimu dari akhlak binatang jinak (bahimiyah) seperti suka banyak makan, banyak minum, banyak tidur dan berhura-hura. Engkau juga harus membersihkan wujud dirimu dari sifat-sifat binatang buas (sabu’iyyah) seperti marah, mencaci, memukul dan membentak. Dan engkau juga harus membersihkan wujud dirimu dari sifat-sifat setan (syaitaniyyah) seperti ujub, sombong, membanggakan diri, dengki, dendam dan yang lainnya yang mampu merusak tubuh dan hati.”

Jika engkau telah bersih dari sifat-sifat dan akhlak buruk itu, berarti engkau sudah bersih dan suci dari pangkal dosa, dan engkau termasuk golongan orang-orang yang bersuci dan bertaubat. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Qs. Al-Baqarah: 222).

Untuk mendapatkan cinta mendalam dari Allah yang hakiki perlu melewati berbagai ujian dan pengorbanan.

Syekh Sayyidi Abdul Qadir Al-Jilani dalam Futuh Al-Ghaib kembali menjelaskan,

“Allah menguji hamba-Nya yang beriman sesuai dengan kadar imannya. Semakin kuat keimanan seseorang, semakin besar pula cobaannya. Cobaan yang dihadapi para rasul lebih besar dari pada seorang nabi, karena iman rasul lebih tinggi dari pada iman seorang nabi. Cobaan yang dihadapi seorang nabi lebih besar daripada cobaan seorang khalifah. Cobaan seorang khalifah lebih besar daripada cobaan seorang wali. Setiap orang diuji sesuai tingkat keimanannya dan keyakinannya.”

Tentang ini Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya kami para nabi, adalah manusia yang paling banyak diuji. Kemudian di bawah mereka adalah orang yang lebih rendah kedudukannya dan seterusnya.” (Hr. Bukhari).

Karena itulah Allah terus menguji para pemimpin yang mulia ini agar mereka selalu berada di sisi-Nya tanpa lengah sedikitpun. Allah Ta’ala mencintai mereka, dan mereka dipenuhi cinta kepada-Nya. Seorang pecinta (muhibbin) tidak akan pernah menjauh dari ke kasih yang dicintainya, meskipun segunung ujian sudah siap di depan mata.


Editor: Khoirum Millatin

Published 3 weeks ago on 15/07/2023 By Budi Handoyo

Senin, 07 Agustus 2023

Pergerakan Tauhid Sufi dalam Memberkahi Kehidupan Masyarakat Era Modern

     


Era modern ditandai dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Kemajuan iptek sangat bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Namun apabila ditinjau dari sisi ruhani, kemajuan iptek membawa kepada kepada kemerosotan Iman (aqidah) dan moral (akhlak). Mengapa demikian? Hal ini disebabkan lemahnya ketauhidan pada diri masyarakat. Masyarakat tidak memanfaatkan kemajuan iptek ke arah yang positif melainkan menggunakan iptek ke arah yang negative. Salah satunya media massa sebagai tempat untuk memfitnah dan penyebaran hoaks.

Apa yang harus dilakukan untuk mengatasi problematika di atas? Inilah tugas para ulama-ulama sufi yang bertugas membersihkan kotoran-kotoran hati sebagai puncak timbulnya berbagai perbuatan yang bertentangan dengan syariat.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw.

إلا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذ فسدت فسد الحسد كله الا وهي القب

“Ketauhilah bahwa dalam jasad anak adam terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika ia buruk maka buruklah seluruh jasadnya. Ketauhilah bahwa segumpal daging tersebut adalah hati.” (HR. Bukhari).

Maka untuk menghilangkan keburukan hati adalah dengan ajaran tauhid sufi. Istilah tauhid ini disebut juga tauhid Irfani atau tauhid hakiki, sebagai ruh nya islam dan ruhnya dakwah Rasullallah saw. yang diteruskan oleh para sahabat, tabi’in dan para murysid sufi dari kalangan wali Allah. Adapun Tauhid itu terdiri empat tingkat;

1. Tauhid I’tiqadi

فاعلم انه، لا إله إلا الله

“Maka ketauhilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah.” (Qs. Muhammad: 19).

Tauhid ini disebut  juga tauhid kalam. Akal memahami sifat-sifat Allah. Ia adalah sebagai pintu untuk memasuki wilayah tauhid sufi. Pengenalan pada Allah hanya pada akal. Ia untuk mengesahkan iman dan ilmu. Para ahli sufi pada tahap ini amat menekankan kepada kefahaman nafi dan isbat.

Kebanyakan pengajian hanya terhenti pada tauhid ini. Malah di pesantren-pesantren sekalipun hingga berlarutan kepada pembahasan pembahasan yang berlebihan. Tauhid ini tidak mampu mengubah nafsu, menghancurkan ananiah diri dan merasakan nikmat ibadah.

Banyak para ulama sendiri hanya terhenti pada tauhid kalam ini dan memfokuskan keilmuan kepada bidang-bidang ilmu yang lain dan mengabaikan aspek makrifat, penyucian nafsu dan membina akhlak.

2. Tauhid Dzauqi

وهو معكم أين  ما كنتم

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (HR. al-Hadid: 4).

Tauhid pada martabat ini sudah dapat merasai sifat-sifat Allah pada hatinya hingga merasai ketiadaan sifatnya, hatinya merasai asyik, rindu dan cinta dan kebersamaan Allah dalam kondisi apapun hingga merasai amat faqir. Tauhid pada martabat ini sudah dapat mencapai kelezatan ibadah, perubahan jiwa, dan akhlak dan merasai tenang dalam menghadapi segala permasalahan.

3. Tauhid Syuhudi

شهد الله أنه، لا إله إلا هو

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia.” (HR. Ali-Imran: 18).

Ruhnya telah dikaruniakan cahaya syuhudiyah sehingga matahatinya dapat merasai dan menyaksikan sifat-sifat Allah pada dirinya dan alam hingga tidak terlihat lagi sifatnya dan alam, terasa dan terlihat kefakiran dirinya yang mengakibatkan ia merasa tidak dapat melakukan apapun melainkan dengan Allah.

Tauhid ini sudah dapat menghancurkan ananiah dirinya dan kesyirikan yang halus-halus karena cahaya makrifat telah masuk menerangi hatinya dan hilanglah segala kegelapan berupa kebodohan dan dosa pada hatinya. Ibarat sebuah laser yang dapat menghancurkan kuman-kuman dalam tubuh. Maka lahirlah akhlak yang mulia dan baik adabnya dengan Allah dan sesama insan.

4. Tauhid Wujudi

قل هو الله أحد

“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa [ QS. Al-Ikhlas: 1 ].

Cahaya Syuhudiyah semakin kuat terpantul dalam jiwanya hingga dirinya hilang terhapus dalam Wujud Allah, ketika itu dirinya menyaksikan bahwa Allah jua memandang Allah dan dirinya tiada.

Tauhid Syuhudi dan Tauhid Wujudi

Ia bagaikan hilang cahaya lampu dalam cahaya matahari, semakin kuat sinar matahari maka cahaya lampu semakin lenyap, jika masih terlihat sedikit bayangnya cahaya lampu, ia dipanggil syuhudi, jika kuat lagi sinarnya akan tiada lagi kelihatan cahaya lampu tersebut walaupan cahaya tersebut ada maka inilah tauhid wujudi.

Tauhid ini akan menjadikan seseorang itu mampu menguasai dunia, kepemimpinan dan lainnya karena tiada lagi dirinya, kepandaiannya, kekuatannya, kekayaannya, kekuasaannya dan segala apapun sifat kesempurnaan melainkan Allah juga. Ulama tasawuf mengatakan:

وجود زنب لك

“Wujudmu adalah dosa bagimu.”

Dalam wilayah tauhid ini pemahaman tanzih dan tasybih sangat penting karena pandangan syuhudnya sudah menyatu dan telah hilang segala sesuatu selain Allah.

Allah telah tasybihkan sifat-sifat Nya di alam ini agar diri-Nya dapat dikenali namun dalam masa yang sama Allah tanzihkan bahwa segala sifat yang Allah tajallikan atau dipantulkan pada alam ini tiada menyamai akan Sifat-sifat Nya yang hakiki.

Taraqqi seorang hamba kepada Allah tiada menjadikan mereka Allah, tanazul bagi Allah tiada menjadikan Diri-Nya hamba.

Syekh Abdul Karim Al-Jili dalam Kitab al-Insan al-Kamil berkata:

“Apabila diri seorang hamba hancur akibat pantulan sifat Jalal-Nya, maka diri yang hancur akan dipersalinkan dengan sifat Jamal-Nya yang bernama Al-Latif, maka muncul diri yang baru bernama al-Ibad yang penuh dengan sifat-sifat yang halus dan indah (nafsu amarah, lawwamah, mulhamah, telah bertukar kepada nafsu muthma’inah, radliah, mardliah, dan kamilah)”.

Bagaimana mendapatkan tauhid Sufi?

Tauhid ini tiada didapatkan dengan jalan  kitab dan pengajian tetapi dengan memiliki mursyid yang benar (makrifat, ilmu, sanad, adab, dan syariatnya), menerima baiat, talqin dan bersubhha dengannya.

Kiyai Haji Zein Djarnuzi berkata, “Seseorang menjadi wali karena dia terlebih dahulu berkhidmat kepada wali.”

Adapun kriteria murysid yang arif billah adalah:

1. Nur yang berada dalam dada murysid hanya akan mengalir ke dada dengan getaran cinta yang dihiasi dengan adab dan faqir

2. Mursyid ialah mereka yang telah mencapai tauhid Wujudi dengan benar, yang mencapai Baqi lantaran senantiasa dalam muwajahah dengan Allah yakni senantiasa berada dalam keberadaan Allah

3. Ruhaniyahnya telah tenggelam ke dalam hakikat (alam lahut) hingga diperoleh ilmu ladduni, kasyf, dan ilham, waridat-waridat yang membawa dirinya tiada lagi kecintaan terhadap nafsu dan apapun di alam ini

4. Dirinya menjadi penyambung atau wasilah antara umat ini dengan Rasullallah. Tanpa cahaya nabi dalam jiwa, insan tiada akan mampu mencapai Makrifatullah

5. Para sahabat mengambil limpahan makrifat, kelezatan ruhani, akhlak, ibadah dan syariat dari Rasullallah. Rasullullah al-qur’an yang hidup di hadapan mereka

6. Karena jasad Rasullullah sudah tiada, maka insan bertaut dengan para pewaris Muhammadiyah untuk mendapatkan limpahan makrifat, kelezatan ruhani, adab serta syariat

7. Pewaris Muhammadiyah ada dua macam yaitu pewaris umum yakni ulama syariat dan pewaris khusus yakni para murysid yang telah mencapai ilmunya dari alam lahut (Sirrul Asrar).

Maka dengan peran para murysid arif billah inilah yang dapat mendakwakan dan memberkati tauhid sufi dari keempat tingkatan ini kepada masyarakat tidak hanya untuk menghilangkan perbuatan-perbuatan dosa maksiat dan juga untuk menghilangkan syirik khafi yaitu ananiah diri.

Sebagaimana penyakit-penyakit berbahaya yang tidak bisa disembuhkan kecuali dengan dokter spesialis, begitu juga penyakit bathin yang banyak terjangkit di masa ini, maka perlulah ada mursyid spesialis yang dapat mendiagnosa penyakit-penyakit itu melalui dengan terapi ruhani berupa zikir, suluk dan tawajjuh. Dan memberikan resep obat yang paten yaitu tauhid sufi. Dengan tauhid sufilah sebagai obat yang mujarab untuk dapat menghilangkan penyakit-penyakit batin yang akut yaitu anania diri.

Penulis: Budi Handoyo

Editor: Khoirum Millatin

Published 2 weeks ago on 28/07/2023 By Budi Handoyo

Selasa, 18 Juli 2023

Khalwat dan Uzlah Sebagai Terapi Ruhani




Dalam ilmu tasawuf kita telah mengenal istilah khalwat dan uzlah yang merupakan dua kedudukan ruhani salik (maqamat) yang saling menyertai.

Khalwat dan uzlah adalah salah satu praktik dalam tarekat Sufi. Adapun tarekat itu jalan seseorang untuk menuju Allah di bawah bimbingan mursyid dengan mengamalkan segala ketentuan syariat untuk sampai kepada hakikat, yaitu Hadrat Ilahiyyah.

Syekh Ahmad Zarruq dalam Qawa’id al-Tashawwuf menyatakan bahwa, “Khalwat lebih spesifik dari uzlah, khalwat tidak dilakukan di dalan masjid, meskipun ada juga khalwat dilakukan dalam masjid.”

Khalwat dan uzlah tidak seperi yang dipahami oleh masyarakat awam yaitu dengan menyendiri di padang pasir, hutan belantara dan gua-gua ataupun meninggalkan dan memutuskan interaksi sosial dalam masyarakat. Adapun makna Khalwat dan uzlah sebagai mana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Raudhah ath-Thalibin,

“Khalwat itu dengan hati sehingga ia tenggelam sepenuhnya bersama Allah. Hatinya itikaf, terpesona, dan rindu kepada-Nya, seraya meyakini seakan-akan Dia hadir di hadapannya.”

“Seseorang mengatakan bahwa prinsip pertama ketika suluk hendaknya memperbanyak zikir (zikir yang di talqin oleh mursyid) dengan hati dan lidah, hingga zikir itu mengalir ke seluruh tubuh dan otot-otot. Lalu, zikir itu beralih ke hati. Saat itulah lidahnya diam dan hatinya tetap berzikir dengan mengucapkan الله الله الله dalam hati tanpa melihat zikirnya. Kemudian hatinya, diam dan tetap melihat apa yang ia cari. Ia tenggelam dalam itikaf kepada-Nya, terpesona dan menyaksikan-Nya. Lantas haibah (hilang) dari dirinya karena Musyahadah al-Haq (menyaksikan) ia fana dari kulliyat (keseluruhan) dirinya karena kulliyat-Nya, hingga seolah-olah ia di Hadhrat-Nya, sebagaimana Firman-Nya, ” kepunyaan siapakah kerajaan hari ini? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa Lagi Maha Mengalahkan, ” (QS. Ghafir: 16).”

“Ketika itu Allah ber-tajalli menuju hatinya hingga ia bergetar dan asyik (terpesona) karena mengalami kemabukan dan hudhur mengagungkan. Hatinya tak bisa lagi menampung, selain tujuannya yang paling Agung, seperti dikatakan, ” Orang-orang yang sampai kepada ahlu al-hudhur tak membutukan selain Syuhud-Nya. Allah berfirman, “Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan, ” (QS. Al-Buruj: 3).

Imam Al-Qusyairiy dalam Risalah Al-Qusyairiyah sendiri menjelaskan bahwa khalwat (menyendiri pengaruh duniawi) adalah sifat Ahlu Tasawuf. Sedangkan Uzlah (mengasingkan diri) adalah lambang orang yang wushul kepada-Nya. Khalwat sangat diperlukan bagi murid pada awal kondisi Ruhaniyahnya. Sedangkan Uzlah pada akhir kondisi Ruhaniya, karena telah mencapai keakraban Ruhaniyahnya.

Adab uzlah harus dilandaskan dengan ilmu tauhid Irfani untuk memantapkan tauhidnya agar setan tidak menggodanya. Ia juga harus diperkuat dengan ilmu syariat agar segala urusannya berada di atas dasar pondasi yang kokoh.

Sesungguhnya uzlah adalah menjauhi sifat-sifat keburukan, mengubah sifat buruk itu, bukannya menjauhkan diri lewat jarak tempat. Itulah sebabnya mengapa lahir pertanyaan, “Siapakah orang Arif Billah itu?” Mereka menjawab, “Orang-orang yang secara jelas bersama makhkuk, namun jauh dari mereka dengan segala sirri (rahasianya).”

Syekh Abu Yazid Al-Busthami mengatakan, “Aku melihat Tuhan dalam mimpi. Lalu aku bertanya, ‘Bagaimana aku harus menjumpai-Mu? Tuhan menjawab, ‘Tinggalkan keakuan dirimu dan kemarilah’.”

Hubungan interaksi dengan masyarakat sangat mempengaruhi kondisi batin bagi pemula para ahli tarekat atau para salik tingkat mubtadi (awal). Selama ia belum dapat benar-benar wushul dan makrifat kepada Allah. Maka selama  masa khalwat dan uzlah para salik tingkat mubtadi selalu senantiasa istiqamah ber zikir, riyadhah dan mujahadah. Hal ini wajib di bawah bimbingan mursyid. Di samping patuh dan menjaga adab terhadap mursyid, supaya cahaya-cahaya makrifat mursyid mengalir kepada salik.

Khalwat dan uzlah sebagai salah satu bentuk terapi ruhani, agar fisik, hati, nafsu dan ruhnya tetap bersama Allah dalam segala waktu. Kalau tidak sudah tentu hati dan nafsu salik akan terpengaruh dari perkara-perkara duniawi yang dapat menjadi tabir penghalang untuk wushul kepada Allah.

Syekh  Sayyidi Abdul Qadir Isa Al-Hallabi Asy-Syadzili mengatakan bahwa ada dua macam Khalwat, yaitu khalwat umum dan Khalwat khusus.

Khlawat umum adalah seorang mukmin yang menyepikan dirinya untuk berzikir kepada Allah Ta’ala dengan lafal apa saja, atau untuk membaca Al-Qur’an atau untuk melakukan muhasabah atau untuk bertafakur tentang penciptaan Langit dan bumi. Sedangkan khalwat khusus bertujuan untuk sampai ke maqam Ihsan dan makrifat. Khalwat tingkatan ini tidak dapat dilakukan tanpa bimbingan seorang Murysid yang Arif Billah. Dialah yang mendiktekan lafal zikir tertentu kepada muridnya. Lalu dia terus menjaga hubungan dengan muridnya untuk menghilangkan keraguan yang ada dalam hatinya. Mursyid juga perlu memotivasi agar sampai ketingkatan makrifat, melenyapkan segala hijab dan bisikan dalam jiwa dan membawanya dari alam Khalqiyah ke alam Uluhiyah.

Seorang murid tidak boleh beranggapan bahwa khalwat adalah akhir pendakian (Manazil). Khalwat tidak lain hanyalah langkah awal dalam perjalanan menuju Allah. Setelah melakukan Khalwat pertama, seorang murid dituntut untuk melakukan khalwat-khalwat berikutnya. Dia juga harus melakukan mujahadah yang panjang dan muzakarah secara terus-menerus bersama mursyidnya dengan penuh semangat, jujur dan istiqamah.

Selain itu, seorang murid terus melakukan zikir dengan Isim Ismu Dzat الله الله الله pada pagi dan petang hari, serta pada waktu luang yang dimilikinya, sehingga ia dapat berinteraksi secara terus menerus dengan Allah. Dengan demikian, dia telah menggabungkan dua tingkatan Ihsan, yakni muraqabah dan musyahadah sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi Muhammad saw. dalam sabdanya, “Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Sekiranya engkau tidak melihat-Nya, maka Allah melihatmu.” (HR. Bukhari).

Dengan demikian dapat dipahami, khalwat adalah memutuskan hubungan dengan manusia dan meninggalkan segala aktivitas duniawi untuk tertentu, agar hati dapat dikosongkan dari segala aktivitas hidup yang tidak ada habisnya dan akal dapat beristirahat dari kesibukan sehari-hari yang tidak ada ujungnya. Selain itu, khalwat adalah zikir kepada Allah dengan hati yang hadir dan khusyuk, serta tafakur tentang nikmat dan karunia-Nya di waktu siang dan malam hari. Yang demikian ini dilakukan oleh murid dibawah bimbingan seorang Murysid yang makrifat kepada Allah, yang dapat mengajarinya apabila dia tidak tahu, mengingatkannnya apabila dia lalai, memotivasinya apabila dia malas, dan membantunya untuk mengatasi segala gangguan  dan apa-apa yang terlintas dalam hatinya

Sumber:
Kitab Raudhat ath-Thalibin wa Umdatu Salikin, dalam Majmu Rasa’il Al-Ghazali, Maktabah Al-Tawfikiyah, Al-Qaherah
Kitab Risalah Al-Qusyairiyah fi ilm Al-Tashawwuf, Maktabah Al-Tawfikiyah Al-Qaherah
Kitab Haqa’id at-Tashawwuf, Dar At-Taqwa, Damaskus

Penulis: Budi Handoyo
Editor: Khoirum Millatin