Senin, 07 Oktober 2024

PENGEMIS DAN ANJINGNYA

🌷AL KISAH🌻 SYAICHONA KHOLIL BANGKALAN KEDATANGAN SEORANG 

☕PENGEMIS DAN ANJINGNYA

Suatu hari Almaghfullah Kyai Syaichona Kholil (Bangkalan - Madura) sedang menemui tamu tamunya di ruangan depan. Mbah Kholil yang juga Ulama besar dan salah satu guru dari KH Hasyim Asy'ari (pendiri NU / kakek Gus Dur) duduk dengan salah satu lutut tertekuk di depan perut beliau sambil bercengkerama dengan para tamu tamunya di temani secangkir kopi yang ada di hadapan masing2. Ketika sedang asyik mengobrol itu tiba2 datang seorang "gembel" dengan pakaian lusuh sambil menuntun seekor anjing masuk ke ruangan,kontan saja semua tamu pada heran bercampur geram apalagi tanpa salam tanpa bicara dan tanpa ijin tiba2 si pengemis ini menyeruput kopi milik mBah Kholil, terlihat juga ingus yang keluar dari hidung pengemis tak di undang ini.
Marah kah mbah Kholil??
Tidak! Mbah Kholil tampak merubah posisi duduknya seperti orang posisi duduk orang sedang sholat,telapak tangannya menyatu di atas paha, kepalanya menunduk tanpa berani menatap muka si pengemis.
Justru beberapa tamu bangkit bermaksud mengusir orang aneh ini, tapi segera di cegah oleh mBah cholil dengan isyarat tangannya.
Beberapa saat suasana hening, mBah cholil tetap menunduk, tamu yang ada di ruangan itu tak satupun ada yang berani bersuara sampai kemudian si pengemis berlalu tanpa sepatah katapun.
Selepas gelandangan itu pergi mBah Kholil membuka suara : "siapa yang mau meminum kopi bekas tamuku tadi"?
Tentu saja tak seorangpun yang mau, karena kopi itu bekas di minum seorang pengemis dengan ingus menempel di bawah idung! Ngeri!
"Baiklah, kalau begitu biar saya yang menghabiskan".kata mBah kholil sambil meminum sisa kopi di cangkir.
Semua tamu semakin terheran heran, belum habis rasa penasaran para tamu kemudian mBah Kholil menyambung kata lagi : " taukah sampyan semua siapa tamu tadi,, dia Nabi Khidir, beliau habis mengunjungi sahabatnya seorang wali di Yaman dan Sudan, kemudian melanjutkan perjalanan kesini untuk menemui sahabat2nya, para Waliyullah di tanah jawa."
Kontan kemudian para tamu berebut sisa kopi yang tinggal cangkirnya itu, bahkan ada yang berebut untuk mencuci cangkirnya sekedar untuk "ngalab berkah" dari kesalehan Nabi Khidir Alaihissalam.
MBaH Kholil terkekeh dengan tingkah para tamunya ini, yah.. kebanyakan kita hanya melihat kulit, tanpa bisa melihat hati, karena mata kita sudah tertutup oleh gemerlap dunia.
" Semoga kita terjaga dlm menilai sesama hanya krn Dhohirnya semata ..,"🙏
Copy paste dari Twitter @SejarahUlama 

Hati-hati Ada Macan

Kisah Kiai Kholil Bangkalan

Hati-hati Ada Macan

Suatu hari di bulan Syawal, Kiai Kholil memanggil santri-santrinya. “Anak-anakku, sejak saat ini kalian harus memperketat penjagaan pondok. Gerbang pondok harus senantiasa dijaga. Sebentar lagi akan ada macan masuk ke pondok kita,” kata Kiai Kholil di depan santri-santrinya.

Karuan saja, mendengar perintah kiai yang sangat dihormati itu, para santri segera mempersiapkan diri. Dalam benak mereka terbayang seekor macan yang mengendap-endap memasuki pesantren dan menerkam salah seorang dari mereka. Saat itu di sebelah timur Bangkalan masih ada hutan yang cukup angker. Satu hari, dua hari, tiga hari, dan seterusnya, para santri selalu berjaga dengan waspada. Tanpa terasa hitungan hari sudah mencapai tiga minggu. Macan yang ditunggu-tunggu tak kunjung muncul. Yang terjadi malahan—sebagaimana biasanya di bulan Syawwal yang merupakan awal tahun pelajaran baru—adalah para santri berdatangan dari berbagai penjuru Tanah Air. Pada minggu ketiga sejak Kiai Kholil memerintahkan para santrinya untuk berjaga-jaga, seorang pemuda kurus dengan postur tubuh tidak terlalu tinggi dan berkulit kuning, menenteng koper seng, datang ke kompleks pesantren.

“Assalamu’alaikum,” ucapnya ketika berada di depan pintu rumah Kiai Kholil. Mendengar salam itu, bukan jawaban salam yang diucapkan, Kiai Kholil malah berteriak memanggil santri-santrinya. “Hai santri, ada macan... macan... ayo kita kepung. Jangan sampai ia masuk ke pondok!” teriak Kiai Kholil. Mendengar teriakan Kiai Kholil, serentak para santri berhamburan membawa apa saja yang bisa dibawa untuk mengusir macan itu. Di antara mereka ada yang membawa pedang, celurit, tongkat, batang kayu, dan apa saja yang bisa dibawa, mengerubuti macan yang tak lain adalah seorang pemuda tadi. Sang pemuda menjadi pucat pasi ketakutan. Tak ada jalan lain, karena di kerubungi para santri sedemikian rupa, pemuda tersebut terpaksa ngacir, lantas pergi. Karena sangat ingin menyantri pada Kiai Kholil, keesokan harinya pemuda itu mencoba memasuki pesantren lagi. Namun, ia memperoleh perlakuan yang sama. Diusir ramai-ramai. Pada malam ketiga, diam-diam pemuda itu memasuki kompleks pesantren. Karena kelelahan, juga rasa takut, pemuda itu meringkuk, tidur di bawah kentongan di langgar (mushola). Tak disangka, tengah malam itu Kiai Kholil membangunkannya. Ia dimarahi habis-habisan. Namun demikian, malam itu juga ia diajak ke rumah Kiai Kholil, pemuda itu sangat lega ketika dinyatakan diterima sebagai santri. Pemuda itu bernama Abdul Wahab—atau Abdul Wahab Hasbullah yang kemudian hari menjadi pendiri Jami’yah Nahdlatul Ulama (NU). Kiai Wahab dikemudian hari memang dikenal sebagai macan, baik oleh kawan maupun lawannya. Kiai Kholil dikenal sebagai Kiai yang suka berbuat aneh-aneh, penuh teka-teki dan misteri yang sulit dimengerti. Namun demikian, perbuatannya yang aneh-aneh itu oleh masyarakat dianggap memiliki isyarat terntentu. Misalnya ketika Kiai Kholil mengusir Wahab Hasbullah dari pesantrennya & menyuruh agar ia nyantri kepada Kiai Hasyim Asy’ari, murid seniornya yg mendirikan pesantren di Tebuireng, Jombang.

Sumber: Buku 99 Kiai Kharismatik Indonesia, hal. 36-38 (Keira Publishing: 2017)

KH Ahmad Shobari Ulama Besar dari Ciwedus

UlamaTanahSunda

Karomah dan Keta'diman KH Ahmad Shobari Ulama Besar dari Ciwedus Kuningan Jawa Barat pada Syaikhona Moh. Cholil Bangkalan

KH. Ahmad Shobari adalah seorang Ulama besar dari Ciwedus, desa Timbang kabupaten Kuningan Jawa Barat. Beliau adalah salah satu santri Syaikhona Moh. Cholil Demangan Bangkalan, Madura. KH. Ahmad Shobari diberikan ijazah khusus oleh Syaikhona Cholil berupa kitab Fathul Mu'in.

Sehingga banyak orang yang menghatamkan kitab Fathul Mu'in kepada KH. Ahmad Shobari. Sampai sekarang juga, di makamnya KH. Shobari di Ciwedus, banyak orang yang mengkhatamkan serta menghafalkan kitab Fathul Mu'in untuk ngalap barokah dari KH. Shobari dan Syaikhona Cholil. Konon katanya, KH. Shobari mempunyai kitab Fathul Mu'in dengan keterangan tulisan tangan dari Syaikhona Cholil Bangkalan.

Menurut KH. Moh. Toyyib Fawwaz Muslim, Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangkalan, KH. Ahmad Shobari memiliki beberapa karomah tersendiri. Pada saat KH. Ahmad Shobari bersama KH Suja'i dari Tasik Malaya mau pergi mondok ke Pesantren Syaikhona Cholil di Demangan Bangkalan , Mereka jalan kaki dari Kuningan ke Madura.

Pada saat melewati alas Roban, KH.Shobari dan KH Suja'i kemalaman, akhirnya berhenti dan beristirahat di Alas Roban. Saat itu, alas Roban merupakan kawasan angker yang dipenuhi perampok yang sangat kejam. Setiap orang yang melewati alas Roban, pasti diambil harta bendanya, bahkan sampai ada yang dibunuhnya.

Keseokan harinya, KH. Shobari dan KH .Suja'i malah dijemput dan ditunjukkan jalan serta dihantar oleh ketua sekawanan perampok tersebut. Ketua perampok tersebut, menceritakan bahwa tadi malam telah bermimpi didatangi seorang Kyai dari Bangkalan Madura.

Beliau berpesan. "Ini adalah tamuku jangan diganggu! Kalau diganggu, maka kalian yang akan saya hancurkan". Semasa mondok di Demangan, KH. Ahmad Shobari setiap hari disuruh menggembala kambing milik Syaikhona Cholil sampai tujuh tahun lamanya. Selama tujuh tahun itu, beliau tidak diajari mengaji hanya menggembala kambing saja. Namun karena keta'diman kepada Sang Guru serta keikhlasan dalam melaksanakan tugas rutin menggembala kambing itu. KH. Ahmad Shobari mendapatkan ilmu ladunnisehingga menjadi Ulama besar.

Setelah pulang ke rumahnya di Ciwedus, beliau melanjutkan kebiasaannya menggembala kambing selama beberapa tahun lagi. Hingga pada suatu ketika, beliau kedatangan tamu bernama KH. Suja'i berasal dari Tasikmalaya.

Sang tamu merupakan sesama alumni Pondok Pesantren Demangan, bahkan pernah mengajar KH. Ahmad Shobari sewaktu di Pesantren. Setelah sang tamu menyampaikan keperluannya datang ke Ciwedus, KH. Ahmad Shobari terkejut luar biasa, karena KH. Suja'i yang dulu pernah mengajarnya di pesantren, kini datang untuk menjadi santrinya atas perintah Syaikhona Moh. Cholil.

Ceritanya, setelah KH. Suja'i pulang dari Pesantren Demangan, beliau mendirikan pesantren di daerahnya, namun sampai beberapa lamanya pesantren yang didirikannya tak jua kunjung berkembang. Segera beliau sowan kembali kepada Syaikhona Cholil, bermaksud minta barakah supaya pesantrennya segera berkembang.

Namun sebelum KH. Suja'i menyampaikan maksud kedatangannya, Syaichona Cholil langsung dawuh, " Kamu pergi ke Ciwedus, belajar lagi dan ngalap barokah kepada Shobari. "

Setelah itu, KH. Ahmad Shobari kedatangan santri-santri lain sampai kemudian mendirikan pesantren yang dalam waktu singkat berkembang pesat dan menjadi salah satu pesantren terbesar di daerah Kuningan dan sekitarnya.

Perlunya Ilmu Mantik

Gus Baha: Perlunya Ilmu Mantik dalam Mengenal Allah 

Keinginan setan adalah agar manusia senantiasa tidak berpikir dengan selalu hidup bersenang-senang. Dengan menjalani kehidupan yang penuh kesenangan seketika akan membawa manusia untuk malas mencari tahu tentang siapa Tuhannya.

Inilah yang menjadi sebab utama munculnya paham nihilism, atheism yang sepertinya sangat kritis dan selalu mengedepankan logika dalam pola pikirnya kendatipun tak pernah menemukan bukti tentang keberadaan Tuhan.

Tujuan utama mengaji adalah mengenalkan seseorang terhadap Allah (Tuhan) dengan akal sehat. Kekeliruan yang kerap dilakukan para ulama adalah memulai dengan mengenalkan sebutan Allah tanpa memberi pemahaman logis tentang esensi Tuhan yang dapat diterima oleh mereka.

KH. Bahauddin Nur Salim atau yang seringkali hanya dikenal dengan sebutan Gus Baha’ dalam suatu pengajian mengatakan bahwa, “Dalam ilmu mantik yang diajarkan di pondok-pondok pesantren tidak pernah menyebutkan Allah, yang disebutkan adalah bahwa alam ini makhluk (ciptaan), dan setiap makhluk memerlukan Kholik (pencipta) untuk dapat menjadi ada. Alam ini adalah sebuah akibat, dan sebagai akibat akan selalu butuh sebab.”

Lalu Gus Baha’ menjelaskan bahwa ‘Sebab’ ini kita sebut musabibul asbab. Artinya sebuah ‘Sebab’ harus ada sebelum yang disebabi atau ‘Akibat’ itu sendiri ada.

“Wujud yang sekarang kita kenal ini membutuhkan penyebab atau yang kita kenal sebagai Wajibil Wujud atau wujud superior. Semua itu oleh Islam disebut dengan nama Allah”, papar kiai penekun tasawuf ini lebih lanjut.

Akal manusia hanya sampai pada rumusan bahwa alam ini butuh penyebab, yang oleh Einsten dan pemikir-pemikir modern dikenal dengan ‘Causa Prima’.

Maka menurut santri kesayangan Mbah Moen Sarang ini ilmu mantik ala pesantren sangat penting agar kita tidak sering keliru dalam merekonstruksi bangunan tauhid dalam logika yang menjadi landasan penting dalam mengenal Allah melalui sifat-sifatnya.

Sumber: Web @alif__id 

KESIBUKAN SANTRI

KESIBUKAN SANTRI

NDALEM; sibuk melayani keperluan rumah tangga kiai, entah masak, bersih-bersih, nyopir, laden, nyawah, atau lainnya. Santri ndalem ini bisa dibilang menduduki 'strata kesantrian tertinggi' di pondok.

NGANTOR; menjadi pengurus manajemen pesantren. Ngurusi penerimaan santri baru, surat menyurat, event-event tertentu, narik syahriyah, nyusun jadwal ustadz, menindak pelanggaran, dan seterusnya.

MANGGUNG; kerap tampil dalam acara-acara pondok. Entah lomba, jadi vokalis, penabuh terbang, simakan, dan sebagainya. Jenis ini biasanya terkenal di seantero komplek, banyak fansnya. Biasanya pulang ke pondok bawa berkat atau amplop.

NDAMPAR; fokus ngaji atau 'madep dampar'. Kegiatannya didominasi mutolaah, nderes, bahtsu, menulis, mengajar.
WIRIDAN; malamnya melekan, solat sunah, merapal wirid, ziaroh. Siangnya puasa senen kemis, ndawud, ngrowot, ndalail, dan semisalnya.

Tiap kesibukan di atas menjadi proses belajar bagi masing-masing santri, sesuai 'passion'-nya. Dan setiap kesibukan itu punya 'celah barokahnya' masing-masing. Seorang santri bisa jadi mendobel kesibukan.

Nah, selain lima jenis itu adalah santri sok sibuk. Santri yang kegiatannya tura-turu, ngangkring, ngeluyur, dan ribuan ke-sok-sibukan lainnya. Sing model ngene iki wes mugo-mugo kecipratan barokah ngono wae. Hehehe

Btw kamu termasuk kataogri santri yang mana gaes????
*Foto: almarhum Mbah Yai Hamid Kajoran Magelang, ditandu oleh para santrinya dengan riang gembira.

#sejarahulama #ulamanusantara

SIMBAH NYAI AZIZAH MA'SHUM, LASEM

SIMBAH NYAI AZIZAH MA'SHUM, LASEM

Di antara akhlak beliau, tak berkenan menerima amplop (sangu), tapi malah nyangoni.

Sosok yang santun dan bersahaja.
Sosok yang sangat dermawan.
Sosok penghafal Al Qur'an yang mengamalkan apa yang ada dalam Al Qur'an .

Sosok figur Bu Nyai yang suka silaturrahim setiap beliau pergi ke luar kota.

Meskipun usia beliau sudah sepuh memasuki 93 tahun, beliau selalu menyempatkan mampir ke rumah para santri santrinya yang bertebaran di sepanjang penjuru daerah.

Beliau adalah mutiara Indonesia.
Seorang yang ahli ibadah, hafidzah Al Qur'an dan berjiwa sosial.

Diutus Gus Dur Mencari Wali

Diutus Gus Dur Mencari wali

Suatu sore di awal April Tahun 2003, saya di datangi Kyai Haji Mas Soebadar, salah satu Kyai Khos Forum Langitan dari Pasuruan di rumah saya sepulang pengajian di daerah Turen Malang. Beliau dawuh diminta Gus Dur untuk mencari wali atau tabib ampuh dalam rangka ihtiyar agar ditakdir bisa melihat lagi sebagai salah satu syarat ikut Pilpres 2004. 

Saya ditanyai beliau: “Wonten pundi Gus enten wali sak niki?” (dimana ada wali zaman ini?) Saya jawab: “Wali yg bagaimana, Kyai?”

Beliau:”Niku loh wali yang seperti alm. Habib Soleh Tanggul Jember. Ketika ada orang lumpuh datang minta doa lalu ditepuk oleh beliau dan spontan bisa berdiri.” Saya bingung dan setengah bercanda menjawab:”Mungkin wonten ten negara Maghrib (Maroko), Kyai.”

Selang waktu bbrp hari kemudian Kyai Subadar telpon saya: “Monggo Gus bidal ten Maghrib. Niki sampun diparingi arta kalian Gus Dur.” 

Saya kaget bukan kepalang 😄Saya segera sowan konsultasi kepada Kyai Maftuh Said, Pengasuh Ponpes Almunawwariyah Malang yg sudah pernah pergi ke Maroko. Beliau mengarahkan agar sowan kepada Sayyid Idris Alhasani , ulama sepuh yang termasyhur di kota Fez Maroko saat itu dan kebetulan kyai Maftuh ada rencana pergi kesana minggu depannya. Kita bersepakat berangkat barsama-sama karena memang negara Maroko bebas visa sehingga tidak butuh persiapan administrasi. 

Saya segera telpon ngaturi Kyai Idris Lirboyo. Beliau menyambut antusias dan segera kita bersiap berangkat pada tanggal 17 April 2003 ke Maroko untuk sowan Sayyid Idris di kota Fez dan dilanjutkan sowan ke makam Syekh Muhammad Ibn Sulaiman Aljazuli, sohib kitab Dalail Khairat di kota Marakesh. Setiba di Casablanca Maroko setelah melalui transit di Dubai, kita segera menuju kota Fez untuk sowan kepada Sayyid Idris, muqoddam thoriqoh Tijani yang sudah sangat sepuh dan masih menyimpan rambut Rasulullah SAW secara turun temurun. Kyai Subadar segera menyampaikan maksud dan tujuan kita dari Indonesia dan beliau berkenan menyuruh kita kembali esok harinya.

Esoknya, setelah ziarah ke makam Syeikh Ahmad Tijani, kita sowan kerumah Sayyid Idris. Beliau memberikan semacam azimat untuk ditaruh dibawah bantal Gus Dur dan bbrp ijazah yang saya lupa mencatatnya. 

Perjalanan kita dilanjutkan ke kota Marakesh yang indah, dimana terdapat makam tujuh wali yang masyhur dan diziarahi banyak orang. Di antaranya adalah makam Qodli Iyadl pengarang kitab Assyifa dan Imam Sulaiman Aljazuli, penyusun shalawat dalail khairat yang sangat terkenal di dunia. Di sana alhamdulillah saya sempat bertabarruk ijazah sanad dalail di depan makam beliau dari Mbah Idris sambil dilanjutkan bersama membacanya. Perjalanan ke Maroko ini begitu mendadak sehingga Mbah Idris belum sempat menukar uang rupiah. Beliau membawa satu tas uang rupiah tunai yang ketika itu saya hitung sejumlah sekitar 80 juta rupiah. Selama di Maroko saya setiap hari membawakan tas berisi uang tersebut dan mencari money changer yang mau menerima tapi tidak berhasil menemukan satupun money changer yg mau menerima uang rupiah di berbagai kota disana hingga kita pulang. 

Saking capeknya saya sempat bercanda: “Waduh kyai, ternyata masih di dunia dan belum di akhirat, uang memang sudah tidak laku.” 😄

Penulis 
Dr H Ahmad Fahrur Rozi 
Khadim Pondok Pesantren Annur 1 Annursatu Bululawang Malang, Wakil Ketua PWNU Jatim

Ikuti @SejarahUlama

Karomah Wali: Habib Hamid Sokaraja, Guru Spiritual Gus Dur

Karomah Wali: Habib Hamid Sokaraja, Guru Spiritual Gus Dur

Tangis haru mewarnai pertemuan murid-guru di penghujung bulan Agustus 2000, tepatnya Kamis 31 Agustus 2000. Sekira setengah jam lamanya temu kangen itu berlangsung. Turut hadir dan menyaksikan pertemuan itu Mendiknas Yahya Muhaimin, Gubernur Jateng Mardiyanto, Bupati Banyumas Aris Setiono, Aris Juneidi (penghubung) dan Umar Wahid.

Tuan rumah didampingi istri, kerabat dekat, KH Abdurrahman Hasan selaku juru bicara, dan sejumlah ulama Banyumas. Mengenakan kopiah dan busana putih, sang guru tampak sumringah menerima kehadiran sang murid.
Logo Ngopibareng.id
Home
ngajiBARENG
Khazanah
Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id
Karomah Wali: Habib Hamid Sokaraja, Guru Spiritual Gus Dur
Khazanah
Jumat, 15 Mei 2020 04:18 WIB
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersama Habib Hamid Sokaraja. (Foto:Istimewa)
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersama Habib Hamid Sokaraja. (Foto:Istimewa)
Tangis haru mewarnai pertemuan murid-guru di penghujung bulan Agustus 2000, tepatnya Kamis 31 Agustus 2000. Sekira setengah jam lamanya temu kangen itu berlangsung. Turut hadir dan menyaksikan pertemuan itu Mendiknas Yahya Muhaimin, Gubernur Jateng Mardiyanto, Bupati Banyumas Aris Setiono, Aris Juneidi (penghubung) dan Umar Wahid.

Tuan rumah didampingi istri, kerabat dekat, KH Abdurrahman Hasan selaku juru bicara, dan sejumlah ulama Banyumas. Mengenakan kopiah dan busana putih, sang guru tampak sumringah menerima kehadiran sang murid.


Pada kesempatan itu Gus Dur memohon gurunya agar ikut mendoakan negeri ini sehingga dijauhkan dari berbagai prahara dan persoalan yang dapat memecah-belah bangsa.

"Itulah fragmen pertemuan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, ketika itu Presiden RI, saat menyambangi kediaman Habib Hamid bin Hanafi bin Yahya bin Salim (85) di Kauman RT 03/RW 01 Sokaraja Tengah, Kecamatan Sokaraja," tulis Akhmad Saefudin SS ME, Penulis Buku 17 Ulama Banyumas.

Berikut lanjutannya:

Sebetulnya, jika mau menelisik, Kabupaten Banyumas memiliki banyak tokoh-ulama karismatik pada zamannya. Hanya saja kiprah dan perjalanan hidup mereka nyaris luput dari pemberitaan media.

Habib Hamid, misalnya, sosoknya baru terliput media cetak maupun elektronik pasca ada kunjungan Presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kala itu.

Bagi kalangan Muslim tradisional, Habib Hamid bukanlah nama asing. Warga Nahdliyin meyakini sosok yang satu ini punya kelebihan khusus. Betapa tidak? Meskipun telah berpulang ke haribaan Allah, karisma beliau masih dirasakan hingga kini; bukan saja di wilayah Banyumas namun hingga luar daerah.

Sunan Kalijaga Dilarang Pergi Haji ke Makkah

Cerita Sunan Kalijaga Dilarang Pergi Haji ke Makkah 

Sunan Kalijaga merupakan salah seorang anggota Wali Songo. Sekumpulan alim-ulama yang berhasil mengislamkan masyarakat Nusantara, utamanya Jawa. 

Dikisahkan, suatu ketika Sunan Kalijaga berada di Malaka. Ia memiliki kehendak untuk menjalankan ibadah haji. Namun siapa sangka, seorang ulama senior pada saat itu, Maulana Maghribi, meminta Sunan Kalijaga untuk kembali ke Jawa. Tidak memperkenankannya untuk melanjutkan perjalanannya ke Makkah. Larangan Maulana Maghribi terhadap Sunan Kalijaga tersebut bukan tanpa dasar. Maulana Maghribi beralasan, jika Sunan Kalijaga tetap pergi haji maka masyarakat Jawa akan keluar Islam atau kembali kafir karena pada saat itu kerajaan Demak masih dalam transisi. Runtuhnya kerajaan Majapahit menyebabkan kekacauan dan kerusuhan dimana-mana.

Lebih dari itu, Maulana Maghribi juga berkata kepada Sunan Kalijaga kalau Makkah (rumah Allah) yang asli itu ada di dalam diri sendiri. Sementara, baitullah (Ka’bah) yang ada di Makkah itu hanyalah ‘batu peninggalan Nabi Ibrahim.’ Dengan demikian, ibadah haji bukan hanya sekedar perjalanan fisik ke Makkah. Akan tetapi, ibadah haji adalah ibadah metafisik-spiritual. Seseorang akan sampai di ‘Makkah sejati’ manakala mereka sanggup menjalani kematian dalam kehidupan (mati sajroning urip) dan bisa membebaskan diri dari belenggu hawa nafsu. Demikian kisah dalam Suluk Wijil yang diceritakan buku Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat. Versi lain dikisahkan bahwa yang melarang Sunan Kalijaga berhaji adalah Nabi Khidir. Ketika Sunan Kalijaga berada di tengah laut dalam sebuah perjalanan menuju ke Makkah, tiba-tiba Nabi Khidir menghentikannya. Segera saja Nabi Khidir memberikan nasehat kepada Sunan Kalijaga agar tidak usah melanjutkan perjalanannya ke Makkah jika tidak mengetahui apa yang akan dilaksanakannya selama tinggal di sana. Cerita ini terekam dalam Suluk Linglung. Kisah Sunan Kalijaga di atas memberikan banyak pengajaran bagi kita. Salah satunya adalah lebih memprioritaskan problematika umat. Sunan Kalijaga dilarang berhaji karena pada saat itu iman masyarakat Jawa –yang menjadi medan dakwah Sunan Kalijaga masih rapuh. Adalah sesuatu yang tidak benar jika ada seseorang yang sering menunaikan ibadah haji–dan umrah di Makkah sementara umatnya, tetangganya, dan saudaranya masih dalam keadaan yang memprihatinkan. Bukankah ada banyak cerita yang mengisahkan bahwa seseorang mendapat status haji mabrur meski tidak menjalankan ibadah haji di Makkah. Ada hadits nabi yang juga menceritakan hal itu. Dikisahkan bahwa usai menunaikan haji para sahabat mendatangai Nabi Muhammad Saw. Mereka bertanya perihal siapa yang hajinya mabrur. Nabi Muhammad Saw. menjawab bahwa yang hajinya mabrur adalah si fulan. 

Mendengar nama sahabat yang disebut Nabi Muhammad Saw. tersebut, para sahabat jadi terheran-heran. Mengapa? Karena si fulan yang disebut nabi tersebut tidak jadi menunaikan ibadah haji. Malah, si fulan menggunakan uang yang disiapkan untuk bekal haji itu untuk menolong tetangganya yang sedang sakit. Wallahu A'lam.

AGAR MURAH REJEKI DALAM RUMAH TANGGA

PESAN WIRID MBAH MAIMOEN AGAR MURAH REJEKI DALAM RUMAH TANGGA

Almaghfurlah KH. Maimoen Zubair dalam berbagai kesempatan memberikan pesan kepada para santrinya, agar hidup mereka diberi kemudahan, keberkahan dan dilapangkan rezekinya. Ini pesan salah satu pesan beliau: “Mbesok nek wes omah-omah, ojo lali, angger mlebu omah moco Qulhu ping pisan.” (Besok jika sudah berumah tangga, setiap masuk rumah jangan lupa membaca surat Al-Ikhlas walaupun hanya sekali.) Ternyata pesan beliau bukan sembarang nasehat, karena hal itu telah disabdakan oleh junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Saw: ‏ﻋﻦ ﺳﻬﻞ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ : « ﺟﺎﺀ ﺭﺟﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺷﻜﺎ ﺇﻟﻴﻪ ﺍﻟﻔﻘﺮ ﻓﻘﺎﻝ : ‏ﺇﺫﺍ ﺩﺧﻠﺖ ﺑﻴﺘﻚ ﻓﺴﻠﻢ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﺃﺣﺪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻴﻪ ﺃﺣﺪ ﻓﺴﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻚ ، ﻭﺍﻗﺮﺃ ﻗﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ ﻣﺮﺓ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻓﻔﻌﻞ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻓﺄﺩﺭ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﺯﻗﺎً ﺣﺘﻰ ﺃﻓﺎﺽ ﻋﻠﻰ ﺟﻴﺮﺍﻧﻪ
Artinya: Sahal bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw. dan mengadukan kefakiran yang menimpanya. Lalu beliau bersabda: “Apabila kamu masuk ke rumahmu, ucapkanlah salam jika ada seseorang di dalamnya. Dan jika tidak ada orang di dalamnya, ucapkan salam untuk dirimu, dan bacalah Qul Huwallaahu Ahad satu kali”. Lalu laki-laki tersebut melakukannya. Maka Allah melimpahruahkan rizki orang tersebut, sehingga mengalir kepada tetangga-tetangganya.” Bagi Anda yang ingin mengamalkan ijazah-ijazah di atas, silakan share postingan ini dan ketik "Qobiltu (saya terima)" pada kolom komentar dibawah ini.

Allahumma Sholli Alaa Sayyidina Muhammad Wa Aalihi Wa Shohbihi Wasallim.

Ikuti terus @SejarahUlama

KISAH LELAKI YANG LUPA MEMBACA SHOLAWAT KEPADA RASULULLAH ﷺ

🔹 KISAH LELAKI YANG LUPA MEMBACA SHOLAWAT KEPADA RASULULLAH ﷺ 🔹

Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazali meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki yang lupa membaca sholawat kepada Rasulullah ﷺ

Lalu pada suatu malam dia bermimpi melihat Rasulullah ﷺ tidak mau menoleh kepadanya, lalu dia bertanya:
"Ya Rasulullah, apakah engkau marah kepadaku?"

Rasulullah ﷺ menjawab:
"Tidak"

Beliau bertanya lagi:
"Lalu sebab apakah engkau tidak memandangku?"

Rasulullah ﷺ menjawab:
"Kerana aku tidak mengenalmu"

Lelaki itu bertanya lagi:
"Bagaimana tidak mengenaliku? Sedangkan aku salah satu dari ummatmu. Para Ulama' meriwayatkan bahwa sesungguhnya engkau lebih mengenali ummatmu berbanding seorang ibu mengenali anaknya."

Rasulullah ﷺ menjawab:
"Mereka benar. Tetapi engkau tidak pernah mengingatiku dengan bershlawat. Padahal kenalku dengan ummatku menurut kadar bacaan sholawat mereka kepadaku."

Terbangunlah lelaki itu dan mengharuskan dirinya untuk bersholawat kepada Rasulullah ﷺ setiap hari 100 kali.

Beliau selalu melakukan itu hingga melihat Rosulullah ﷺ lagi didalam mimpinya. Dalam mimpinya tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sekarang aku mengenalmu dan akan memberikan syafaat kepadamu."

Yakni karena orang tersebut telah menjadi orang yang cinta akan Rasulullah ﷺ dengan memperbanyakkan selawat keatas Baginda Rasulullah ﷺ

Maka barangsiapa yang ingin dikenali Rasulullah ﷺ hendaklah ia perbanyakkan bacaan sholawat.

🗳 (Kitab Mukasyafatul Qulub)

Amalan dan Dzikir di Bulan Rajab

📗 Amalan dan Dzikir di Bulan Rajab

Berikut adalah amalan dan dzikirnya:
(dari Guru Besar Buya Yahya) 

1. Doa ketika masuk bulan Rajab:
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَـعْبَانَ وَبَلِّـغْنَا رَمَضَانَ

2. Lafadz niat puasa sunnah Rajab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ فِى شَهْرِ رَجَبِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
"Saya niat puasa esok hari di bulan rajab sunnah karena Allah Ta'ala."

3. Doa dibaca pagi dan sore di bulan Rajab (70x):
ّرب اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ 

4. Doa dibaca antara Dhuhur dan Ashar bulan Rajab (70x):
اَسْـتَغْفِرُ الله َ الْعَظِيْمَ الَّذِي لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ، تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لاَ يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا وَلاَ مَوْتًا وَلاَ حَيَاةً وَلاَ نُشُوْرًا 

5. Dibaca pada 10 hari yang pertama bulan Rajab (100x):
سُـبْحَان الله الْحَيِّ الْقَيُّوْمِ

Dibaca pada 10 hari yang kedua bulan Rajab (100x):
سُـبْحَانَ الله ِ اْلأَحَدِ الصَّمَدِ

Dibaca pada 10 hari yang ketiga bulan Rajab (100x):
سُـبْحَان الله الرَّؤُوْفِ

6. Membaca “Sayyidul Istighfar” (3x pagi dan sore):
اَللَّهُم َّ أَنْتَ رَبِّيْ لآ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْـتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّه لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنت

IJAZAH SHALAWAT DARI KH. ABBAS BUNTET

IJAZAH SHALAWAT DARI KH. ABBAS BUNTET AGAR HAJAT SEGERA DIKABULKAN

Kiai Abbas rahimahullah (lahir 1879 M dan wafat 1946 M) adalah Pengasuh Pesantren Buntet Cirebon Jawa Barat. Ia belajar di berbagai pesantren kepada sejumlah kiai. Awalnya ia belajar kpd ayahnya sendiri, Kiai Abdul Jamil rahimahullah, lalu kepada Kiai Nasuha rahimahullah, Pengasuh Pesantren Sukanasari Plered Cirebon.

Dari Plered, ia pindah ke Pesantren Salaf di Jatisari asuhan Kiai Hasan rahimahullah. Ia kemudian belajar kepada Kiai Ubaidah rahimahullah Tegal Jawa Tengah. Tidak puas di sini, Kiai Abbas lalu mondok ke Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asyari rahimahullah. Di samping belajar, ia bersama Kiai Kiai Abdul Wahab Hasbullah rahimahullah dan Kiai Abdul Manaf rahimahullah, ikut berpartisipasi mendirikan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Kiai Abbas Buntet juga pernah menetap di Makkah. Di sana ia belajar kepada “Imam Bukhari Abad 19”, Syekh Mahfud Attarmasi rahimahullah. Ia bahkan sempat mengajar ilmu fikih di Makkah. Di antara murid Indonesianya adalah Kiai Kholil rahimahullah (Palimanan Cirebon) dan Kiai Sulaiman rahimahullah (Babakan Ciwaringin Cirebon).

Selain punya pemahaman ilmu agama yg tinggi, Kiai Abbas juga dikenal sbg kiai yg sering memberikan ijazah atau wirid. Salah satunya adalah, ijazah agar permohonan seseorang segera dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Berikut ijazah dari Kiai Abbas Buntet :
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِى يَا رَسُوْلَ اللهِ خُذْ بِيَدِى قَلَّتْ حِيْلَتِي اَدْرِكْنِي
Ash-sholaatu was salaamu 'alaika yaa sayyidii yaa Rosuulallaahi khudz biyadii qollat hiilatii adriknii

Cara mengamalkannya:
1. Pada hari pertama, shalawat diatas dibaca sebanyak 1.000 (seribu) kali pada jam 02.00 wib dini hari Malam Jumat.
2. Sesudah itu shalawat tadi dibaca 11 (sebelas) kali setiap malam.

Sumber: KH. A. Aziz Masyhuri rahimahullah, Buku 99 Kiai Kharismatik Indonesia, Riwayat, Perjuangan, Doa, & Hizib, Depok: Keira Publishing, Cet Ke-2, 2020.