Rabu, 08 November 2023

AS-SYAHID SAYYIDINA HASAN & HUSEIN JANNAH RA



AS-SYAHID SAYYIDINA HASAN SYABABUL JANNAH,RA


Tinggalkan apa yang meragukan hatimu, beralihan kepada sesuatu yang tidak meragukan hatimu, karena sesungguhnya kebenaran itu membawa ketenangan di dalam hati.

Manusia celaka karena tiga hal : Sombong, rakus dan dengki.

Sombong adalah penyebab rusaknya agama dan karena sifat inilah iblis mendapat laknat.

Rakus adalah musuh bagi hati manusia dank arena sifat inilah Nabi Adam dikeluarkan dari surga.

Dengki adalah menuju kejahatan dank arena sifat inilah Qabil membunuh Habil.




AS-SYAHID SAYYIDINA HUSEIN SYABABUL JANNAH,RA

“Bilamana dunia dianggap sesuatu yang sangat berharga, maka sesungguhnya pahala Allah SWT adalah lebih berharga dan lebih mulia, bilamana tubuh ini dirawat hanya untuk menyambut kematian, maka terbunuhnya seseorang dengan pedang dijalan Allah SWT lebih utama. Bilamana rizki yang sudah ditentukan, maka sedikitnya keserakahan seseorang dalam berusaha adalah lebih baik. Bilamana harta benda dihimpun hanya untuk ditinggalkan, maka apa gunanya seorang pelit terhadap sesuatu yang pasti ia tinggalkan.”

“Sabar adalah mahkota, kesetiaan adalah harga diri, memberi adalah kenikmatan, banyak bicara adalah membual (omang kosong), tergesa-gesa adalah kebodohan, kebodohan adalah aib, berlebih-lebihan (dalam berkata) adalah omong kosong, berteman dengan orang yang ahli berbuat hina adalah kejahatan dan berteman dengan ahli kefasikan adalah pusat prasangka buruk.”

Bilamana dirimu digigit oleh kekejaman masa, maka janganlah kamu mengadu kepada manusia. Dan janganlah kamu meminta selain kepada Allah Tuhan yang Maha penolong, yang Maha Tahu dan yang Maha Benar. Karena seandainya kamu hidup dan kamu telah berkeliling dari belahan barat sampai kebelahan timur, maka tentu kamu tidak menemukan seorangpun yang mampu membuat orang lain bahagia atau sengsara


https://para-auliya.blogspot.com/2011/12/nasehat-para-wali-allah.html

SAYYIDINA ALI BIN ABI THALIB KWH



SAYYIDINA ALI BIN ABI THALIB KWH

“Ketahuilah..!! Sesungguhnya kalian akan mati dan setelah itu dibangkitkan. Kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas semua amal kalian, serta mendapatkan balasan yang setimpal. Karena itu jangan tertipu kehidupan dunia. Kehidupan dunia ini penuh ujian, bersifat sementara dan sarat dengan tipu daya. Semua yang ada didalamnya akan musnah. Para penghuninya pun saling berebut untuk memperolehnya. Ketahuilah! “kalian beserta segala perhiasan kehidupan dunia akan mengalami hal yang sama dengan mereka yang terdahulu, orang-orang yang panjang umurnya dan lebih megah rumahnya. Sekarang jasad mereka telah menjadi tulang belulang, rumah mereka kosong. Mereka berada dikubur dekat dan penghuninya terasingkan. Mereka digerogoti oleh cacing,tertimbun oleh bebatuan dan pasir. Bayangkan kalian kelak akan menjadi seperti mereka, tubuh kalian hancur dan sendiri dikubur. Apa yang akan terjadi dengan kalian jika kiamat tiba, semua yang dikubur dibangkitkan dan segala rahasia yang tersembunyi dalam dada dibongkar, pada saat itulah setiap jiwa akan memperoleh balasan sesuai dengan perbuatanya selama hidup didunia.”


“Hapalkanlah lima hal ini :


1.    Seorang hamba hendaknya tidak berharap kecuali kepada Allah SWT

2.    Seorang hamba hendaknya hanya takut akan dosa-dosanya

3.    Seorang yang bodoh hendaknya tidak merasa malu untuk bertanya

4.    Seorang yang berilmu ketika ditanya tentang sebuah persoalan dan tidak mengetahui jawabanya, hendaknya tiak malu untuk mengatakan,”Allah SWT Ynag Maha Mengetahui

5.    Bagi iman,sabar ibarat kepala sebuah tubuh, sehingga tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak memiliki kesabaran


https://para-auliya.blogspot.com/2011/12/nasehat-para-wali-allah.html

Nasihat NABI MUHAMMAD SAW




NABI MUHAMMAD SAW


Ma'rifat adalah Modalku,

Akal fikiran adalah Sumber agamaku,

Cinta adalah dasar hidupku,

Rindu kenderaanku,

Zikrullah adalah kawan dekatku,

Keteguhan adalah perbendaharaanku,

Duka adalah kawanku,

Ilmu adalah senjataku,

Ketabahan adalah pakaianku,

Kerelaan adalah sasaranku,

Faqr (kesederhanaan) adalah kebanggaanku,

Menahan diri adalah pekerjaanku,

Keyakinan adalah makananku,

Kejujuran adalah perantaraanku,

Ketaatan adalah ukuranku,

Berjihad adalah perangaiku

Dan Hiburanku adalah sholat


Janganlah engkau gantungkan hatimu kepada dunia karena sesungguhnya Aku tidak menjadikan dunia ini untuk engkau. Jadikan cintamu kepada-Ku sebab tempat kembalimu adalah kepada-Ku. Bersungguh-sungguhlah engkau mencari Syurga. Putuskan harapan dari makhluk karena sesungguhnya mereka itu sedikitpun tidak ada kuasa ditangan mereka. Rajinlah mengerjakan sembahyang tahajud karena sesungguhnya pertolongan itu beserta qiamullail. 

Nabi Muhammad saw bersabda : Wahai Ali apakah engkau menginginkan 600 ribu kambing, 600 ribu dinar atau 600 ribu kalimat ? Lalu, Imam Ali as menjawab : Wahai,Rasulullah saw aku menginginkan 600 ribu kalimat Lalu, Rasulullah saw bersabda : Wahai Ali! Aku akan meringkas 600 ribu kalimat itu dalam enam kalimat.

1. Jika engkau melihat manusia berlomba-lomba mengerjakan yang bukan kewajiban mereka, maka sibukkanlah dirimu dengan menyempurnakan kewajibanmu.

2.Jika engkau melihat manusia berlomba-lomba dalam urusan dunia,maka sibukkanlah dirimu dengan urusan akhirat.

3. Apabila manusia sibuk mengurusi aib (cela)orang lain, maka uruslah aibmu sendiri.

4. Jika manusia saling memperindah dunianya,makahiasilah akhiratmu.

5. Dan jika engkau melihat manusia sibuk dengan memperbanyak amal,maka beramallah yang ikhlas.

6. Dan ketika engkau melihat manusia menjadikan makhluk sebagai perantaranya, maka jadikanlah Allah sebagai perantaramu.

Sesungguhnya orang yang paling dibenci di hadapan Allah Ta'ala ialah orang yang ditinggalkan Allah Ta'ala bersendirian. Ia tersesat dari jalan yang benar dan bergerak tanpa petunjuk. Apabila ia dipanggil kepada perkebunan dunia ini, ia giat. Tetapi apabila ia dipanggil ke perkebunan akhirat, ia enggan serta bertangguh. Seakan-akan untuk apa yang ia giat adalah wajib baginya, sedangkan segala yang untuk itu, ia enggan tidak dituntut darinya.


https://para-auliya.blogspot.com/2011/12/nasehat-para-wali-allah.html

Jumat, 20 Oktober 2023

Ke-Mursyidan


Seorang mursyid—karena memiliki tugas dan tanggung jawab sangat berat—harus memenuhi beberapa syarat, di antaranya:

Pertama, dia harus alim dan ahli dalam memberi pencerahan kepada para murid dalam hal ilmu fiqh, aqa’id, dan tauhid dengan pengetahuan yang dapat menyingkirkan segala purbasangka dan keragu-raguan dalam benak para murid terkait dengan hal-hal tersebut;

Kedua, mengetahui semua sifat kesempurnaan hati, semua adabnya, semua kegelisahan jiwa dan penyakitnya, serta mengetahui cara menyehatkan dan memperbaikinya;

Ketiga, pandai menyimpan rahasia para murid, tidak membuka aib muridnya tetapi selalu  mengawasinya dengan pandangan sufi yang tajam dan memperbaikinya dengan sangat bijaksana;

Keempat, selalu berlapang dada dan ikhlas, tidak ingin menerima pujian dan sanjungan, tidak membebani para murid dengan apa yang tidak sanggup mereka kerjakan atau apa yang kurang mereka suka;

Kelima, selalu bermurah hati dalam memberi pengajaran; berbagai pendapat yang lain menyatakan bahwa syarat seorang mursyid haruslah seorang wali berdasarkan dalil QS. al-Kahfi ayat 17.

Sementara itu dalam beberapa kitab seorang mursyid dipersyaratkan harus seorang yang tabakhur fil ilmi, berpengetahuan luas, sehingga mampu menjawab semua permasalahan yang diajukan oleh para murid, dan ada juga dipersyaratkan harus seorang yang kasyaf, mampu melihat kejadian di masa lampau dan di masa yang akan datang.

Baru pada sekitar tahun 1994 sebagian ulama Jawa Tengah memutuskan dalam bahtsul masail bahwa syarat menjadi seorang mursyid cukuplah mampu menjawab semua permasalahan yang diajukan oleh pengikutnya terutama yang berhubungan dengan soal ibadah.

Tawasul




Tawasul adalah mencari perantara atau jalan terabas ketika memohon sesuatu atau mendekatkan diri kepada Allah Swt. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah perantara (wasilah) menuju Allah.”

Di surat yang lain Allah berfirman: “Orang-orang yang mereka seru itu pun orangorang yang mencari jalan (wasilah) kepada Tuhan mereka (meskipun) orang-orang tersebut lebih dekat (kepada Allah) dan mengharap rahmat Nya.”


Setidaknya ada empat prinsip yang harus dipegang teguh dalam bertawasul agar tidak terjatuh kepada kemusyrikan dan tercapai apa yang menjadi maksudnya. Empat prinsip itu adalah:

Pertama, tidak meyakini bahwa para nabi, wali, atau siapa saja yang ditawasuli adalah tempat memohon karena hanya Allah-lah tempat memohon dan Dzat Yang Maha Mengabulkan permohonan;

Kedua, menyadari bahwa dirinya penuh dosa dan kezaliman—sehingga tercegah dari pengabulan  ibadah dan doa—dan karena itu memakai perantaraan orang-orang yang dekat kepada Allah Swt.—sebab merekalah yang paling berhak dikabulkan permohonannya;

Ketiga, menyadari bahwa bertawasul adalah cara memohon kepada Allah yang lebih sopan;

Keempat,menyadari sepenuhnya bahwa sebenarnya seluruh anugerah Allah yang tercurah kepada makhluk-Nya selalu melalui sebuah perantara.


Bentuk tawasul bisa bermacam-macam. Namun secara garis besar, tawasul dapat dikelompokkan ke dalam dua bentuk, yaitu tawasul lewat amal kebajikan yang pernah diperbuat dan tawasul lewat orang lain.

Tata Cara Berziarah ahli Tarekat


Para pengikut Tarekat Naqsyabandiyah, Qodiriyah, dan lain-lain biasanya mempunyai tata cara tertentu ketika berziarah ke makam wali.

Tata cara tersebut, pada garis besarnya, adalah:

Pertama, mengucapkan salam;

Kedua, duduk menghadap ke ahli kubur dengan membelakangi ka’bah;

Ketiga, membaca al-Fatihah satu kali, Surat al-Ikhlas sebelas kali, dan Ayat Kursi satu kali;

Keempat, menghadiahkan pahala dari bacaan-bacaan tersebut kepada ahli kubur;

Kelima, duduk berdiam diri dan mengosongkan diri dari segala pikiran atau prasangka sehingga menyerupai kain yang bersih;

Keenam, menggambarkan dalam hati ruhani orang yang diziarahi sebagai cahaya yang lepas dari segala rabaan inderawi;

Ketujuh, menjaga cahaya tersebut di dalam hati sampai si peziarah mendapatkan sebuah pancaran cahaya dari berbagai pancaran cahaya yang ada;

Kedelapan, menjadikan gurunya wasilah antara dirinya dan orang yang diziarahi; dan

Kesembilan, menjadikan orang yang diziarahi wasilah antara dia (si peziarah) dan Allah Swt.


Para peziarah makam wali biasa mengambil bunga-bunga yang telah ditebarkan dan mengambil air yang disediakan di sekitar makam. Semua ini dilakukan sebagai upaya mendapatkan berkah (tabaruk). Semua ini dilakukan karena upaya tabaruk lewat berbagai benda yang berhubungan dengan sang wali ketika dia masih hidup sudah tidak mungkin dilakukan karena sang wali mungkin telah wafat puluhan atau ratusan tahun yang lalu. Maka bunga-bunga yang ditaburkan oleh para peziarah sebelumnya  diambil karena bunga-bunga itu dianggap telah berhubungan dengan sang wali. Air yang disediakan di makam pun diambil oleh para peziarah karena ia diyakini berasal dari mata air atau sumur yang dibuat oleh sang wali.


Fadhilah al-Fatihah



Dalam sebuah hadits dikisahkan bahwa Malaikat Jibril a.s. berkata kepada Rasulullah Saw.: “Wahai Muhammad, aku pernah khawatir siksa akan menimpa umatmu, namun ketika turun al-Fatihah aku merasa tenang.” Rasulullah Saw. bertanya: “Mengapa, ya Jibril?” Jibril a.s. menjawab, “Sesungguhnya Allah ta’ala pernah mengatakan bahwa neraka Jahanam disiapkan untuk umatmu. Neraka Jahanam memiliki tujuh pintu, sedangkan ayat-ayat al-Fatihah ada tujuh. Barangsiapa membaca ketujuh ayat itu, maka jadilah masing-masing ayat tersebut penutup buat tujuh pintu Jahanam, dan dengan demikian umatmu melewatinya dengan selamat.”

Memperbanyak membaca surat alFatihah bisa menambah banyaknya nikmat Allah yang diberikan kepada pembacanya. Sebab, surat al-Fatihah adalah Surat Syukur. Padahal, Allah berjanji bahwa barangsiapa mendapat nikmat dan lantas dia bersyukur maka Allah akan menambah nikmat tersebut; sebaliknya, barangsiapa mengingkari nikmat Allah maka sungguh siksa Allah sangat pedih.

Diriwayatkan dari Umar bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila engkau mengucapkan alhamdulillahi robbil alamin, maka sesungguhnya engkau benar-benar telah bersyukur kepada Allah ta’ala.” (HR. Ibnu Jarir, ad-Dailami, dan Hakim)

Surat al-Fatihah juga merupakan surat pencegah berbagai petaka dan penyakit bagi siapa saja yang membacanya.

Diriwayatkan dari Ibn Abbas dikisahkan bahwa ketika cucu Rasulullah Saw., Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib, menderita sakit yang sulit disembuhkan, Rasulullah Saw. bersusah hati, dan kemudian Allah memerintahkan Rasulullah Saw. untuk membacakan sebuah surat yang tidak ada huruf fa’-nya— karena huruf fa’ berasal dari kata âfat yang berarti petaka—ke wadah berisi air sebanyak 40 kali, dan dengan air tersebut Hasan kemudian dibasuh kedua tangannya, kedua kakinya, wajahnya, kepalanya, serta anggota tubuhnya yang tak terlihat dan yang terlihat, dan insyaallah Allah akan menghilangkan apa saja yang menyakitinya.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa menjalankan shalat 12 rakaat di waktu siang atau malam; kemudian membaca al-Fatihah, membaca surat-surat, melakukan tasyahud (tahiyat) dalam setiap dua rakaat, dan membaca salam; kemudian sesudah tasyahud pada dua rakaat yang terakhir sebelum salam melakukan sujud; kemudian dalam sujud itu membaca al-Fatihah 7 kali, Ayat Kursi 7 kali, dan mengucapkan: Lâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lahu. Lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alâ kulli syai’in qadîr. sebanyak 10 kali. Kemudian membaca: Allâhumma innî as’aluka bima’âqidil ‘izzi min ‘arsyika wamuntahar rahmati min kitâbika wa bismikal a’zhami wa wajhikal a’lâ wakalimâtikat tâmmâti an taqdhiya hâjatî. “Kemudian menyebut hajatnya, lalu mengangkat kepalanya dan membaca salam dengan menoleh ke kanan dan ke kiri; maka sesungguhnya Allah Swt. akan mengabulkan hajatnya.” Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, “Jangan kau ajarkan doa ini kepada orang-orang bodoh karena doa ini mustajabah.”

Berkata Syaikh al-Imam Ahmad ibn Ali al-Buni: “Barangsiapa membaca al-Fatihah 30 kali setelah shalat subuh, kemudian 25 kali sesudah shalat zhuhur, kemudian 20 kali sesudah shalat ashar, kemudian 15 kali sesudah shalat maghrib dan 10 kali sesudah shalat isya’, sehingga hitungannya mencapai 100 kali, maka dia akan terkabul hajatnya secara cepat.”

Beliau juga mengatakan: “Barangsiapa membaca al-Fatihah 100 kali sehabis setiap shalat maktubah (shalat lima waktu), maka dia akan mencapai tujuannya dengan cepat.”

Beliau juga mengatakan: “Barangsiapa membaca al-Fatihah sebanyak hurufnya, yaitu 125 kali, setiap hari, maka dia akan mencapai tujuannya (hajatnya) dengan mudah dan cepat

Syaikh al-Imam Muhyidin ibnu Arabi menyatakan: “Barangsiapa memiliki hajat, maka baca al-Fatihah 40 kali sesudah shalat maghrib sesudah menyelesaikan shalat fardhu dan shalat sunahnya; dan tidak beranjak dari duduknya sampai ia menyelesaikan bacaannya; dan kemudian meminta kepada Allah Swt. dengan membaca doa:

Ilâhi ilmuka kâfin ‘anis suâli ikfinî bihaqqil fâtihati suâlan, wa karamuka kâfin ‘anil maqâli akrimnî bihaqqil fâtihati maqâlan, wa hashshil mâ fî dhamîrî.

Dan kemudian menyebutkan hajatnya. Sayyid Muhammad Haqy an-Nazily menyebutkan bahwa sebagian ulama berkata: “Barangsiapa melanggengkan membaca al-Fatihah di waktu sahur 41 kali, maka Allah Swt. akan membuka rezekinya dan memudahkan semua urusannya dengan tanpa susah payah.” Syaikh at-Tamimi rahimahullah berkata: “Barangsiapa melanggengkan membaca al-Fatihah dengan Basmalah di antara shalat sunah subuh dan shalat fardhu subuh sebanyak 41 kali, maka apa pun yang dicarinya akan tercapai; bila dia seorang fakir maka Allah ta’ala akan membuatnya kaya, bila dia memiliki utang maka utangnya akan lunas, bila dia sakit maka dia akan disembuhkan dengan cepat, dan bila dia lemah maka dia akan dikuatkan.” Sebagian ulama mengatakan: “Barangsiapa melanggengkan membaca al-Fatihah di waktu sahur 41 kali, maka Allah Swt. akan membuka rezekinya dan memudahkan semua urusannya dengan gampang.

Baca Inspirasi yang lain di blog kami

Minggu, 17 September 2023

42 KEUTAMAAN BERSHOLAWAT KEPADA RASULALLAH ﷺ MENURUT SYAIKH ABDUL QODIR AL-JAILANIY RA.


42 KEUTAMAAN BERSHOLAWAT KEPADA RASULALLAH ﷺ MENURUT SYAIKH ABDUL QODIR AL-JAILANIY RA.


1. Bershalawat untuk Nabi berarti melaksanakan perintah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ 


2. Bershalawat utk Nabi berarti meniru Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎  yang bershalawat kepada Nabi. 


3. Bershalawat untuk Nabi berarti meniru malaikat-malaikat-Nya yang bershalawat kepada Nabi. 


4. Mendapat balasan 10 kali lipat shalawat dari

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ untuk diri kita pada setiap shalawat yang kita ucapkan. 


5. Allah akan mengangkat derajat orang yang membaca shalawat 10 tingkat lebih tinggi..

6. Mendapat 10 catatan kebaikan. 


7. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ menghapuskan 10 dosa keburukan. 


8. Berpeluang besar doanya akan dikabulkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ 


9. Shalawat adalah syarat utama mendapat syafaat dari Rasulullah ﷺ 


10. Shalawat adalah syarat untuk mendapat ampunan Allah dan akan ditutup segala aib. 


11. Shalawat adalah syarat untuk memperoleh perlindungan dari segala hal yang ditakutinya. 


12. Shalawat adalah syarat seseorang dapat dekat kepada Rasulullah ﷺ 


13. Nilai shalawat sama dengan nilai sedekah. 


14. Shalawat adalah alasan bagi Allah dan para malaikat untuk membacakan shalawat balasan. 


15. Shalawat adalah syarat kesucian jiwa dan raga bagi pembacanya. 


16. Terpenuhinya segala keinginan. 


17. Shalawat adalah alasan seseorang mendapat kabar baik bahwa dirinya kelak akan memperoleh surga. 


18. Shalawat adalah faktor memperoleh keselamatan di Hari Kiamat. 


19. Shalawat adalah alasan bagi Rasulullah ﷺ untuk mengucapkan shalawat balasan. 


20. Shalawat dapat membuat pembacanya teringat akan semua hal yang dilupakannya. 


21. Shalawat dapat membuat harumnya sebuah majelis pertemuan dan orang-orang yang hadir tidak mendapat kerugian di Hari Kiamat kelak. 


22. Shalawat dapat menghilangkan kemiskinan dan kefakiran bagi pembacanya. 


23. Shalawat dapat menghapus julukan orang kikir ketika shalawat dibacakan. 


24. Shalawat menjadi penyelamat dari doa ancaman Rasulullah bagi orang yang tidak membaca shalawat ketika namanya disebutkan. 


25. Shalawat akan mengiringi perjalanan pembacanya kelak di atas jembatan menuju surga dan akan menjauh dari orang yang tidak membacanya. 


26. Shalawat akan menghilangkan keburukan-keburukan di suatu majelis pertemuan yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah dan Rasul-Nya. 


27. Shalawat adalah penyempurna pahala dari sebuah percakapan yang dimulai dengan menyebut nama Allah dan membaca shalawat kepada Rasul-Nya. 


28. Shalawat adalah faktor yang dapat menyelamatkan seorang hamba ketika berada di atas jembatan menuju surga. 


29. Shalawat menghapus status sebagai pembenci shalawat. 


30. Shalawat adalah alasan bagi Allah untuk mengumumkan pujian baiknya kepada pembaca shalawat tersebut di hadapan semua makhluk, baik di bumi maupun di langit. 


31. Shalawat dapat mendatangkan rahmat Allah. 


32. Shalawat dapat mendatangkan berkah. 


33. Shalawat dapat melanggengkan dan mempertebal cinta kepada Rasulullah ﷺ dimana cinta ini merupakan simpul pokok keimanan.Dan, keimanan seseorang belum sempurna tanpa adanya cinta kepada Nabi. 


34. Shalawat dapat memikat hati Rasulullah agar mencintai dirinya. 


35. Shalawat mendatangkan hidayah dan menghidupkan hati yang telah mati. 


36. Shalawat adalah syarat agar nama pembacanya disebut-sebut di hadapan Rasulullah ﷺ 


37. Shalawat dapat memantapkan iman dan Islam serta membacanya sama dengan memberi hak yg layak diterima oleh Rasulullah ﷺ 


38. Shalawat merupakan bentuk syukur kita atas segala nikmat dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ 


39. Bacaan shalawat mengandung dzikir, syukur dan pengakuan atas nikmat Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ 


40. Shalawat yang dibaca seorang hamba adalah bentuk doa dan permohonan kepada Allah, terkadang doa itu dipersembahkan kpd Nabi ﷺ dan tak jarang pula untuk dirinya sendiri, karena shalawat dapat mendatangkan tambahan pahala.


41. Shalawat adalah buah yang paling manis dan faedah paling utama yang dapat didatangkan dari pembacaan shalawat atas Nabi adalah melekatnya gambaran seorang Nabi yang mulia di dalam jiwa pembacanya. 


42. Memperbanyak bacaan shalawat atas Nabi ﷺ menjadikan dirinya satu tingkatan dengan derajat seorang Syeikh Murabbi (guru spiritual). 


(Kitab As Safinah Al Qadiriyah Li Asy Syaikh ‘Abd Qadir Al Jailani Al Hasani)

Sabtu, 02 September 2023

100 PERINTAH ALLAH PADA MANUSIA YANG TERCATAT DI DALAM QURAN

100 PERINTAH ALLAH PADA MANUSIA YANG TERCATAT DI DALAM QURAN

INI POIN POIN REVOLUSI AKHLAK: 

1. Jangan berkata kasar.
(QS 3 – Ali Imran : 159)
2. Tahanlah marah.
(QS 3 – Ali Imran : 134)
3. Berbaiklah kepada orang lain.
(QS 4 – An Nisaa’ : 36)
4. Jangan sombong dan congkak.
(QS 7 – Al A’raaf : 13)
5. Maafkanlah kesalahan orang lain.
(QS 7 – Al A’raaf : 199)
6. Berbicaralah dengan nada halus dan bersopan.
(QS 20 – Thaahaa : 44)
7. Rendahkanlah suaramu.
(QS 31 - Luqman : 19)
8. Jangan mengejek orang lain. 
(QS 49 – Al Hujuraat : 11)
9. Berbaktilah pada orang tua (ibu bapak). 
(QS 17 – Al Israa’ : 23)
10. Jangan mengeluarkan kata yang tidak menghormati orang tua ( ibu bapak). 
(QS 17 – Al Israa’ : 23)
11. Jangan memasuki kamar pribadi ibu bapak tanpa izin. 
(QS 24 – An Nuur : 58)
12. Catatlah hutang-hutangmu.
(QS 2 – Al Baqarah : 282)
13. Jangan mengikuti orang secara membabi buta. 
(QS 2 – Al Baqarah : 170)
14. Berikanlah lanjutan waktu bila orang yang berhutang kepadamu dalam kesempitan. 
(QS 2 – Al Baqarah : 280)
15. Jangan makan riba’/membungakan uang
(QS 2 – Al Baqarah : 1)
16. Jangan melakukan korupsi) 
(QS 2 – Al Baqarah : 188)
17. Jangan ingkar atau melanggar janji* 
(QS 2 – Al Baqarah : 177)
*18. Jagalah kepercayaan orang lain kepadamu
(QS 2 – Al Baqarah : 283)
19. Jangan campur adukan kebenaran dengan kebohongan 
(QS 2 – Al Baqarah : 42)
20. Berlakulah adil terhadap semua orang
(QS 4 – An Nisaa’ : 58)
21. Tegakkanlah keadilan dengan tegas
(QS 4 – An Nisaa’ : 135)
22. Harta yang meninggal harus dibagikan kepada anggota keluarga
(QS 4 – An Nisaa’ : 7)
23. Wanita memiliki hak waris
(QS 4 – An Nisaa’ : 7)
24. Jangan memakan harta anak yatim
(QS 4 – An Nisaa’ : 10)
25. Lindungi anak yatim
(QS 2 – Al Baqarah : 220)
26. Jangan memboroskan harta dengan sewenang-wenangnya
(QS 4 – An Nisaa’ : 29)
27. Damaikanlah orang yang berselisih
(QS 49 – Al Hujuraat : 9)
28. Hindari perasangka buruk 
(QS 49 – Al Hujuraat : 12)
29. Jangan memfitnah orang
(QS 2 – Al Baqarah : 283)
30. Jangan memfitnah orang
(QS 49 – Al Hujuraat : 12)
31. Gunakan harta untuk kegiatan sosial
(QS 57 – Al Hadid : 7)
32. Biasakan memberi makan orang miskin
(QS 107 – Al Maa’uun : 3)
33. Bantulah orang fakir yang berada di jalan Allah
(QS 2 – Al Baqarah : 273)
34. Jangan menghabiskan uang untuk bermegah-megah
(QS 17 – Al Israa’ : 29)
35. Jangan menyebut-nyebut tentang sedekahmu
(QS 2 – Al Baqarah : 264)
36. Hormatilah tamu anda
(QS51AdzDzaariyaat26)
37. Perintahkan kebajikan setelah kita melakukannya sendiri
(QS 2 – Al Baqarah : 44)
38. Jangan berbuat kerusakan di muka bumi
(QS 2 – Al Baqarah : 60)
39. Jangan menghalangi orang datang ke masjid 
(QS 2 – Al Baqarah : 114)
40. Perangilah mereka yang memerangi mu
(QS 2 – Al Baqarah : 190)
41. Jagalah etika perang 
(QS 2 – Al Baqarah : 191)
42. Jangan lari dari peperangan 
(QS 8 – Al Anfaal : 15)
43. Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam)
(QS 2 – Al Baqarah : 256)
44. Berimanlah kepada para Nabi 
(QS 2 – Al Baqarah : 285)
45. Jangan melakukan hubungan intim di saat haid 
(QS 2 – Al Baqarah : 222)
46. Susuilah anak-anakmu selama dua tahun penuh
(QS 2 – Al Baqarah : 233)
47. Jauhilah hubungan intim di luar nikah 
(QS 17 – Al Israa’ : 32)
48. Pilihlah pemimpin yg pantas. Pilihlah pemimpin berdasarkan ilmu dan jasanya 
(QS 2 – Al Baqarah : 247)
49. Jangan membebani orang di luar kesanggupannya
(QS 2 – Al Baqarah : 286)
50. Jangan mau dipecah belah
(QS 3 – Ali Imran : 103)
51. Renungkanlah keajaiban dan penciptaan alam semesta ini
(QS 3 – Ali Imran 3 :191)
52. Lelaki maupun wanita mendapat balasan yang sama sesuai perbuatannya
(QS 3 – Ali Imran : 195)
53. Jangan menikahi mereka yang sedarah denganmu 
(QS 4 – An Nisaa’ : 23)
54. Keluarga harus di-imami oleh seorang lelaki
(QS 4 – An Nisaa’ : 34)
55. Jangan pelit
(QS 4 – An Nisaa’ : 37)
56. Jangan iri hati
(QS 4 – An Nisaa’ : 54)
57. Jangan saling membunuh
(QS 4 – An Nisaa’ : 92)
58. Jangan membela ketidakjujuran atau kebohongan 
(QS 4 – An Nisaa’ : 105)
59. Jangan bekerja-sama dalam dosa dan kekerasan
(QS 5 – Al Maa-idah : 2)
60. Bekerja samalah dalam kebenaran
(QS 5 – Al Maa-idah : 2)
61. Mayoritas bukanlah merupakan kriteria kebenaran 
(QS 6 – Al An’aam : 116)
62. Berlaku adil
(QS 5 – Al Maa-idah:8)
63. Berikan hukuman untuk setiap kejahatan 
(QS 5 – Al Maa-idah : 38)
64. Berjuanglah melawan perbuatan dosa dan melanggar hukum
(QS 5 – Al Maa-idah : 63)
65. Dilarang memakan binatang mati, darah dan daging babi
(QS 5 – Al Maa-idah : 3)
66. Hindari minum racun dan alkohol
(QS 5 – Al Maa-idah : 90)
67. Jangan berjudi 
(QS 5 – Al Maa-idah : 90)
68. Jangan menghina keyakinan atau agama orang lain 
(QS 6 – Al An’aam : 108)
69. Jangan mengurangi timbangan untuk menipu
(QS 6 – Al An’aam : 152)
70. Makan dan minumlah secukupnya
(QS 7 – Al A’raaf : 31)
71. Kenakanlah pakaian yang bagus di saat sholat
(QS 7 – Al A’raaf : 31)
72. Lindungi dan bantulah mereka yang meminta perlindungan 
(QS 9 – At Taubah:6)
73. Jagalah kemurnian 
(QS 9 – At Taubah : 108)
74. Jangan pernah putus asa akan pertolongan Allah 
(QS 12 – Yusuf : 87)
75. Allah mengampuni orang yang berbuat dosa kerana kebodohannya 
(QS 16 – An Nahl : 119)
76. Berserulah/ajaklah  kepada jalan Allah dengan cara yang baik dan bijaksana 
(QS 16 – An Nahl : 125)
77. Tidak ada seorangpun yang menanggung dosa orang lain 
(QS 17 – Al Israa’ : 15)
78. Jangan membunuh anak-anakmu kerana takut akan kemiskinan
(QS 17 – Al Israa’ : 31)
79. Jangan mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya 
(QS 17 – Al Israa’ : 36)
80. Jauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanafaat 
(QS23–Al Mu’minuun:3)
81. Jangan memasuki rumah orang lain tanpa izin pemilik rumah
(QS 24 – An Nuur : 27)
82. Allah menjamin balasan kebaikan hanya kepada mereka yang percaya kepada Allah 
(QS 24 – An Nuur : 55)
83. Berjalanlah di muka bumi dengan rendah hati
(QS 25 – Al Furqaan : 63)
84. Jangan melupakan kenikmatan dunia yang telah Allah berikan 
(QS 28–Al Qashash : 77)
85. Jangan menyembah Tuhan selain Allah
(QS 28 – Al Qashash:88)
86. Jangan terlibat dalam homosexual
(QS29–Al ‘Ankabuut : 29)
87. Berbuat baik dan cegahlah perbuatan munkar 
(QS 31 - Luqman : 17)
88. Janganlah berjalan di muka bumi dengan sombong
(QS 31 - Luqman : 18)
89. Wanita dilarang memamerkan diri
(QS 33 – Al Ahzab : 33)
90. Allah mengampuni semua dosa-dosa kita
(QS 39 – Az Zumar : 53)
91. Jangan berputus asa akan keampunan dari Allah
(QS 39 – Az Zumar : 53)
92. Balaslah kejahatan dengan kebaikan
(QS 41 – Fushshilat : 34)
93. Selesaikan persoalan dengan bermusyawarah
(QS 42–Asy Syuura : 38)
94. Orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang bertaqwa
(QS 49 – Al Hujuraat : 13)
95. Tidak ada dikenal biara dalam agama (Islam)
(QS 57 – Al Hadid : 27) 
96. Allah akan meninggikan darjat mereka yang berilmu 
(QS58–Al Mujaadilah11)
97. Perlakukan kaum bukan Islam dengan baik dan adil 
(QS60-Al Mumtahanah: 
98. Hindari diri dari sifat kikir 
(QS64–AtTaghaabun:16)
99. Mohon keampunan kepada Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang 
(QS73–AlMuzzammil;20)
100. Jangan menghardik orang yang meminta-minta
(QS 93–Adh Dhuhaa: 10).

Semoga bermanfaat.

Jumat, 25 Agustus 2023

DZIKRUL ANFAS


 

Dalam praktik dzikr thoriqoh, selain dilakukan dalam bentuk beberapa bacaan lisan, terdapat pula dzikr sanubari yang terletak dalam beberapa tempat yang dinamakan lathifah. Hal ini dimaksudkan untuk memperluas wilayah dzikr/ anggota tubuh yang berdzikr. Hal yang lebih penting dari adanya dzikr lathifah tersebut yaitu bahwa dzikr yang berarti mengingat tidaklah dilakukan dengan lisan melainkan dengan subjek bathin yaitu sanubari manusia. Meski kata dzikr juga dapat berarti menyebut yang dilakukan oleh indera pengucapan, namun konsep dzikr yang sesungguhnya lebih kepada aspek bathin seorang yang berdzikr.


       Salah satu praktik lain dzkir dalam thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah adalah praktik dzikrul anfas, yang berarti berdzikr dalam setiap nafas manusia. Nafas menjadi hal yang sangat mendasar bagi ciri kehidupan seorang manusia. Dari hal tersebut, sangat penting melakukan dzikrul anfas sebagai bentuk dzikr dari hal yang pokok dalam kehidupannya. Nafas menjadi bagian yang berjalan menyeluruh dalam anggota badan manusia. Ketika nafas tersebut disertai dzikr, maka dzikr tersebut akan turut serta menyusuri seluruh anggota tubuh manusia bersama dengan nafas yang masuk ke dalam darah.


       Dzikr ini sebagai penunjang dzikr lathaif yang berfokus pada aliran darah. Sehingga apabila dilakukan bersamaan, darah yang disertai dzikr akan membawa nafas yang juga disertai dzikr. Dengan kedua dzikr tersebut, tubuh manusia akan dipenuhi oleh dzikr. Hal ini akan menjadi nutrisi yang sangat baik bagi fisik dan mental seseorang. Secara fisik, pernafasan yang benar akan menjadikan peredaran darah yang lancar dan baik bagi kesehatan. Darah yang berisi dzikr juga akan berjalan lancar karena dzikr pada aliran darah akan meningkatkan suhu darah sehingga tidak beku dan menggumpal.


       Praktik dzikrul anfas tidak dengan ucapan lisan melainkan ucapan hati. Ketika menarik nafas, hati mengucapkan kata "Hu" dan ketika keluar mengucapkan "Alloh". Praktik dzikr ini dapat dilakukan dan dianjurkan dalam setiap tarikan dan hembusan nafas dalam kondisi apapun. Dzikr ini tidak terbatasi oleh waktu tertentu. Setiap kali bernafas dalam kondisi sadar, dzikr ini hendaknya senantiasa dilakukan. Dzikr ini dapat dilakukan dalam semua aktivitas sehari-hari. Dalam posisi berdiri, duduk, tiduran, berjalan dan sebagainya.


       Dalam sebuah terapi kesehatan, seorang terapis mengatakan kepada pasien yang mengalami sakit perut agar ketika tiduran dengan posisi telentang, mengganjal bagian pinggangnya supaya agak tinggi, melakukan terpi pernafasan dengan praktik dzikrul anfas, menyalurkan dan memusatkan nafas pada area perut selama 15 -20 menit. Dalam 2x praktik sendiri, hasil diperoleh sangat baik. Gangguan pada pencernaannya sudah hilang dan sudah normal seperti semula.


       Beberapa golongan kaum yang menganggap hal ini sebagai sebuah perilaku sesat, sebenarnya hal ini merupakan hal yang belum dipahami sepenuhnya oleh mereka. Konsep ini sebenarnya telah diajarkan dan dianjurkan oleh Nabi, namun jarang dikemukakan karena materi ini tidak boleh dilakukan atas pemahaman pribadi melainkan harus melalui seorang guru yang telah mendapatkan hak untuk mengajarkan materi tersebut yakni seorang mursyid thoriqoh. Apabila pembaca hendak mengamalkan dzikr ini, hendaknya meminta izin seorang guru mursyid.


"Pertanggungjawaban perilaku kehidupan bukan hanya pada anggota tubuh seperti tangan, kaki, panca indera, namun juga pada nafas yang dipinjamkan kepada kita. Untuk apa nafas itu?"


Copy paste : http://at-tauchidjogomertan.blogspot.com/

Rabu, 09 Agustus 2023

Apa Itu Tarekat


Istilah “Tarekat” memiliki berbagai makna, bisa berarti jalan, tradisi kesufian, atau organisasi persaudaraan sufi. Tetapi kini istilah “tarekat” sering kali diartikan sebagai organisasi persaudaraan sufi, sehingga tarekat dalam arti ini berarti pengorganisasian ajaran esoteris (khusus kesufian) yang berpusat pada hadirnya seorang mursyid (guru sufi).[2]


Secara etimologis, istilah “tarekat” berasal dari bahasa arab tariqah, yang berarti “jalan”, yang bermakna sama dengan jembatan/sirat, syariah, dan sabil[3]. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tarekat merupakan kata benda yang mempunyai beberapa arti, yakni: jalan, jalan menuju kebenaran (dalam tasawuf), cara atau aturan hidup (dalam keagamaan atau ilmu kebatinan), dan persekutuan para penuntut ilmu tasawuf.[4]


Secara terminologis, tarekat memiliki tiga arti, yakni: jalan lurus, tasawuf, atau persaudaraan sufi[5]. Tarekat bisa diartikan dengan as-sirat al-mustaqim (jalan lurus) sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surah al-Fatihah yang berarti: “ Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.” Tarekat dalam arti ini adalah islam yang benar, yang berbeda dari kekufuran dan syirik sebagai penyimpangan dari jalan yang lurus.[6]


Tarekat juga bisa berarti tradisi sufi atau tasawuf. Apabila tasawuf dipandang sebagai jalan spiritual menuju Tuhan, maka tarekat dalam arti ini sama dengan tasawuf. Sang penempuh jalan spiritual ( salik ) harus  menempuh jalan itu di bawah bimbingan seorang guru terpercaya, yang biasanya disebut syekh, mursyid atau pir. Dalam arti ini, tarekat adalah nama khusus untuk jalan spiritual islam yang disebut tasawuf.[7] Makna lain  dari tarekat adalah persaudaraan sufi yang terorganisasi. Dalam arti ini, tarekat bukan hanya merupakan jalan spiritual yang disebut tasawuf, tetapi juga merupakan organisasi sosial sufi yang memiliki anggota dan peraturan yang yang harus ditaati. Tarekat dalam arti persaudaraan sufi baru muncul pada abad ke-12 dan ke-13.[8]


Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin mempunyai definisi tersendiri mengenai tarekat, menurut beliau tarekat ialah:[9]


وَقَدْ سَبَقَ أنْ عَرَفْنَا أنَّ مَرَاتِبَ الوُصُولِ إلى اللهِ عَلَى ثَلاثَةِ مَرَاحِلْ : اِسْلامٌ ، فَإيمَانٌ ، فَإحْسَانٌ ، فَالعَبْدُ مَا دَامَ مَشْغُولاً بِالعِبَادَةِ وَحْدَهَا فَهُوَ في مَقَامِ الاِسْلامْ ، أوْ مَقَامَ الشَّرِيعَةِ ، فَإذَا اِنْتَقَلَ العَمَلُ إلُى القَلْبِ بِالتَّصْفِيَةِ وَالتَّخْلِيَةِ مِنَ الشَّرِ وَالتَّحْلِيَةِ بِالخَيْرِ وَتَحَقَّقَ بِالاِخلاَصِ فَهُوَ في مَقَامِ الإيمانِ أوْ مَقَامَ الطَّرِيقَة ، وَإذَا بَلَغَ الاِنْسَانُ مَرْتَبَةَ العِبَادَةِ للهِ كَأنَّهُ يَرَاهُ فَهُوَ في مَقَامِ الاِحْسَانِ أوْ مَقَامِ الحَقِيقَة ، وَلِذَلِكَ يَقُولُوْنَ – الشَّرِيعَةُ أنْ تَعْبُدَهُ وَالطَّرِيقَةُ أنْ تَقْصِدَهُ – وَالحَقِيقَةُ أنْ تَشْهَدَهُ –

“Sudah kita sebut dahulu, bahwa martabat wushul ( sampai kepada Allah ) adalah tiga perjalanan, yakni: pertama islam, kedua iman, dan ketiga ihsan. Adapun seorang hamba Allah, jika ia kekal sibuk dalam ibadah, berada dalam makam Islam atau makam Syariat. Apabila amal itu berpindah kepada hati dengan kebersihan dan sunyi daripada kejahatan, berisi dengan kebajikan sempurna ikhlas, maka orang itu berada dalam makam iman atau makam tarekat. Apabila manusia itu telah sampai pada martabat ibadat untuk Allah semata-mata, seakan-akan Allah melihatnya, maka ia berada dalam maqom Ihsan  atau maqom hakikat. Oleh karena itu di ungkapkan orang :”Adapun syari’at  itu ialah bahwa kamu menyembah Allah”. Tarekat itu ialah bahwa kamu menuju kepada Allah, dan hakikat itu ialah bahwa kamu bermusyahadah benar-benar menyaksikan Allah yang Maha Pencipta.”[10]


Tarekat pada bayan diatas ialah “bahwa kamu menuju kepada Allah”, menuju kepada Allah disini ialah merupakan tujuan dari segala bentuk ibadat yang dilakukan oleh semua makhluk, apa yang mereka kerjakan tidak lain adalah untuk menuju kepada-Nya dan mendapat ridla-Nya tenmtunya dengan aturan dan cara yang tepat pada pengamalan tarekat tersebut.


Bila membicarakan tarekat sudah tentu membicarakan tentang tasawuf. Tarekat dan tasawuf adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya, karena dua hal ini adalah sebagai sebab dan akibat dari adanya dua hal tersebut.


Dari hasil wawancara penulis dengan narasumber yakni bapak KH. Nur Muhammad Suharto (wakil talkin Abah Anom TQN Pon.Pes Suryalaya) didapat keterangan sebagai berikut:[11]bahwasannya ajaran islam berlandaskan pada tiga asas/dasar, yakni islam, iman dan ihsan. Dari masing-masing asas tadi memiliki ruang lingkup kajian yang berbeda-beda, islam mengkaji tentang aspek syariah, iman mengkaji tentang aspek akidah, dan ihsan mengkaji tentang aspek akhlak. Untuk memahami semua itu diperlukan ilmu yang mengkaji lebih detail untuk setiap aspek-aspek trilogi islam tersebut, dimana ilmu yang membahas tentang syariah disebut ilmu fikih, ilmu yang membahas tentang akidah disebut ilmu ushuludin dan ilmu yang membahas tentang akhlak disebut ilmu tasawuf. Dan ilmu-ilmu tersebut diaplikasikan dalam bentuk madzhab untuk aplikasi ilmu fikih, firqah untuk aplikasi ilmu ushuludin dan tarekat untuk ilmu tasawuf.


Menurut Ibnu Khaldun[12], ilmu tasawuf merupakan bagian dari ilmu-ilmu yang muncul dikemudian hari dalam agama. Pada dasarnya, pendekatan para ulama salaf seperti para sahabat dan para tabi’in yang datang sesudahnya merupakan pendekatan yang benar dan berhak mendapat petunjuk, yang bertumpu pada kesungguhan dalam beribadah dan memfokuskan pengabdian kepada Allah SWT, menghindari kemegahan dan gemerlap dunia dengan segala perhiasannya, berzuhud dari kenikmatan harta dan ketinggian jabatan yang banyak diharapkan masyarakat pada umumnya, dan mengasingkan diri dari keramaian dunia dan berkhalwat untuk memusatkan diri dalam ibadah. Aktivitas semacam ini merupakan fenomena umum di kalangan para sahabat dan ulama salaf. Ketika kecintaan dunia semakin merebak dalam kehidupan pada abad kedua dan sesudahnya, dimana manusia berlomba-lomba untuk menggapai kemewahannya, maka orang-orang yang mengabdikan diri dalam kekhusyukan ibadah mendapat sebutan khusus ash-shufiyah dan al- Mutashawifah.[13]Al- Qusyairi mengatakan, “ Asal kata nama ini tidak memiliki bukti apapun dari segi bahasa Arab dan tidak pula qiyas. Yang jelas, nama tersebut merupakan gelar jabatan. Orang yang mengatakan bahwa kata tersebut berasal dari ash-shafa atauash-shifah, maka sangat jauh dari segi filologi (qiyas bahasa), begitu juga dengan kata ash-shuf. Sebab yang memakai wol ini bukan hanya mereka.”[14]


Ibnu khaldun berpendapat[15], “ Jika memang bahwa kata tasawuf berasal dari kata ash-shuf,  maka hal ini dikarenakan para sufi paling banyak memakai pakaian dari wol atau bulu domba. Sikap ini dimaksudkan untuk menentang pakaian masyarakat pada umumnya yang bermewah-mewahan dalam berpakaian. Ketika mereka mengikuti gaya hidup yang jauh dari keglamouran, banyak berkhalwat dan bermeditasi untuk memusatkan perhatian kepada Allah dalam ketulusa ibadah, maka mereka memiliki karaketer yang membuat mereka mudah dikenal. Sebab manusia berbeda dengan semua makhluk hidup hanya dengan pengetahuannya.[16]


Adapun objek dari ilmu tasawuf adalah perbuatan hati dan panca indera ditinjau dari segi cara penyuciannya. Penyucian hati manusia menjadi amat penting keberadaannya karena tanpanya manusia tidak akan bisa dekat dengan Zat Yang Maha Suci.[17] Dan buah dari ilmu tasawuf itu sendiri tidak lain ialah terdidiknya hati sehingga memperoleh makrifat terhadap ilmu gaib secara rohani, selamat di dunia dan bahagia di akhirat, dengan mendapat keridaan Allah, memperoleh kebahagiaan abadi, hati bersinar dan suci yang karenanya terbukalah kepada sufi tersebut perkara-perkara yang gaib, dan ia dapat menyaksikan keadaan-keadaan yang menakjubkan. Manusia yang terdidik hatinya disebut al-‘arif al-wasil ilallah.  Indikator model sufi serupa ini adalah terwujudnya akhlak karimah dalam dirinya.[18]


Ilmu tasawuf adalah ilmu yang paling mulia karena berkaitan dengan makrifat kepada Allah SWT dan mahabbah kepada-Nya. Ilmu tasawuf adalah ilmu yang paling utama secara mutlak, karena objeknya adalah hati manusia dan hubungannya dengan Allah SWT.[19] Sumber ilmu tasawuf tidak lain adalah sumber hukum islam yang utama, yakni al-Qur’an dan as-Sunah, juga dari atsar as-sabitah(tradisi yang sudah baku dan mapan) dari umat-umat pilihan dimasa silam.[20]


Segala ilmu yang ada di dunia ini pasti berkaitan dengan hukum dalam mempelajarinya, begitu juga dengan ilmu tasawuf, hukum mempelajari ilmu tasawuf adalah wajib ain, artinya kewajiban yang mengikat kepada setiap individu muslim, sebab setiap orang tidak akan lepas dari kekurangan-kekurangan, dan kemungkinan terkena penyakit hati kecuali para nabi.[21]


Sudah jelas apa yang dimaksud dengan ilmu tasawuf, dan dapat penulis simpulkan bahwasannya ilmu tasawuf adalah ilmu yang membahas bagaimana cara untuk membersihkan hati dengan metode-metode mendekatkan diri kepada Allah SWT atas petunjuk sang Guru Mursyid dengan silsilah yang wushul hingga Allah SWT dan amaliyah yag berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunah dan metode yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah itulah yang kita kenal dengan istilah tarekat.Bila diawal kita telah mengetahui apa itu tarekat baik secara bahasa dan ishtilah,  secara khususnya pengertian tarekat dalam ilmu tasawuf ialah jalan atau petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah dengan ajaran yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW dan diajarkan oleh sahabat-sahabat Nabi, tabiin, tabiit tabiin dan turun-temurun sampai pada guru-guru/ulama-ulama sambung-menyambung sampai pada masa kini.[22]


Maka sudah jelas disini, antara tarekat dan tasawuf adalah dua hal yang berbeda, dimana tasawuf adalah ilmu yang membahas bagaimana cara untuk berakhlakul karimah, dan tarekat adalah aplikasi dari ilmu tersebut yang berbentuk organisasi atau perkumpulan para pengamal ajaran tarekat yang bersangkutan.


Perlu diketahui, tidak semua organisasi atau perkumpulan para pengamal ajaran tarekat dapat dikatakan tarekat. Tentunya sebuah tarekat mempunyai beberapa syarat dan kriteria sehingga ia dapat dikatakan sebagai sebuah tarekat. Dalam perishtilahan kaum ahlu sunah wal jamaah, ada yang disebut dengan Tariqah al-Mu’tabarah, ialah tarekat yang sah secara hukum dan bisa dipertanggungjawabkan secara syariat.[23]


 Menurut ahli sufi kriteria kemuktabarahan sebuah tarekat ialah:[24]


Substansi ajarannya tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunah, dalam arti bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunah.

Tidak meninggalkan syariat

Silsilahnya sampai dan bersambung kepada Rasulullah SAW

Ada mursyid yang membimbing para murid

Ada murid yang mengamalkan ajaran gurunya

Kebenaran ajarannya bersifat universal

Dan bila disimpulkan kriteria-kriteria tersebut dapat mengkerucut menjadi beberapa syarat, yakni:[25]


Mursyid

Wirid

dan Murid.

Wallahu a’lam bishshawwaab


Oleh: Aspiyah Kasdini. R. A


Appendik

                [2]Ade Armando, Edi Sudrajat dan Ahmad Gaus A.F, Ensiklopedi Islam untuk Pelajar  ( Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 2005),  hlm: 9.

                [3]Ibid.

                [4]Departemen Pendidikan Nasional,  Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga  (Jakarta: Balai Pustaka, 2005),  hlm: 1144.

                [5]Ade Armando, Edi Sudrajat dan Ahmad Gaus A.F, Ensiklopedi Islam untuk Pelajar  (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 2005),  hlm: 9.

                [6]Ibid.

                [7]Ibid.

                [8]Ibid.

                [9]KH. Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin, Miftahus Shudur Juz ats-Tsani (Sukabumi: Katabah Zainal Abidin Aminullah,  1980),  hlm: 38.

                [10]Kh. Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin ,  Kunci Pembuka Dada Juz 2,  terj. Prof. Dr. KH. Aboebakar Atjeh, (Tasikmalaya: PT. Mudawamah warahmah, 1970),  hlm: 33.

                [11]KH. Nur Muhammad Suharto, Wakil Talkin Abah Anom TQN Pon. Pes Suryalaya, Wawancara, Tasikmalaya, 06 Mei 2014, 14: 48 WIB.

                [12]Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun, Mukaddimah, ter. Masturi Irham, Malik Supar, dan Abidun Zuhri (Jakarta: al-Kautsar, 2011),  hlm: 865.

                [13]Ibid.

                [14]Ibid.

                [15]Ibid.

                [16]Ibid, hlm: 866.

                [17]Cecep Alba, Tasawuf dan Tarekat  (Bandung: Rosda Karya, 2012),  hlm: 12.

                [18]Ibid.

                [19]Ibid.

                [20]Ibid.

                [21]Ibid, hlm: 14.

                [22]Noor Anom Mubarok, Syariat Thoriqat Hakikat dan Makrifat  (Tasikmalaya: Pon.Pes Suryalaya, tth),  hlm: 20.

                [23]Ade Armando,Edi Sudrajat, dan  A. Ahmad Gaus, Ensiklopedi Islam untuk Pelajar  (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 2005),  hlm: 10.

                [24]Zainal Abidin Anwar,  Konsep Islam Dalam Memanusiakan Manusia ( Tasikmalaya: PP. Suryalaya, tth),  hlm: 6.

                [25]Zaenal Abidin Anwar, IAILM Ponpes Suryalaya STIE Lathifah Mubarokiyyah(Tasikmalaya: PT. Mudawwamah Warahmah. 2010), hlm: 18.


copy paste from https://jatman.or.id/apa-itu-tarekat/

Kitab Asrar Al ‘Arifin; Tafsir Hamzah Fansuri atas Syair-syairnya


 

Asrâr Al-‘Ārifîn fî Bayân ‘Ilm al Sulúk wa al Tauhîd atau Rahasia Ahl Ma’rifah adalah kitab Hamzah Fansuri yang menjelaskan makna beberapa bait syairnya. Diketahui bahwa syair Syekh Hamzah Fansuri teramat banyak.


Di antara sekian syair tersebut, sebagian darinya ditafsir oleh murid beliau seperti Syamsuddin Sumatrani dalam Kitab Ruba’i Hamzah Fansuri dan Syair Ikan Tongkol. Juga terdapat tafsir syair Hamzah Fansuri yang disalin ulang oleh Muhammad Yusuf Trengganu yang diyakini juga ditulis sendiri oleh Syekh Trengganu tersebut. Naskah tertua disimpan di Leiden, No. 7291 dan sudah ditransliterasikan oleh Doorbores (1933) dan Al-Attas (1970). Menurut Syarifuddin, Naskah ini juga terdapat dalam koleksi perpustakaan kuno Abu Dahlan Tanoh Abee, No. 663 Aceh Besar.


Selain ditafsir oleh muridnya, Hamzah juga menafsir sendiri syair-syairnya diantaranya 15 bait syair yang ditafsir dan diberi nama Asrar Al Arifin atau rahasia ahli ma’rifah (the secrets of the gnostic). Kitab ini menjelaskan lima belas bait syair milik Hamzah Fansuri. Kitab ini adalah tafsir mistik atas syair mistik, dimana penafsir dan pembuat syair adalah beliau sendiri. Kata Hamzah, bagi yang tidak memahami bagaimana makna syair, dapat menggalinya dari tafsirnya karena tafsir atas syair makrifat, juga merupakan makrifat.


Kitab Asrar Al Arifin membahas mengenai makrifat kepada Allah, baik makrifat Sifat maupun Asma’-nya. Menurut Hamzah, seorang yang menyembah Allah tapi tidak disertai dengan makrifat, maka ia tetap muslim akan tetapi imannya kurang. Begitu penting makrifat kepada Allah hingga Hamzah mengutip ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa,


“Siapa yang di dunia buta (tidak mengenal Allah) maka di akhirat kelak ia juga buta (17:72).”


Bagi Hamzah, mereka yang tidak mengetahui Allah disebut awwam, mereka yang mengetahui Allah (dengan ilmu) disebut khash dan mereka yang mengenal Allah (dengan makrifat) disebut khawas al khawas.


Bait pertama, kedua, ketiga dan keempat berbicara mengenai Dzat Allah beserta ketujuh sifatnya. Hamzah menyebutkan bahwa walaupun mengetahui nama (asma’) itu penting (termasuk mengetahui sifat dan perbuatan Allah), tapi mengenal Yang Pertama (yaitu Khuni Dzat Allah) itu lebih penting. Hamzah menyebutkan,


“Yakni tatkala bumi, langit, arash, kursi, surga, neraka dan semesta belum ada, maka yang Ada ketika itu hanya Dzat Allah semata, sendiri tiada dengan sifat dan asma.”


Dzat itu disebut Huwa, kata tunjuk bagi Dzat tanpa sifat dan asma. Adapun nama “Allah” adalah himpunan seluruh Asmaul Husna, sama seperti nama “Muhammad” yang terhimpun di dalamnya, nama-nama mulia bagi baginda junjungan kita.


Menurut Hamzah, Allah itu “Qadim” yaitu suatu makna yang sulit dipahami kecuali oleh mereka yang sudah terbuka hijab (kasyf). Mereka yang sudah terbuka hijab mengumpamakan Qadim seperti buah yang bulat, tiada berujung, tiada berpangkal, tiada batasan awal dan tiada pula batasan akhir. Tiada depan, tiada belakang, tiada kiri dan tiada pula kanan, tiada atas dan tiada bawah. Perumpamaan lain seperti lingkaran yang tiada awal dan tiada akhir. Menurut mereka, Allah Ada beserta tujuh Sifat Qadim lainnya yaitu Hayyat, Ilmu, Iradah, Qudrah, Kalam, Sama’ dan Bashar.


Bait kelima menjelaskan mengenai Hakikat Muhammad. Ketika ilmu melihat ma’lumat, maka muncul hakikat Muhammad. Dan Hakikat Muhammad adalah yang pertama bercerai dengan Dzat. Ia disebut Ruh Idhafi (nyawa yang tersandar), terkadang disebut Aql Kulli (perhimpunan akal), Nur (cahaya), Qalam al-A’la (huruf tertinggi) dan Lauh al-Mahfuz (bentangan yang dipelihara tempat takdir manusia ditempa).


Bait keenam berbicara mengenai Tuhan yang Kamal (sempurna) dengan Sifat Jamal (indah) dan Jalal (perkasa)-Nya. Itu sebabnya walaupun Tuhan menciptakan surga tapi juga menciptakan neraka. Walaupun ia menciptakan kesalehan dan kebaikan tapi ia juga menciptakan kefasiqan dan keburukan. Maka (dengan Jamal dan Jalal Allah), baik dan buruk berasal dari Allah. Rahim adalah Jamal Allah dan Rahman Adalah Jamal Allah. Pun demikian, dalam perikehidupan manusia juga harus diyakini bahwa Allah hanya ridla kepada perbuatan baik dan tidak ridla pada perbuatan buruk.


Bait ketujuh dan delapan, menceritakan tentang ketinggian Allah yang tiada dapat diibaratkan. Allah tidak pernah berpisah dari Sifat-Nya, kekal selama-lamanya. Allah berfirman, “Kulla yaumin huwa fi sya’n, (55:29) yang artinya Allah senantiasa sibuk. Ia memberi bekas pada segala kejadian, memberi wujud pada sekalian alam, siang dan malam, tiada berhenti, senantiasa dan selama-lama. 


Bait kesembilan dan sepuluh menganalogikan Tuhan sebagai bahr al-amiq (laut yang dalam), tiada berhingga dan berkesudahan. Kuhni Dzat-Nya tiada dapat dideskripsikan sebagaimana ucapan Nabi, “Maha Suci Engkau, yang tiada dapat kami kenal dengan sebenar-benar kenal.” Ombak timbul tenggelam dalam pandangan, tapi dalam hakikatnya ia adalah tanda keabadian yang tiada bercerai dengan laut. Allah Swt. tiada bercerai dengan alam, tapi ia tiada di dalam dan tiada di luar alam. Dia tiada di atas, tiada di bawah, tiada di kiri, tiada dikanan, tiada di depan dan tiada di belakang. Dia tidak bercerai dan Dia tidak bertemu; Dia tidak dekat dan tidak pula jauh. Dengan kata lain, ombak dan laut keduanya terjalin, dari dalam laut ombak timbul, dan ke dalam laut ombak tenggelam. Dari dalam laut ombak datang dan ke dalam laut ombak kembali.


Bait kesebelas sampai empatbelas menjelaskan mengenai orang yang telah makrifat(tahu akan wujud) dan syuhud. Menurut Hamzah, orang yang telah mendapatkan “Wujud” akan menyaksikan keberadaan Allah dalam segala keadaan. Batinnya tidak terkait kepada apapun dan hanya terpaut kepada Allah semata. Orang yang demikian, telah fana dan mati rasa. Dan dalam keadaan fana, jangankan untuk mengingat diri, mengingat tuhanpun ia tidak mampu. Dia lenyap ke dalam Tuhannya, dan kesadaran ketuhananpun lenyap dari dirinya. Ibarat mutu (emas yang sudah menjadi perhiasan) yang lenyap di dalam emas, maka ia tidak lagi mengetahui, apakah ia emas atau mutu? Apakah ia seorang hamba atau Tuhan???


Terakhir, bait kelima belas Hamzah menganalogikan dirinya sebagai yang dlaif tapi tidak terpisah dari Dzat al-Sharif (Tuhan). Walaupun tubuhnya terlihat keras (seperti buih) karena asalnya air maka hakikatnya lembut juga (air). Seperti buih yang senantiasa terpaut (washil) dengan laut; Hamzah pun senantiasa terpaut dengan Tuhannya.


Penulis: Ramli Cibro (Dosen Jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam Prodi Pengembangan Masyarakat Islam STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh)

Editor: Khoirum Millatin

Published 1 day ago on 09/08/2023 By JATMAN Online

Selasa, 08 Agustus 2023

Mahabbah, Menempuh Jalan Menuju Allah


 Istilah mahabbah secara bahasa berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yang berarti mencintai secara mendalam, khususnya kepada Allah. Jika umat Islam mencari mahabbah atau cinta murni ini, kemudian mencapainya ia akan dimuliakan Allah.

Syekh  Abdurrahman bin Muhammad Al-Anshari Ad-Dabbaq dalam kitab Masyriq Anwaar Al-Qulub wa Mafatih Asrar Al-Ghuyb menjelaskan,

“Sesungguhnya mahabbah (cinta) tidak dapat diungkapkan hakikatnya kecuali oleh orang yang merasakannya. Barangsiapa merasakannya, maka cinta itu akan menguasai pikirannya dan dapat membuatnya lupa akan apa yang sedang dia alami. Dan ini merupakan perkara yang tidak dapat diungkapkan.”

Perumpamaannya adalah seperti orang yang Şakar (mabuk berat). Jika dia ditanya tentang hakikat mabuk yang dialaminya, maka dia tidak akan dapat mengungkapkannya dalam ahwal ( keadaan) seperti itu. Sebab mabuknya telah menguasai akalnya. Adapun perbedaan antara dua jenis mabuk ini adalah bahwa mabuk yang disebabkan oleh minuman keras merupakan suatu hal yang insidential dan bisa dihilangkan. Orang yang mabuk bisa menjelaskan keadaannya ketika dia sudah sadar. Sementara mahabbah (mabuk cinta) merupakan sesuatu yang esensial dan tidak dapat dielakkan. Orang yang mengalaminya tidak mungkin sadar darinya, sehingga dia tidak dapat menjelaskan hakikatnya. Seorang sufi bersyair,

Orang yang mabuk karena khamar akan sadar

Dan orang mabuk karena cinta akan mabuk selamanya.

Imam Al-Qusyairi dalam Risalah Al-Qusyairiyah menjelaskan, 

“Cinta Allah (mahabbatullah) kepada hamba adalah pujian Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, dan Allah memuji dengan Sifat Jamal (Keindahan) Nya. Makna cinta Allah kepada hamba menurut pandangan ini yaitu kembali kepada Kalam-Nya, dan Kalam-Nya adalah Qadiim.”

Cinta-Nya kepada si hamba termasuk dari af’al (Perbuatan-Nya) sebagai Tajalli Ihsan-Nya, di mana Allah menemui hamba-Nya sekaligus Ihwal Ruhani khusus, di mana si hamba menaiki maqamatnya. Sebagaimana ungkapan ulama sufi, ‘Rahmat-Nya kepada si hamba adalah menyertai Nikmat-Nya’. Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya. Dan barangsiapa tidak mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun tidak mencintai pertemuan dengannya’ (HR. Bukhari dan Muslim).

Maqam mahabbatullah merupakan fase tertinggi dan menjadi tujuan bagi tasawuf. Dalam salah satu doa dari amalan Thariqoh Naqsyabandiyah mendawamkan,

الهي أنت مقصودى ورضاك مطلوبي اعطني محبتك ومعرفتك

“Ya Tuhanku, Engkaulah yang aku maksud dan Ridha-Mu yang aku tuntut. Berikanlah kepadaku rasa cinta kepada-Mu dan juga mengenal-Mu.”

Untuk mendapatkan cinta mendalam kepada Allah bukan perkara yang mudah. Untuk itu seseorang harus dapat menghilangkan secara mutlak segala sesuai yang dibenci oleh kekasinya. Syekh Sayyidi Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitab Sirrul Al-Asrar menerangkan,

“Cinta kepada Allah (Mahabbatullah) tidak akan diperoleh kecuali engkau menjungkalkan hawa nafsu yang ada dalam dirimu, berupa nafsu ammarah, nafsu lawwamah dan nafsu mulhamah. Kemudian engkau bersih wujud dirimu dari akhlak binatang jinak (bahimiyah) seperti suka banyak makan, banyak minum, banyak tidur dan berhura-hura. Engkau juga harus membersihkan wujud dirimu dari sifat-sifat binatang buas (sabu’iyyah) seperti marah, mencaci, memukul dan membentak. Dan engkau juga harus membersihkan wujud dirimu dari sifat-sifat setan (syaitaniyyah) seperti ujub, sombong, membanggakan diri, dengki, dendam dan yang lainnya yang mampu merusak tubuh dan hati.”

Jika engkau telah bersih dari sifat-sifat dan akhlak buruk itu, berarti engkau sudah bersih dan suci dari pangkal dosa, dan engkau termasuk golongan orang-orang yang bersuci dan bertaubat. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Qs. Al-Baqarah: 222).

Untuk mendapatkan cinta mendalam dari Allah yang hakiki perlu melewati berbagai ujian dan pengorbanan.

Syekh Sayyidi Abdul Qadir Al-Jilani dalam Futuh Al-Ghaib kembali menjelaskan,

“Allah menguji hamba-Nya yang beriman sesuai dengan kadar imannya. Semakin kuat keimanan seseorang, semakin besar pula cobaannya. Cobaan yang dihadapi para rasul lebih besar dari pada seorang nabi, karena iman rasul lebih tinggi dari pada iman seorang nabi. Cobaan yang dihadapi seorang nabi lebih besar daripada cobaan seorang khalifah. Cobaan seorang khalifah lebih besar daripada cobaan seorang wali. Setiap orang diuji sesuai tingkat keimanannya dan keyakinannya.”

Tentang ini Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya kami para nabi, adalah manusia yang paling banyak diuji. Kemudian di bawah mereka adalah orang yang lebih rendah kedudukannya dan seterusnya.” (Hr. Bukhari).

Karena itulah Allah terus menguji para pemimpin yang mulia ini agar mereka selalu berada di sisi-Nya tanpa lengah sedikitpun. Allah Ta’ala mencintai mereka, dan mereka dipenuhi cinta kepada-Nya. Seorang pecinta (muhibbin) tidak akan pernah menjauh dari ke kasih yang dicintainya, meskipun segunung ujian sudah siap di depan mata.


Editor: Khoirum Millatin

Published 3 weeks ago on 15/07/2023 By Budi Handoyo