Rabu, 06 November 2024

Kisah Rabiatul Adawiyah: Sufi Perempuan yang Mengajarkan Cinta Sejati kepada Allah

Rabiatul Adawiyah adalah salah satu tokoh sufi perempuan yang sangat terkenal dalam sejarah Islam. Kisah hidupnya menjadi teladan abadi bagi umat Islam, terutama dalam hal cinta kepada Allah yang tulus tanpa pamrih. Melalui hidupnya yang penuh ujian dan ketekunan dalam beribadah, Rabiatul menunjukkan bahwa cinta yang sejati bukanlah tentang mencari balasan duniawi, tetapi semata-mata karena kecintaan yang mendalam kepada Tuhan.

Latar Belakang Kehidupan Rabiatul Adawiyah

Rabiatul Adawiyah lahir pada abad ke-8 di kota Basra, Irak, yang pada saat itu merupakan pusat peradaban dan ilmu pengetahuan Islam. Sebagai anak dari keluarga miskin, hidupnya tidak mudah sejak kecil. Ia kehilangan kedua orang tuanya ketika masih muda, dan kemudian diculik oleh para perampok yang menjualnya sebagai budak. Kondisi yang penuh penderitaan ini tidak mengurangi semangat Rabiatul untuk terus mencari jalan menuju Allah. Kehidupannya yang penuh cobaan justru memperkuat tekadnya untuk hidup hanya untuk Allah.
Di tengah kesulitan hidup, Rabiatul tetap menjaga kesucian hati dan kedekatannya dengan Allah. Konon, meskipun dalam keadaan sebagai budak, ia selalu menjaga keimanan dan ibadahnya dengan penuh kesungguhan. Pada masa itu, ia dikenal dengan sikapnya yang tenang, rendah hati, dan selalu mengingat Allah dalam setiap langkah hidupnya. Bahkan, meskipun berada dalam situasi yang penuh penderitaan, ia selalu berdoa kepada Allah dengan penuh keyakinan, menunjukkan bahwa keimanan sejati tidak tergantung pada keadaan duniawi.

Keputusan untuk Tidak Menikah: Cinta kepada Allah yang Utama

Salah satu keputusan yang paling terkenal dalam hidup Rabiatul adalah keputusannya untuk tidak menikah. Pada masa mudanya, Rabiatul ditawari banyak lamaran, tetapi ia dengan tegas menolaknya. Ia mengatakan bahwa cintanya hanya untuk Allah dan bahwa tidak ada yang lebih penting baginya selain mengabdi kepada-Nya. Dalam satu riwayat, Rabiatul berkata, "Jika aku menikah, aku akan terbagi perhatiannya antara suami dan Allah. Namun, aku ingin seluruh hatiku hanya untuk Allah."
Keputusan Rabiatul untuk menolak pernikahan ini bukan karena penolakan terhadap pernikahan itu sendiri, tetapi lebih kepada tekadnya untuk mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadah kepada Allah. Menurut Rabiatul, pernikahan adalah ikatan duniawi yang dapat mengalihkan perhatian dari cinta kepada Allah. Baginya, cinta kepada Allah adalah cinta yang paling murni dan tidak membutuhkan pamrih. Keputusan ini menginspirasi banyak orang, terutama perempuan, untuk mengejar kedekatan dengan Allah tanpa merasa dibatasi oleh norma sosial atau harapan duniawi.

Kecantikan yang Menggugah Hati, Suara Merdu, dan Keteguhan Iman
Rabiatul Adawiyah dikenal juga sebagai wanita yang sangat cantik dan memiliki suara yang merdu. Namun, meskipun memiliki daya tarik fisik yang luar biasa, ia tidak pernah terjebak dalam kebanggaan duniawi. Rabiatul selalu menjaga penampilannya agar tetap sederhana dan lebih fokus pada peribadatan. Ia tidak ingin kecantikan luar menjadi hal yang mengalihkan dirinya dari jalan spiritual.
Suatu ketika, Rabiatul mendengar seorang lelaki memuji kecantikannya. Namun, ia dengan rendah hati berkata, "Jika kecantikan ini dapat menjauhkan aku dari cinta kepada Allah, maka aku lebih memilih untuk tidak memilikinya." Dalam kata-katanya, ada ketegasan bahwa kecantikan sejati adalah kecantikan hati yang disinari oleh cahaya keimanan kepada Allah. Rabiatul mengajarkan bahwa segala bentuk kekayaan atau kecantikan fisik hanya sementara dan tidak ada bandingannya dengan kecantikan hati yang dipenuhi cinta kepada Sang Pencipta.

Dalam kebersamaan, kita temukan kedamaian.

Temukan kisah, nilai, dan inspirasi dari tanah kelahiran di blog kami:

Majelis Sekumpul - Sadulur Salembur

📖 Baca sekarang dan rasakan hangatnya budaya dan spiritualitas lokal.

#MajelisSekumpul #SadulurSalembur #BlogKomunitas #NilaiLokal

Terima kasih telah membaca di Majelis Sekumpul - Sadulur Salembur.

Jangan lupa bagikan artikel ini jika bermanfaat!

Sabtu, 19 Oktober 2024

Sholawat Mubrom

*SHOLAWAT MUBROM*
(Untuk Terhindar dari Musibah)

Teks sholawat Mubrom sebagai berikut:

اَللهُم صَل وَسَلمْ عَلَى سَيدِ نَامُحَمدٍ وَادْفَعْ عَنا مِنَ اْلبَللآءِاْلمُبْرَمِ اِنكَ عَلَى كُل شَيْئٍ قَدِيْرٍ.

(Allâhumma sholli wa sallim alâ Sayyidinâ Muhammadin wadfa’ annâ minal balâa-il mubromi innaka alâ kulli syai-in qodîr.)

Artinya :
Ya Allah! Ya Tuhan kami Sampaikanlah Rahmat dan keselamatan atas pemimpin kami Nabi Muhammad SAW, dan dengan bertawasul kepada kemuliaan Beliau hindarkanlah kami dari berbagai macam musibah dan malapetaka yang telah engkau pastikan, Sesungguhnya Engkau maha Kuasa atas segala sesuatu.

*FAEDAH SHOLAWAT MUBROM:*

➡️ dibaca semampunya tiap hari supaya dijauhkan dari berbagai macam musibah. Insya Allah. 

➡️ Agar di baca sebanyak 100 x setiap hari dari tanggal 1 s/d tanggal 30 shofar, Insya Allah kita dapat terhidar dari berbagai macam malapetaka baik yang besar maupun yang kecil. 

➡️ Agar terhindar Mimpi yang buruk maka bacalah sholawat mubrom sebanyak 7 x, baik sebelum tidur ataupun ketika terjaga dari tidur karena disebabkan mimpi yang buruk.

*riwayat:*

Bulan shofar adalah bulan ke kedua dalan tahunan hijriyah berdasarkan hitungan setelah hijrahnya Nabi Muhammd SAW ke kota Madinah. 

Pada bulan itu Allah SWT banyak menurunkan berbagai macam bahaya dari dari pada bulan –bulan lainnya. Dan untuk menangkalnya Nabi Muhammad SAW memberikan Sholawat Mubrom. 

Arti َالْمُبْرَمُ (Al-Mubrom) dalam kamus Bahasa Arab adalah sesuatu hal yg sulit terelakan atau terhidarkan (sesuatu yang pasti). 

Jika seseorang ditakdirkan Allâh akan mendapatkan bahaya atau kecelakaan pada suatu hari, maka dengan membaca sholawat ini pada hari itu, insyâ Allâh, ia akan terhindar dari bahaya tersebut. Kalau pun terkena, hal itu tidak akan membahayakan.

Wallahu A'lam bisshowab

Dalam kebersamaan, kita temukan kedamaian.

Temukan kisah, nilai, dan inspirasi dari tanah kelahiran di blog kami:

Majelis Sekumpul - Sadulur Salembur

📖 Baca sekarang dan rasakan hangatnya budaya dan spiritualitas lokal.

#MajelisSekumpul #SadulurSalembur #BlogKomunitas #NilaiLokal

Terima kasih telah membaca di Majelis Sekumpul - Sadulur Salembur.

Jangan lupa bagikan artikel ini jika bermanfaat!

Kisah Kyai Hamid dan Sandalnya

[Sumber : Kisah para Kekasih] KETIKA SANDAL KYAI HAMID PASURUAN HILANG

Keluar dari Masjid pagi itu, sandal yang dipakai Romo Yai Hamid, raib.

"Ada apa Yai?" tanya seorang jamaah melihat Yai Hamid.

"Sandalku ilang," jawab beliau.
Akhirnya Seorang jamaah datang sambil menghaturkan sandalnya agar dipakai Yai Hamid.

"Alhamdulillah," ucap Yai Hamid. "Ambil sandalmu di Makkah ya!" kata Yai Hamid tersenyum sambil lalu.

Waktu pulang, yang punya sandal mikir, bingung dengan ucapan Yai Hamid.
Belum lama nyampe rumah. Datang seorang tamu minta tolong dicarikan rumah yang di jual.

Belum ada 10 menit tamu pulang, datang tetangga sebelah sambat butuh uang dan berencana menjual rumahnya. "Oh kebetulan barusan ada orang cari rumah," jawab dia.
Dan akhirnya yang punya sandal tadi mendapatkan komisi penjualan rumah tetangganya lumayan besar dan cukup buat daftar haji.

Ketika menunaikan haji, waktu umroh, tiba tiba ada orang memanggilnya yang ternyata adalah Kyai Hamid. "Ini lho sandal sampean aku kembalikan?"
ucap Yai Hamid sambil tersenyum.

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Semoga kita senantiasa mendapat Ridlo dari Allah, Syafaat dari Rasullullah, Karomah para Waliyullah, Barokah para Kiai dan Habaib serta wasilah doa orang tua.

Alfatihah..

Adab Mbah Dullah Kepada Gurunya

ADAB MBAH DULLAH KEPADA GURUNYA

Mbah Dullah (KH Abdullah Salam) Sewaktu akan memberi sambutan, tiba2 turun dari panggung, padahal didepan panggung sudah duduk para kiai, pejabat pusat maupun daerah dan ribuan santri maupun tamu undangan, Mbah Dullah turun dan ngeloyor pergi menemui penjual dawet dipinggir jalan. Mbah Dullah dg ta’dzim menyapa penjual dawet dan mencium tangannya.

Ribuan pasang mata menyaksikan peristiwa itu, mereka bertanya-tanya siapakah penjual dawet ini, sampai mbah Dullah seorang kiai sepuh dan kesohor waliyullah dari Kajen-Margoyoso, Pati, Jwa Tengah ini mencium tangannya. Setelah mencium tangan penjual dawet, mbah Dullah kembali lagi ke panggung dan berpidato dg singkat :

” Tawasul itu penting untuk nggandengkan taline gusti Allah,” sembari mensitir ayat . ‏وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا ...

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai, dan ingatlah kalian semua akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu semua karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara... (QS. Ali-Imron 103) dan wa alaikum salam.

Kemudian beliau mandab (turun) dan duduk di kursi bawah panggung. Ketika Mbah Dullah ditanya siapa penjual dawet tersebut, Mbah Dullah mengatakan :

” beliau adalah guru ngajiku sewaktu kecil, beliau yg mengajarkan aku cara membaca fatihah, sehingga sebab beliau aku bisa membaca alquran, bisa beribadah kpd Allah & mendekat kepadanya,” . Mbah Dullah memberi tahu salah satu cara menggadengkan tali Allah (sesuai dawuh syekh abdul qodir al jilani) adalah dg tawasul.

Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar Walahaulawala Quwwata illabilla hil 'aliyil 'azhim. Allahumma sholli 'ala Muhammad, wa 'ala ali Muhammad. Astaghfirullahal 'azhim wa atubu ilaih

Dalam kebersamaan, kita temukan kedamaian.

Temukan kisah, nilai, dan inspirasi dari tanah kelahiran di blog kami:

Majelis Sekumpul - Sadulur Salembur

📖 Baca sekarang dan rasakan hangatnya budaya dan spiritualitas lokal.

#MajelisSekumpul #SadulurSalembur #BlogKomunitas #NilaiLokal

Terima kasih telah membaca di Majelis Sekumpul - Sadulur Salembur.

Jangan lupa bagikan artikel ini jika bermanfaat!

Bayi Itu Namanya Maimoen

Bayi Itu Namanya Maimoen

Jarak setahun pasca didirikannya Nahdlatul Ulama (16 Rajab 1344 H/ 31 Januari 1926 M), yaitu 1927, terdengar musibah besar yang menimpa Kiai Hasyim Asy’ari selaku Rais Akbar Nahdlatul Ulama. Menantu yang sangat dicintainya telah kembali kembali ke Rahmatullah, Kiai Ma’shum Ali Kwaran. Wajar saja, jika Kiai Hasyim Asy’ari sangat bersedih sebab Pesantren Tebuireng semakin ramai kajian keilmuannya semenjak Kiai Ma’shum Ali bergabung dalam mengajar. Ialah orang yg menggagas berdirinya Madrasah Salafiyah Syafi’iyah yang menelurkan ribuan ulama pada waktu itu. terlebih ia mempunyai dua anak yang masih kecil, Abidah dan Jamilah. Untuk menghilangkan kesedihan ini akhirnya, Kiai Hasyim Asy’ari hendak mencari pengganti Kiai Ma’shum Ali. Sosok tersebut adalah Syaikh Muhaimin al-Lasemi, salah seorang pendiri Madrasah Darul Ulum 

Dengan meninggalnya Kiai Ma’shum Ali maka secara otomatis Nyai Khairiyah menjadi janda. Kiai Hasyim Asy’ari tidak ingin putri tertuanya tersebut larus dalam kesedihan, dan pengajar di Masjidil Haram.

Mendapat tawaran untuk menikahi Nyai Khairiyah, maka Syaikh Muhaimin al-lasemi meminta syarat permohonan kepada Kiai Hasyim Asy’ari agar masalah pernikahan tersebut dirembuk dengan Masyayikh Sarang, dalam hal ini adalah Kiai Syuaib Abdurrozak dan Kiai Ahmad Syuaib. Dengan senang hati Kiai Hasyim menyambut permintaan calon menantunya tersebut. Al-Lasemi tidak dapat hadir ke nusantara sebab wadifah mengajarnya tidak dapat ditinggalkan.

Mendengar Kiai Hasyim Asy’ari bersama rombongan (Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syansuri, dan Kiai Dahlan Jombang) akan berkunjung ke Pesantren Sarang, maka Kiai Ahmad menyuruh Kiai Zubair Dahlan untuk mengambil air kulah (jading wudu) yang nantinya dimintakan doa dan ludah kepada kiai-kiai Jombang tersebut. Air yang didoakan tadi nantinya akan diminumkan kepada Nyai Mahmudah yang waktu sedang dalam detik-detik melahirkan. Peristiwa itu terjadi tiga hari sebelum Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 M.

Berkah doa para Muassis Nahdlatul Ulama, akhirnya Nyai Mahmudah melahirkan dengan lancar pada 28 Oktober 1928 M. Bayi tersebut diberi nama Maimoen, yang kelak dikenal dengan Kiai Maimoen Zubair atau Mbah Moen Sarang. Nama Maimoen ini berasal dari mimpinya Kiai Zubair Dahlan saat istrinya sedang mengandung sekitar 7/8 bulan. Ia mimpi ditemui perempuan tua (nenek-nenek) yang memberikan pesan, “Wahai Zubair, jika kamu diberi rezeki anak laki-laki, maka namakan dia Maimoen.”

**
Selamat ulang tahun, kiaiku Kiai Haji Maimoen Zubair. Meskipun engkau sudah tiada, namun kami para santri dan muhibbin akan senantiasa mengingatmu, melanjutkan ajaran-ajaran yang engkau wejangkan kepada kami yang sanad keilmuannya bersambung kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

Yogyakarta, 27 Oktober 2021 
Amirul Ulum
(Santri Mbah Moen Sarang)
Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar Walahaulawala Quwwata illabilla hil 'aliyil 'azhim. Allahumma sholli 'ala Muhammad, wa 'ala ali Muhammad. Astaghfirullahal 'azhim wa atubu ilaih

Dalam kebersamaan, kita temukan kedamaian.

Temukan kisah, nilai, dan inspirasi dari tanah kelahiran di blog kami:

Majelis Sekumpul - Sadulur Salembur

📖 Baca sekarang dan rasakan hangatnya budaya dan spiritualitas lokal.

#MajelisSekumpul #SadulurSalembur #BlogKomunitas #NilaiLokal

Terima kasih telah membaca di Majelis Sekumpul - Sadulur Salembur.

Jangan lupa bagikan artikel ini jika bermanfaat!

Kebiasaan Orang-orang Shakeh Saadah Bani Alawi

Kebiasaan Orang-Orang Shaleh Saadah Bani Alawi

Kenapa para Saadah Alawiyin kemana-mana selalu membawa subhah (tasbih) baik dipegang atau di masukkan didalam sakunya?

Kenapa Saadah Alawiyin selalu melazimi minuman kopi di setiap majelisnya baik kopi asli ataupun yang sudah dicampur dengan susu dan Rempah-rempah lainnya?

Kenapa Saadah Alawiyin gemar sekali berziarah baik kepada Auliya ataupun Orang-orang yang dianggap golongan orang yang Shaleh baik yang hidup maupun yang sudah meninggal?

Ternyata inilah jawabannya.
Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad (Quthb Al-Irsyad Shohiburrotib) bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan Beliau mengatakan, "Ya Rasulullah berilah aku satu ucapan atau sabdamu yang belum pernah engkau sampaikan kepada para Sahabat, aku minta khusus buatku langsung dari Engkau Ya Rasulullah."

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

1. Siapa yang memegang tasbih maka dia dicatat sebagai orang yang bertasbih meskipun dia tidak bertasbih.
2. Siapa yang minum kopi (untuk menahan kantuk dari ta'at pada Allah Swt, misal: saat majelis, qiyamullail, dan sebagainya) selama aroma kopi itu masih ada dimulutnya maka malaikat memintakan ampun / beristighfar untuknya.
3. Barang siapa mengunjungi seorang Wali yang masih hidup maupun telah meninggal dunia, maka ibadahnya mengunjungi wali itu lebih baik dari pada ibadah selama 70 tahun sampai tulangnya Putus-putus."
Inilah kenikmatan dari Allah Swt melalui salah satu dzurriyah / keturunan Rasulullah Saw yang mulia kedudukan lahir dan batinnya dihadapan kakek beliau Saw yang Agung Sayyidina Muhammad Saw.

Diriwayatkan dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud bahwasanya Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang melihatku disaat tidur maka sungguh dia telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku." (HR. Imam At-Tirmidzi).

wallahu a'lam.....
Silakan dishare, semoga utas ini bisa menjadi penyejuk kita yang seminggu ini beraktivitas.

Doa terbaik minggu ini untuk beliau-beliau, para Habaib

Di Hadapan Mbah Kholil, Orang Sembuh Tanpa Sadar

Di Hadapan Mbah Kholil, Orang Sembuh Tanpa Sadar

Suatu hari, ada seorang keturunan Cina sakit lumpuh, padahal ia sudah dibawa ke Jakarta tepatnya di Betawi, namun belum juga sembuh. Lalu ia mendengar bahwa di Madura ada orang sakti yang bisa menyembuhkan penyakit.
Kemudian pergilah ia ke Madura yakni ke Mbah Kholil untuk berobat. Ia dibawa dengan menggunakan tandu oleh 4 orang, tak ketinggalan pula anak dan istrinya ikut mengantar.

Di tengah perjalanan ia bertemu dengan orang Madura yang dibopong karena sakit (kakinya kerobohan pohon).
Lalu mereka sepakat pergi bersama-sama berobat ke Mbah Kholil. Orang Madura berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. 

Kira-kira jarak kurang dari 20 meter dari rumah Mbah Kholil, muncullah Mbah Kholil dalam rumahnya dengan membawa pedang seraya berkata: “Mana orang itu?!! Biar saya bacok sekalian.”
Melihat hal tersebut, kedua orang sakit tersebut ketakutan dan langsung lari tanpa ia sadari sedang sakit. Karena Mbah Kholil terus mencari dan membentak-bentak mereka, akhirnya tanpa disadari, mereka sembuh.
Setelah Mbah Kholil wafat kedua orang tersebut sering ziarah ke makam beliau.

Sumber: 
Buku “Tindak Lampah Romo Yai Syeikh Ahmad Jauhari Umar”

Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar Walahaulawala Quwwata illabilla hil 'aliyil 'azhim. Allahumma sholli 'ala Muhammad, wa 'ala ali Muhammad. Astaghfirullahal 'azhim wa atubu ilaih

Dalam kebersamaan, kita temukan kedamaian.

Temukan kisah, nilai, dan inspirasi dari tanah kelahiran di blog kami:

Majelis Sekumpul - Sadulur Salembur

📖 Baca sekarang dan rasakan hangatnya budaya dan spiritualitas lokal.

#MajelisSekumpul #SadulurSalembur #BlogKomunitas #NilaiLokal

Terima kasih telah membaca di Majelis Sekumpul - Sadulur Salembur.

Jangan lupa bagikan artikel ini jika bermanfaat!

Kisah Gus Miek dan Masuk Islamnya Orang Tionghoa

Kisah Gus Miek dan Masuk Islamnya Orang Tionghoa

Dulu, ada seorang warga Tionghoa bercerita kepada ayah, "Gus Miek itu luar biasa..." begitu kalimat yang pertama kali idi ucapkan. Kemudian ia melanjutkan ceritanya: "Saya dulu pernah menderita sakit komplikasi. Semua rumah sakit unggulan di Indonesia angkat tangan. Sampai saya mencoba berobat ke beberapa tempat di luar negri, namun hasilnya sama. Semuanya angkat tangan. Tak sedikit biaya yang saya keluarkan."
"Bahkan saya sudah putus asa, tak tahu lagi mau berobat kemana. Namun, di tengah keputusasaan saya, ada salah seorang tetangga yang menyarankan saya untuk mendatangi orang pinter di Jawa Timur. Antara yakin dan tidak yakin, saya berangkat mencari alamat yang ditujukan," kenang orang tersebut.

Lanjutnya, "Sesampainya di sana, dan bertemu orang pinter yang dimaksud, saya mengutarakan semua keluhan saya. Beliau hanya menyarankan beberapa hal yang menurut saya tak ada hubungannya dengan penyakit yang saya derita. Setelah itu saya pulang, dan mempraktekan apa yang diperintah orang pinter itu. Meskipun sedikit tidak percaya."

"Beberapa bulan kemudian, saya ceck up ke dokter. Dan, betapa kagetnya dokter itu, tidak percaya bahwa penyakit saya sembuh total. Saya bahagianya bukan main," tuturnya sembari tersenyum. "Kemudian, saya datangi lagi orang pinter tersebut dengan maksud berterimakasih. Setelah bertemu, saya tawarkan kepada beliau. 'Kiai, mau minta apa? Rumah? Mobil? Atau nominal uang? Terserah Pak Kiai'. Namun, beliau hanya berucap: 'Saya tidak membutuhkan apa yang Panjenengan tadi sebutkan. Saya hanya minta satu, Panjenengan masuk Islam. Bersyahadat'. Dan, dengan disaksikan beliau, saya bersyahadat dan mengikrarkan bahwa saya masuk Islam sampai sekarang." 
________________________
Oleh: Muhammad Wamiq Hammadallah
Sumbermuslimedianews

Mengapa Makam Maulana Maghrobi Ada Banyak?

Mengapa Makam Maulana Maghrobi Ada Banyak? 

Ini Jawaban Habib Luthfi
Sejarah Wali di Pekalongan

Pada jaman dahuluuu.....
Salah satu wali di Tapanuli Ahmad Syah Jalal (cucu Raja Naser abad India) menikah dengan putri raja Champa (Indocina, Vietnam-Kamboja) yang kemudian melahirkan Syekh Jamaludin Husen, memiliki 11 anak. Itulah kakek dari wali 9. 

Syekh Jamaludin inilah yang melakukan perjalanan -beserta rombongan para ulama yang dari Timur Tengah dan Maroko, hingga sampai ke Indonesia. Rombongan tersebut disebut sebagai al-Maghrobi (sebutan daerah Maghrib, Maroko).
Setelah bertemu di Pasai, Aceh, rombongan tersebut langsung menuju ke pulau Jawa, tepatnya di Semarang. Dari Semarang mereka meneruskan perjalannya ke Trowulan-Mojokerto. Karena akhlak dan budi pekertinya yang baik, beliau sangat dihormati di kerajaan Majapahit.
Meskipun beda agama, pada waktu itu, beliau mendapat beberapa bidang tanah dari Maha Patih Gajah Mada, utamanya untuk kepentingan membuat sebuah padepokan pendidikan santrinya tidak hanya bersala dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri.
Syekh Jamaludin Husen juga sangat popular disebut dengan Syeikh Jumadil Kubro. Rombongan beliau berpencar dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Yang terbanyak di Jawa Timur, Jawa Tengah, lalu sebagian kecil ke Jawa Barat.
Dan makam-makam beliau-beliau ini. di kemudian hari, dinamakan al-Maghrobi. Makam dengan julukan itu sangat banyak, dan hal itu wajar karena orangnya bukan satu, tapi banyak.
Rombongan kedua dipimpin oleh dua tokoh, yang pertama Maulana Malik Ibrahim dan Sayyid Ibrohim Asmoroqondi (As Samarqondi) atau Pandito Ratu. Ketika itu, rombongan Maulana Malik Abdul Ghofur yang juga merupakan kakak Maulana Malik Ibrohim disebut pula sebagai al-Maghrobi-al-Maghrobi. Rombongan ini ternyata lebih banyak dari jumlah sebelumnya. 
Maulana Malik Ibrohim adalah cucu dari Syekh Jumadil Kubro. Rombongan ini juga berpencar, dan di antara robongan-rombongan tersebut ada yang sampai ke Pekalongan. Jumlahnya ada sekitar 25 orang maulana-maulana al Maghrobi. Makam beliau juga terpencar-terpencar dengan nama yang sama, Maulana Maghrobi.
Prabu Siliwangi (kerajaan Pajajaran) memanggil Maulana Maghrobi dengan sebutan kakek (pernahnya). Artinya, Maulana Maghrobi itu lebih tua dari Prabu Siliwangi. Di antara anggota rombongan itu, ada yang wafat satu orang, dimakamkan di pesisir Semarang, yang juga dikenal dengan nama Syekh Jumadil Kubro. Lokasinya dekat Kaligawe.

Dan ada juga yang wafat di Pekalongan, nama yang pertama adalah Maulana Syarifudin Abdullah, Hasan Alwi al Quthbi. Beliau bersama rombongannya tinggal di daerah Blado, Wonobodro. Lalu ada dua orang lagi bernama Maulana Ahmad al Maghrobi dan Maulana Ibrohim Almaghrobi, tinggal di daerah Bismo. Tiga tokoh tersebut dimakamkan di Bismo dan Wonobodro.

Yang di Bismo membangun masjid di Bismo, sementara yang di Wonobodro membangun masjid juga di Wonobodro. Yang di Setono (pekalongan), ada Maulana Abdul Rahman dan Maulana Abd Aziz Almaghrobi. Di antaranya lagi, tersebut nama Syekh Abdullah Almaghrobi Rogoselo, Sayidi Muhammad Abdussalam Kigede Penatas Angin.

Jadi, Almaghrobi tersebut ada empat generasi; generasi Jamaludin al Husen, generasi Ibrohim Asmoroqondi dan generasi Malik Ibrohim, lalu generasi Sunan Ampel. Yang dimakamkan di Paninggaran, daerah Sawangan, Wali Tanduran, adalah termasuk generasi kedua, walaupun bukan golongan al Maghrobi. Beliau sangat gigih dalam syi’ar Islam di Paninggaran. 
Kalau dalam bahasa Sunda, paninggaran itu berarti cemburu. Pekalongan ini masih terpengaruh Jawa Barat dan sebagian Jawa Timur. Karena perbatasan Mangkang itu wilayah Majapahit, dan Mangkang ke arah barat sudah termasuk ikut wilayah Pajajaran Kuno. Pekalongan sendiri terpengaruh bahasa-bahasa Sunda dengan salah satu buktinya, ada nama tempat berawalan Ci, yakni Cikoneng Cibeo, di daerah Sragi.
Jadi, sebelum sebelum wali 9 yang masyhur seperti Sunan Ampel, Sunan Giri Sunan, Kali Jogo dan lainnya, sudah ada wali sembilan seperti Lembaga Wali Sembilan jamannya Sunan Ampel itu. Lembaga wali Sembilan ini seperti Wali Abdal, yang jumlahnya ada 7. Wafat satu akan ada yang menggantikannya. Wafat satu, berganti dan seterusnya. Jumlahnya tidak lepas dari 7. Nah wali 9 pun demikian.

Termasuk Kigede Penatas Angin itu Walisongo. Yang Wonobodro juga bagian dari Walisembilan, tapi tentu masuk generasi sebelum Walisongo yang masyhur itu. Ki Gede Penatas Angin adalah yang mempertahankan Pekalongan dari serangan Portugis.

Pada waktu wali 9, di zaman Sunan Gunung Jati, sudah ada yang masuk ke Pekalongan. Namanya Kiyai Gede Gambiran, di pesisir pantai. Tapi karena terkena erosi, sekarang Gambiran sudah tidak ada.
Ada lagi Sayid Husen, di daerah Medono, dikenal sebagai makam Dowo Syarif Husen, hidup dijaman wali 9 juga, antara tahun 1590 an, sebelim masuk pejajahan Belanda.
Walaupun tidak banyak disebut dalam sejarah Demak, Pekalongan dulu sangat dekat dan erat. 
Pada tahun 1900, Pekalongan lebih sedikit pelabuhannya di sekitar Loji, daerah hilir. Makanya di daerah sekitar itu, nama-nama desanya ada yang dijuluki Bugis; Bugisan, Sampang; Sampangan. Pekalongan pada waktu itu sudah mulai maju, baik dalam pendidikan agama, ekonomi maupun lainnya. Di Dieng dan daerah sekitarnya, ada beberapa Candi. Itu menunjukkna kultur di Pekalongan sudah maju.
Di daerah Reban sampai Blado pernah ditemukan situs air langga. Itu semua menunjukan kalau Pekalongan sudah tua, hanya kita belum menemukan bukti secara kongritnya. Di antara bukti lainnya adalah pada jaman Sultan Agung Pekalongan, sudah ada tempat atau lumbung-lumbung padi dan beras. Dan diantara tokoh-tokoh yang berperan pada waktu itu adalah tokoh yang di makamkan di Sapuro, yaitu Ki Gede Mangku Bumi. Sayang makamnya sudah rusak. Jaman almarhum Pak Setiono, saya masih sempat meminta untuk menulis tentang tokoh itu. Beliau meninggal pada tahun 1517 Masehi, makamnya di Sapuro, belakang masjid. 
Ada lagi tokoh lain -walaupun aslinya dari Bupati Pasuruan,- namanya Raden Husen Among Negoro. Beliau meninggal tahun 1665 dan dimakamkan di belakang masjid Sapuro. Beliau adalah Putra Tejo Guguh, Putra bupati Kayu-Gersik ke dua. Beliau ini yang menurunkan bupati Pekalongan pertama.
Pada waktu itu penduduk sudah ramai disusul dengan beberapa tokoh yang lain seperti Ki Hasan Cempalo atau Kyai Ahmad Kosasi, sang menantu. 
Bupati Pekalongan bernama Adipati Tanja Ningrat meninggal tahun 1127 H. dimakamkan di Sapuro juga, hidup sezaman dengan Jayeng Rono Wiroto, putra Amung Negoro Kyai Gede Hasan Sempalo.

Dan di Noyontaan (Jl. Dr. Wahidin), ada juga tokoh bernama Kiyai Gede Noyontoko, sehingga desa tersebut disebut Noyontaan, sebab waktu itu, yang membuka daerah adalah Ki Gede Noyontoko.

Dulu di belakang rumahnya Pak Teko, meninggal tahun 1660 M. Banyak lagi tokoh sepuh Pekalongan lainnya, seperti Wali Rahman di Noyontaan, dulu di Tikungan Jl. Toba atau di depan pabrik Tiga Dara, tapi sekarang makam nya sudah hilang. Alfatihah

Keterangan:
Dipetik dan diedit dari wawancara Kabag Humas Kab. Pekalongan pada Al-Habib M. Lutfi bin Yahya di Kayu Geritan. (Facebook: Falah)

Wejangan KH. Arwani Amin untuk Santri-Santrinya

Wejangan KH. Arwani Amin untuk Santri-Santrinya

"Kuncine ngaji al-Quran iku ono telu (Kuncinya ngaji al-Qur’an itu ada tiga):

1) Ojo nyawang sopo gurune (Jangan melihat siapa gurunya),
2) Ora usah isin karo umur (Jangan malu karena umur), dan 
3) Suwe waktune (lama waktu tempuhnya)."

***

Begini ulasan selengkapnya:

1. Faktor Pangkat
"Ora gelem ngaji al-Quran mergo pangkat/kedudukan gurune luwih rendah? Gusti Kanjeng Nabi Muhammad Saw. iku muride Malaikat Jibril As. ing babakan wacan al-Quran.
Beliau ora isin ngaji al-Quran (musyafahah) marang Malaikat Jibril senajan secara pangkat derajat/kedudukan Malaikat Jibril iku luwih rendah." (Tidak boleh ada lagi alasan tidak mau mengaji al-Quran karena kedudukan guru lebih rendah.
Nabi Muhammad Saw. saja tidak malu mengaji al-Quran kepada Malaikat Jibril walaupun derajat Rasulullah jauh di atas Malaikat Jibril).

2. Faktor Usia
"Males ngaji al-Quran mergo umur wis tua? Gusti Kanjeng Nabi Muhammad Saw. iku mulai ngaji al-Quran marang Malaikat Jibril As. umur 40 tahun." (Tidak boleh ada lagi alasan tidak mau mengaji al-Quran karena umur sudah tua. Nabi Muhammad saja mulai belajar al-Quran kepada Malaikat Jibril pada umur 40 tahun).

3. Faktor Lama
"Isin ngaji al-Quran mergo suwe waktune? Kanjeng Nabi Saw. ora pernah ngrasa isin (minder) ngaji al-Quran marang Malaikat Jibril As. awit beliau Saw. umur 40 tahun tekane 63 tahun (wafat)." (Tidak boleh ada lagi alasan tidak mau mengaji al-Quran karena waktunya lama. Nabi Muhammad saja mengaji al-Quran dari umur 40 hingga 63 tahun (wafat, yakni ngaji selama 23 tahun).

Sumber: Wejangan KH. Arwani Amin untuk Santri-Santrinya

Saya NU, tapi NU-nya Mbah Hasyim Bukan NU seperti SEKARANG

Saya NU, tapi NU-nya Mbah Hasyim
Bukan NU seperti SEKARANG 

KH. Marzuki Mustamar Bungkam Gerombolan Kelompok yang Tuduh Liberal kepada Gus Dur, Kyai Sa'id dan NU.

Saat tabayyun di Lirboyo, Kyai Said menjelaskan semua tuduhan yang dialamatkan kepada Kyai Said di hadapan Mbah Idris, Mbah Anwar Mansur, Gus Imam dan Masyayikh Lirboyo lainya.
Mulai tuduhan Syi’ah, tuduhan makelar Seminari, tuduhan liberal, tuduhan antek Wahabi, semuanya dijelaskan dihadapan para masyayikh Lirboyo saat itu, dan clear bahwa tuduhan itu adalah fitnah yang keji Kyai Marzuki mengajak dialog para hadirin :
"Saiki aku tak tekon sampean kabeh! 
Kalau guru-guru Kyai Said wis ridho, wis iso nompo penjelasane Kyai Said, njur sampean kabeh sing dudu guru lan dudu sopo-sopo kok gak percoyo Kyai Said, opo sampean luwih alim dari Mbah Idris Lirboyo?

Luwih pinter dari para masyayikh Lirboyo? yen sampean luwih pinter lan luwih alim, yo sak karepmu (pungkas Kyai Marzuki).
Saiki masalah NU, banyak orang yang bilang : ”Saya NU nya mbah Hasyim yang lurus, bukan NU ala Gus Dur yang liberal bukan pula NU yang dipimpin Kyai Said”
Sing muni ngunu iku mesti wong gak faham Muktamar 33 di Jombang yang oleh Ahlul Halli Wal Aqdi(AHWA) secara defacto dan de jurro menyatakan Kyai Said dan Kyai Ma’ruf Amin adalah Rois Aam dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama’ AHWA kui sopo wae?
Ada Mbah Maimun Zubair Sarang, Kyai Ma’ruf Amin Jakarta, Kyai Nawawi Abdul Jalil Sidogiri Pasuruan, Kyai Mas Subadar Pasuruan, Tuan Guru Turmudzi NTB, Kyai Maktum Hanan Cirebon, Kyai Ali Akbar Marbun Medan, Kyai Dimyati Rois Jawa Tengah, dan Kyai Kholilurrahman Kalimantan Selatan Semuanya sudah "ACC" bahwa Rais Aam dan Pimpinan PBNU periode 2015-2020 adalah Kyai Ma’ruf Amin dan Kyai Said Aqil Sirajd
Lha opo sing ngomong : ” Saya NU Asli Ala Mbah Hasyim bukan NU ala Gus Dur” kui luwih ngalim tinimbang mbah Maimun Zubair? Luwih ngalim dari mbah Nawawi Abdul Jalil Pondok Sidogiri Pasuruan? dan lebih ngalim dari para anggota AHWA yang sudah menetapkan PBNU yang Syah?
Sak karepmu wis.
Kemudian, kalau ada alumni Lirboyo. alumni Sidogiri atau alumni pondok manapun yang tidak percaya pada Kyainya, gurunya, sampean delok nek kitab ngumaryotho (عمريطى) (sebutan ngumaryotho adalah sindiran Kyai Marzuki kepada yang ngaku ustafz tapi gak bisa baca kitab gundul sehingga tulisan arab yang haruse dibaca Imrithi malah dibaca ngumaryotho) nadhoman unine “idzil fata Hasba’ tiqoodihi rufi’, wa kullu man lam yantaqid lam yantafi'” (setiap murid yang punya cita-cita tinggi tapi kok gak punya keyakinan pada gurunya, maka murid tersebut tidak akan mendapat ilmu manfaat”. Dadi santri kok suudzon dengan gurunya, ya susah mendapat kemanfaatan. Oleh karenanya, mari kita husnudzon kepada para Kyai-Kyai kita, lha kalau gak bisa, gak ngalim, apalagi bukan ahli ibadah, lebih baik diam, jangan kebanyakan tanya dan ngritisi tanpa nandhangi gawean. Jelas semuanya?(tanya Kyai Marzuki kepada hadirin).

Sak iki masalah Gus Dur, kalau ada yang bilang Gus Dur liberal, Gusdur antek Asing, iku mesti wong sing durung teko pikirane. Gus Dur kontroversi, betul. Tapi kontroversi tersebut adalah siasat, tak-tik, strategi untuk mencapai tujuan kemaslahatan dan mengurangi kemadharatan. Lha kok gak seperti mbah Hasyim? karena situasi dan jaman yang berbeda, maka butuh tak-tik dan strategi yang berbeda pula. Misalnya, Gus Dur berpelukan dengan Romo Mangun Jogja Selatan, seorang misionaris handal. Menurut Kyai Mahfudz Jogja, rangkulan Gus Dur dengan Romo Mangun adalah untuk mengurangi gerakan Kristenisasi di Jogja. Lha kok bisa? ya bisa saja. Kalau Gus Dur akrab dan dekat dengan Romo Mangun, pastilah saat kegiatan sosial, bagi sembako, pengobatan, pastilah sang Romo ngajak Gus Dur. Lha saat kegiatan bateng Gus Dur, sang Romo Mangun gak berani melakukan dan menjalankan misi Kristenisasi seperti biasa. Inilah cerdasnya Gus Dur.

Trus masalah Gus Dur meresmikan Kong Hu Cu dan Tahun baru Imlek sebagai agama sah orang China serta Imlek sebagai libur nasional. Sesungguhnya, ini adalah tak-tik dan strategi Gus Dur untuk membebaskan Muslim di China untuk bebas menjalankan agama Islam dan bisa melaksanakan Haji ke Baitullah. Karena sebelumnya, seluruh muslim yang ada di China ditekan dan diawasi serta dilarang menjalankan kegiatan beragama, termasuk larangan berhaji. Alhamdulillah, Marzuki menjadi saksi pada tahun 2000 untuk pertama kali ada jama’ah haji dari China, setelah Gus Dur melakukan lobi dan negoisasi dengan perdana menteri China saat Gus Dur menjabat Presiden RI. Genah ora? tanya Kyai Marzuki kepada para hadirin yang disambut tepuk tangan dan shalawat nabi.

Gus Dur iku, lek wulan poso ngaji kitab Hikam, Fathul Mungin yo nglonthok, Thariqohe Syadziliyah, wiridan yo sregep, Tirakate luar biasa, Ahlussunnah wal Jama’ah Asy ‘ariyah wal Maturidiyah, Hizbnya juga Josh, NU patlikur karat. Ora ono bedhane dengan Abahe K.H Wahid Hasyim, pun pula gak ada nylewengnya dengan NU yang di dirikan mbah Hasyim Asy’ ari. Sampean rungokne, Gus Dur iku, cucu laki-laki pertama dari anak pertama. Sampean pikir lan mbayangke “kepriye tresnane simbah maring putu lanang dari anak pertama sing pinter sisan”. Saya yaqin, Gus Dur pasti ada di hati kakeknya. Dadi lek ono sing wani-wani ngino Gus Dur, iku podo ngino mbah Hasyim. Paham blok? blok lor blok kidul.

Lha njur kok ada yang bilang NU ala Mbah Hasyim bukan NU ala Gus Dur bukan pula NU Kyai Said. Ini sebenarnya adalah strategi kelompok di luar NU untuk memecah NU dan menghancurkan NU.

Mangkane dulur, monggo kito husnudzan kalian Kyai kito, lek sampean bingung, tekon, lek gak bisa ya diam, gak usah kokean omongan. Ingat cerita nabi Musa yang banyak bertanya saat mengikuti nabi Hidr untuk belajar kepada nabi Hidr. Gara-gara kebanyakan bertanya, nabi Musa harus berpisah dengan Hidr A.S. Kalau ditanyakan bagaimana cara meyakini kebenaran pendapat para Kyai kita? Caranya adalah dengan menghormati dan mengikuti dawuh-dawuhnya. Ojo sampek ono crito, warga NU luwih percaya dengan orang diluar NU. Jangan pula orang NU justru separuh Wahabi utowo ISIS. Sopo kui Wahabi? Di dalam kitab An Nushus al Islamiah al Rad ‘ala Madzhabil Wahabiyyah Karya Kyai Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang Gresik Wakil Rais Akbar dan Pendiri NU. Dalam kitab ini juga ada tulisan Mbah Maimun Zubair dan Kyai Aziz Mashuri Denanyar. ‏Disana dijelaskan siapa itu Wahabi ;
 " وقد اعد هذه الفرقة اعداء الاسلام واطلقوا عليها الحركه السلفيه لتحارب الاسلام باسم الاسلام. اما شيخهم محمد ابن عبد الهاب فقد تخرج على يد جاسوس المستعمرات البريطانيه، جيفري همفر”
Dan musuh-musuh Islam telah mempersiapkan sebuah sekte/firqah yang diberinama gerakan kelompok salafi dengan maksud dan tujuan untuk memerangi dan menghancurkan Islam menggunakan nama Islam. Adapun pendiri Wahabi yang juga disebut salafi adalah Muhammad bin Abdul Wahab yang telah berlutut dibawah kendali inteljen tentara Britania (CIA) yang bernama Jefri Hampher. Jadi musuh-musuh Islam sengaja menghancurkan Islam dengan nama dan sebutan Islam juga. podo karo arep menghancurkan NU dengan Nama NU juga, makane ono NU garis-garisan kui, sing kemana-mana selalu nggaris kancane.

Kadang juga, akeh wong NU sing kapusan mbi pakaian sing digawe ” Serbane gedhe, gamisan klimis, lek ngomong sitik-sitik “kher-kher alhamdulillah” ternyata akhir-akhirane ngajak musuhi tokoh NU, ragu dengan amaliyah NU, ragu dengan Kyai, karena kyai gak ngarab-ngarab blas, mung tampilane yo sarungan, irunge yo gak mbangir, bajune pakai hem, kopyahan ireng. Sampean eling-eling ; 
 " ابغض العبد الى الله ثوبه الانبياء و عمله جبالين”
hamba yang paling dibenci oleh Allah adalah hamba yang berpenampilan ala nabi tapi amalnya katrok kayak orang pelosok pegunungan(jauh dari peradaban). Hormat Habib iya, ta’dzim Kyai juga harus. Senajan jenenge Paijo lek memang ‘alim, lan nglonthok kitab kuning, akhlaqe luhur terpuji, iku wajib dihormati ketimbang sing jenenge ndek KTP Hadrotus syekh bin syekh as Syekh. tapi gak iso moco kitab kuning lan gak gelem ngaji lan gak gelem ngamalne ajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW
.
Monggo Halal di share dan di copas Tuisan dari Ibnu Ja'far

Dalam kebersamaan, kita temukan kedamaian.

Temukan kisah, nilai, dan inspirasi dari tanah kelahiran di blog kami:

Majelis Sekumpul - Sadulur Salembur

📖 Baca sekarang dan rasakan hangatnya budaya dan spiritualitas lokal.

#MajelisSekumpul #SadulurSalembur #BlogKomunitas #NilaiLokal

Terima kasih telah membaca di Majelis Sekumpul - Sadulur Salembur.

Jangan lupa bagikan artikel ini jika bermanfaat!

Sejarah Berdirinya Gerakan Pemuda Ansor

Sejarah Berdirinya Gerakan Pemuda Ansor

Kelahiran Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan. GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan.
<>Karenanya, kisah Laskar Hizbullah, Barisan Kepanduan Ansor, dan Banser (Barisan Serbaguna) sebagai bentuk perjuangan Ansor nyaris melegenda. Terutama, saat perjuangan fisik melawan penjajahan dan penumpasan G 30 S/PKI, peran Ansor sangat menonjol.
Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) dari situasi ”konflik” internal dan tuntutan kebutuhan alamiah. Berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh, dan pembinaan kader. KH Abdul Wahab Hasbullah, tokoh tradisional dan KH Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam.
Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH Abdul Wahab –yang kemudian menjadi pendiri NU– membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).
Nama Ansor ini merupakan saran KH. Abdul Wahab, “ulama besar” sekaligus guru besar kaum muda saat itu, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut. Gerakan ANO (yang kelak disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagi penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor).
Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Hubungan ANO dengan NU saat itu masih bersifat hubungan pribadi antar tokoh. Baru pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri; Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam.
Dalam perkembangannya secara diam-diam khususnya ANO Cabang Malang, mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kelak disebut BANSER (Barisan Serbaguna). Dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937. Di Kongres ini, Banoe menunjukkan kebolehan pertamakalinya dalam baris berbaris dengan mengenakan seragam dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang. Sedangkan instruktur umum Banoe Malang adalah Mayor TNI Hamid Rusydi, tokoh yang namaya tetap dikenang dan bahkan diabadikan sebagai sama salah satu jalan di kota Malang.
Salah satu keputusan penting Kongres II ANO di Malang tersebut adalah didirikannya Banoe di tiap cabang ANO. Selain itu, menyempurnakan Anggaran Rumah Tangga ANO terutama yang menyangkut soal Banoe.
Pada masa pendudukan Jepang organisasi-organisasi pemuda diberangus oleh pemerintah kolonial Jepang termasuk ANO. Setelah revolusi fisik (1945 – 1949) usai, tokoh ANO Surabaya, Moh.
Chusaini Tiway, melempar mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO. Ide ini mendapat sambutan positif dari KH. Wachid Hasyim, Menteri Agama RIS kala itu, maka pada tanggal 14 Desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor, disingkat Pemuda Ansor (kini lebih pupuler disingkat GP Ansor).

GP Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikan rupa menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman dan kebangsaan.GP Ansor hingga saat ini telah berkembang memiliki 433 Cabang (Tingkat Kabupaten/Kota) di bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (Tingkat Provinsi) hingga ke tingkat desa. Ditambah dengan kemampuannya mengelola keanggotaan khusus BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) yang memiliki kualitas dan kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.

Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, dengan kemampuan dan kekuatan tersebut GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia.
GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya.
GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang stategis dalm setiap pergantian kepemimpinan nasional.
Foto: Para tokoh Muda yang tergabung dalam organisasi pemuda Syubbanul Wathan (Pemuda Tanh Air) berpose di depan gedungnya di Kawatan, Surabaya.

NU Online

Dalam kebersamaan, kita temukan kedamaian.

Temukan kisah, nilai, dan inspirasi dari tanah kelahiran di blog kami:

Majelis Sekumpul - Sadulur Salembur

📖 Baca sekarang dan rasakan hangatnya budaya dan spiritualitas lokal.

#MajelisSekumpul #SadulurSalembur #BlogKomunitas #NilaiLokal

Terima kasih telah membaca di Majelis Sekumpul - Sadulur Salembur.

Jangan lupa bagikan artikel ini jika bermanfaat!

Foto Mbah Kiai Marzuqi

Foto Mbah Kiai Marzuqi .

Kerapkali pengurus Pondok Pesantren Lirboyo mengambil foto Mbah KH. Marzuqi Dahlan, beliau marah. Bahkan, klisenya hangus walaupun dipotret secara sembunyi-sembunyi. Ini membuat sedih para pengurus saat itu, karena sama sekali tidak mempunyai foto sang pengasuh.

Namun, ketika KH. Abd. Aziz Manshur menjabat sekretaris pondok, di mana saat itu diketuai oleh KH. A. Idris Marzuqi, beliau memiliki ide brilian. KH. Bahrul Ulum Marzuqi, putra mbah Marzuqi yang saat itu berusia sekitar 10 tahun, beliau ajari cara mengoperasikan kamera, dan memintanya untuk memotret sang Bapak dalam beberapa momen.

Alhasil, ketika yang memotret adalah putranya sendiri yang sedang lucu-lucunya, Mbah Marzuqi tidak marah, sehingga kita bisa mengenang wajah beliau hingga sekarang. Lahum al-Fatihah.

Sumber FB ULAMA & KIAI Nusantara